Breaking News:

Salam

Pikiran-pikiran Menangkal Radikalisme di Dunia Maya

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Rusdi Hartono menyebutkan, penyebaran paham radikal saat ini

Editor: bakri
Divisi Humas Polri
Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono 

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Rusdi Hartono menyebutkan, penyebaran paham radikal saat ini banyak terjadi melalui media sosial dan internet. Salah seorang angkatan millenial yang terpapar radikalieme melalui media itu adalah Zakiah Aini, perempuan yang tewas ketika menyerang Mabes Polri pekan lalu. Oleh sebab itulah, masyarakat diingatkan agar pintar memilah-milah  konten di dunia maya.

Pengguna internet di Indonesia saat ini sangat besar, mencapai 73,3 persen dari populasi. Jumlah ini setara dengan 202 juta penduduk. Jika masyarakat tak selektif terhadap informasi, dikhawatirkan akan terjerumus pada konten‑konten yang menyesatkan. Makanya, masyarakat harus bisa memilih dan memilah konten‑konten mana itu yang benar, konten‑konten mana yang menyesatkan.

Untuk mewujudkan hal itu, yang menjadi tantangan adalah menciptakan ekosistem internet yang dipenuhi informasi resmi dan terpercaya. Terkait hal ini, pemerintah melalui Polri membentuk polisi virtual yang bertujuan mengedukasi dan mengingatkan masyarakat agar tidak menjadi korban maupun pelaku kejahatan informasi.

Sejek belasan tahun lalu, banyak pengamat dan peneliti sudah mengungkap tentang radikalisme yang menyebar secara mudah melalui internet dan media sosial. Dan, yang paling dikhawatirkan adalah kalangan millenial, salah satu kelompok yang rentan terpapar paham tersebut.

Tidak mudah pula bagi pemerintah untuk mencegah dan menangkal berkembangnya konten-konten paham radikal di internet. Sebab, kelompok seperti ISIS juga menggunakan media sosial yang terenkripsi agar tidak mudah dideteksi aparat. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk menjaga kalangan millenial agar tidak terpapar paham ini. Namun, cara memberi pehamanan, misalnya Pancasila, tidak bisa dengan doktrin lama. “Butuh perlakuan khusus agar milenial bisa menerimanya.”

Pengajar Kajian Strategis dan Global Universitas Indonesia (UI) Puspitasari mengatakan kelompok radikal memakai propaganda, maka untuk menangkalnya  perlu juga pakai prinsip kontra propaganda. Kampanye dikemas secara tajam, pendek‑pendek, lugas, dan membidik aspek emosi. "Propaganda berbeda dengan retorika yang panjang dan dikemas indah, anggun, elegan. Propaganda justru harus dikemas dengan bahasa yang tajam, pendek, lugas, dan mengeksploitasi prasangka."

Dia mengungkapkan, kelompok radikal membingkai pesan dengan model propaganda. Akibatnya, doktrin yang disampaikan lebih tertanam, cepat dan mudah. "Orang muda ditantang menyuarakan keresahan, kegelisahan, ketidaksetujuan pada segala bentuk kekerasan, intoleransi, demi menjunjung keadaban bangsa. Caranya dengan lakukan propaganda," tutup Puspita.

Prof Bilver Singh, guru besar  pada Department of International Relations, National University of Singapore (NUS) pun pernah mengatakan, radikalisme yang terjadi di masyarakat saat ini semakin terbuka, bahkan sudah semakin mudah tersebar. Mudahnya paham radikalisme tersebut menyebar rupanya bukan hanya karena adanya faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Namun juga karena pengaruh dari perkembangan dunia internet, paham tersebut semakin mudah tersebar di dunia, termasuk ke negara‑negara Asean. Paham radikalisme yang menyebar dengan mudah hingga ke negara‑negara Asean tersebut dikhawatirkan sangat mengganggu negara-negara di Asia Tenggara ini.

Oleh karena itu, sama seperti harapan banyak kalangan, profesor itu pun meminta agar masyarakat dunia tidak hanya berdiam diri dan pasrah dengan permasalahan radikalisme ini. Prof Bilver menyebut penyebaran paham radikalisme tersebut sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi dan dilihat secara kritis. Karena masuknya radikalisme itu bukan hanya berkaitan dengan agama, atau khususnya Islam, melainkan juga berhubungan dengan politik dan ekonomi dalam suatu negara. “Oleh karena itu, butuh adanya pengaruh kebudayaan untuk menangani penyebaran radikalisme ini. Revolusi yang dilakukan dengan pendekatan kebudayaan, diharapkan mampu menekan penyebaran radikalisme.”

Pemerintah, Polri, dan TNI sejak lama pula sudah mengingatkan bahwa tugas memerangi radikalisme di kalangan milenial adalah keharusan bersama. Karenanya, organisasi masyarakat, akademisi, tokoh agama, dan lainnya juga memiliki peran untuk itu. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved