Breaking News:

Kupi Beungoh

Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Kasab Meulaboh, Ibunda, dan Ikon Etnis (III)

Kehidupan Pirous kecil bagaimanapun tetap dibayangi oleh ayahnya yang reformis, modern, kosmopolit, namun sangat kaku dalam melihat seni.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021. 

Dalam proses kreatif kasab Hamidah kemudian, dapatlah dibayangkan tentang ketelitian, imajinasi, dan presisi, yang semuanya terikat dengan keindahan dan cita rasa.

Dalam masa-masa itu Pirous diminta ibunya untuk menyiapkan pola, merenggangkan kain, dan mencampur tinta, dan menyiapkan vernis (George 2012).

Hari ini, ketika umur Pirous sudah mencapai 88 tahun ia masih ingat dan masih mampu menerangkan proses pembuatan kasab tradisional dengan baik dan runtut, bahkan mungkin lebih baik dari maestro kasab Meulaboh kontemporer.

Kehebatan Pirous dalam karir seni karir di kemudian hari mungkin sangat relevan dengan penjelasan Malcolm Cladwell  (2010) tentang 10 teori pribadi-pribadi sukses.

Salah satu teori yang sangat relevan adalah pengalaman 10.000 jam pertama setelah kelahiran, seperti apa yang dialami oleh Pirous dari ibunya, sampai ia berusia 18 tahun sebelum berangkat ke Medan.

Baca juga: Video - Aneka Oleh-Oleh Aceh Singkil Produksi Perajin, Kaligrafi Kain Kasab Kental Nuansa Etnik

Baca juga: Sekilas Tentang Kain Kasab

Penghormatan Pada Ibunda

Bagi Pirous, ibunya adalah ingatan yang tak pernah habis tentang segala sesuatu mulai dari kasih sayang, sandaran, dan profesor pertamanya dalam seni rupa.

Ibunya telah menanamkan seni kepada Pirous tidak hanya dalam bentuk pengajaran dan latihan, akan tetapi sudah mengkristal menjadi kepribadian seni yang solid dan utuh yang akan dibawa sepanjang hidupnya.

Pengakuan, kecintaan dan remembrance Pirous kepada ibunya dituangkan dalam sebuah kanvas dengan judul “Surah Al-Isra II: Penghormatan pada Ibunda”.

Lukisan itu  menegaskan “the origin” of AD Pirous dengan tiga keping bukti  yang semuanya terkait dengan ibunya.

Ketiga keping itu adalah Alquran, cerita, dan kasab yang semua itu adalah milik ibunya yang diwarisi kepada Pirous.

Karya itu tidak lain dari gambaran destiny, takdir Pirous sejak kecil, tumbuh, berkembang, hingga menjadi sosok pribadi senirupa kaligrafi yang mumpuni.

Kanvas penghormatan untuk Ibu itu menjelaskan tentang masa kecil Pirous yang dalam asuhan ibu yang disirami dengan Alquran, dan penuturan berbagai cerita.

Cerita yang yang dipajang dalam karya itu adalah tentang perjalanan rasul ke Sidratul Muntaha via Jerussalem untuk bertemu dengan sang Khalik, pemilik alam semesta.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved