Breaking News:

Opini

Perlunya Polisi Memahami Masyarakat

Serambi kemudian memberitakan kunjungan itu dengan judul "Kapolda Aceh Minta Anggotanya Terapkan Pendekatan Humanis dengan Masyarakat

Perlunya Polisi Memahami Masyarakat
Saifuddin Bantasyam,  Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Oleh Saifuddin Bantasyam,  Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Suatu hari pada minggu ke-2 Juni 2020 Kapolda Aceh Irjen Pol Wahyu Widada berkunjung ke kantor Harian Serambi Indonesia. Serambi kemudian memberitakan kunjungan itu dengan judul "Kapolda Aceh Minta Anggotanya Terapkan Pendekatan Humanis dengan Masyarakat." Dengan pendekatan demikian, Kapolda berharap polisi lancar dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dan citra polisi akan baik. Kapolda berharap ada sentuhan hati yang dilakukan oleh polisi sehingga orang-orang yang berbuat kesalahan sadar akan kesalahannya.

Lalu dalam kaitannya dengan larangan mudik Idulfitri tahun ini, Kapolri memberi instruksi agar polisi bertindak tegas namun humanis. Dalam pandangan saya, pendekatan yang humanis tidak mungkin muncul atau dilakukan begitu saja, semudah membalik telapak tangan. Polisi harus memiliki modal tertentu. Salah satunya adalah dalam bentuk seberapa jauh sebenarnya polisi mengenal masyarakat. Demikian juga dalam konteks Perpolisian Masyarakat (Polmas). Sebagai sebuah strategi, Polmas ini akan optimal jika anggota kepolisian mampu membina relasi yang baik dengan warga masyarakat.

Pembinaan relasi yang baik itu hanya mungkin dilakukan jika polisi mengenal masyarakat di wilayah di mana polisi itu bertugas.  Pengenalan itu menjadi semakin penting mengingat bahwa anggota polisi kadang kala dipindahtugaskan ke tempat lain baik yang berada di dalam satu provinsi maupun ke provinsi lain di Indonesia.

Saya teringat kepada sebuah momen tahun 2002 saat Kapolda Aceh Bahrumsyah Kasman mengundang saya ke Mapolda Aceh di Jalan Cut Meutia Banda Aceh untuk berbicara mengenai Sosioantropologi Orang Aceh (demikian kira-kira judul yang diberikan kepada saya). Saya berpikir bahwa saya hanya bicara di depan polisi yang bertugas di Mapolda saja. Ternyata, peserta presentasi saya itu adalah 80 anggota brimob yang baru datang dari Jakarta dan akan segera ditugaskan ke beberapa daerah di Aceh dalam rangka menjaga dan memulihkan situasi keamanan di Aceh.

Saat itu saya antara lain menyampaikan prinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung mungkin menjadi sangat relevan. Prinsip ini menekankan tentang perlunya polisi belajar tentang budaya, tradisi, adat, kepercayaan, dan filsafat hidup, di lingkungan di mana polisi bertempat tinggal dan bekerja. Polisi pun bisa mencari tahu siapa tokoh-tokoh yang berpengaruh di wilayah tersebut, yang sering disebut dengan influencer. Semua ini bertujuan memperlancar tugas-tugas kepolisian. Melalui influencer misalnya, polisi dapat mengajak serta masyarakat membantu kepolisian untuk sama-sama menegakkan hukum di dalam masyarakat.

Intinya, mengenali masyarakat itu penting dan perlu. Kadang yang terlihat tak sedemikian faktanya, terlebih masyarakat juga melakukan komunikasi dalam bentuk komunikasi simbolik. Dalam masyarakat selalu ada, dan selalu dimungkinkan adanya, apa yang

disebut dengan "double reality." Menurut Soetandyo Wignjosoebroto (dalam J Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, 2007), di satu pihak ada sistem faktas yaitu sistem yang tersusun atas segala apa yang senyatanya di dalam kenyataan ada, dan di pihak lain ada sistem normatif, yaitu sistem yang berada di dalam mental yang membayangkan segala apa yang seharusnya ada.

Sistem faktas dan sistem normatif tersebut sesungguhnya bukan dua realitas yang identik. Namun, kata Soetandyo, meskipun tidak identik, kedua realitas itu pun sama sekali tidak saling berpisahan. Antara keduanya ada pertalian yang erat; secara timbali balik, yang satu sangat memengaruhi yang lain.

Sampai di sini kita bisa melihat bahwa mengenali masyarakat itu tak sekadar melihat aktivitas kehidupan mereka sehari-hari, melainkan harus lebih dari itu, menyelami sesuatu yang bersifat laten, yang tertanam dalam nilai-nilai kehidupan mereka. Saya merasa, saat Kapolda Aceh Bahrumsyah dulu meminta saya bicara di depan anggota brimob, merupakan bagian dari upaya memberi kesempatan bagi anggota brimob tersebut untuk mengenali masyarakat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved