Breaking News:

Salam

Selamat Idul Fitri 1442 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Hari ini bulan puasa mencapai ujung, yakni 30 Ramadhan 1442 H. Artinya, Insya Allah besok kita akan menyambut hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1442 H

FOTO IST
Keluarga Besar Serambi Indonesia 

Hari ini bulan puasa mencapai ujung, yakni 30 Ramadhan 1442 H. Artinya, Insya Allah besok kita akan menyambut hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1442 H. Dua tahun sudah kita menjalankan ibadah puasa, yang selain menahan rasa lapar dan dahaga juga harus menahan diri untuk tidak beraktivitas dan beribadah secara bebas di luar. Itu semua karena kita harus mematuhi protokol kesehatan terkait pendemi Covid-19 yang sudah menelan banyak nyawa.

Sama dengan tahun lalu, kali ini pun kita dianjurkan menyambut Idul Fitri dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan. Karenanya, selain melarang mudik, pemerintah Pusat maupun daerah sudah menerbitkan edaran dilarang melaksanakan takbiran keliling serta jika pun tetap melaksanakan shalat Ied di rumah, seperti di lapangan dan masjid, maka harus dijalankan dengan memedomani protokol kesehatan.

Sekadar mengingatkan, ketika besok kita merayakan Idul Fitri, maka pada saat bersamaan ruang-ruang rawatan khusus di sejumlah rumah sakit sedang dipenuhi pasien korban infeksi virus Corona. Mereka bernapas tersengal-sengal sendirian tanpa boleh dijenguk. Sedih sekali bernasib seperti itu di tengah suasana yang mestinya membuat kita semua bersuka cita setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. 

Dalam konteks tradisi masyarakat, Idul Fitri merupakan hari yang sangat penting. Dimulai dengan malam takbiran, lalu Shalat Ied, memakai baju baru, dan bersilaturrahmi ke keluarga dan kerabat, adalah tradisi yang sulit kita tinggalkan. Karenanya, ketika dilarang mudik, lalu diimbau tidak takbiran, dan juga membatasi shalat Ied, membuat Idul Fitri seperti kehilangan rohnya.

Namun, itu tak boleh membuat kita harus terluka. Toh, jangan kan itu, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi pun secara tegas menutup pintu bagi pelaksanaan ibadah haji yang merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mampu. Dan, kita berharap musim haji ini bisa dibuka setelah tahun lalu ditiadakan.

Para ulama mengatakan, Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri, yaitu manusia yang bertakwa. Konsep Idul Fitri (kembali ke kesejatian) juga berkaitan erat dengan self-controlling (menahan diri) dari perbuatan yang tercela dan merugikan orang lain seperti memaksakan diri untuk mudik, padahal sudah tahu dampaknya bisa sangat membahayakan keluarga dan kerabat di kampung halamannya.

Kita semua merasakan bahwa perayaan Idul Fitri dalam dua tahun terakhir sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin yang sebelumnya kita merayakan Lebaran dengan berpakaian baru, dengan hidangan yang serbaenak, akan tetapi pada Idul Fitri lalu dan kali ini kita dianjurkan untuk merayakannya secara sederhana dan hanya dengan keluarga yang serumah.

Padahal, kita tahu, dalam tradisi Islam, silaturahmi lebaran merupakan hal penting. Aktivitas budaya ini menekankan saling terbukanya hati dan pikiran atas khilaf dan salah orang lain. Artinya, masing-masing individu dituntut memberikan maaf seluas-luasnya kepada sanak saudara, teman-teman, dan semua orang yang pernah berinteraksi langsung atau tidak.

Perayaan lebaran dengan bertemu langsung kawan lama dan saudara yang jauh merantau memiliki makna besar secara sosial. Di sinilah, seolah bobot lebaran menjadi sangat tinggi. Apalagi dibumbui dengan rangkaian tradisi yang sangat kental, seperti karnaval, ceremoni lebaran seperti halal bi halal, reuni sekolah dan perguruan tinggi, serta lainnya dengan segala keunikan tradisi. Semua itu seakan mengurangi nilai sosialnya saat kita harus menjaga jarak dengan tanpa sentuhan raga. Namun demikian, bukan berarti ketiadaan personal touch serta merta menghilangkan spirit budaya lebaran. Toh, sebagaimana ditegaskan tadi, bahwa konsep dasar dari perayaan lebaran adalah ketika kita mampu memberi maaf kepada sesama.

Lebaran Idul Fitri sesungguhnya adalah momen kemenangan batin setelah berpuasa sebulan penuh. Kemenangan sejatinya bertempat di hati, bukan di permukaan ekspresi sosial. Takbir keliling adalah bagian dari ekspresi kegembiraan. Namun, tidak serta merta itu cerminan dari kesyukuran. Karena banyak orang hanya ingin gebyar yang melibatkan emosi keagamaan. “Dengan tiadanya takbir massal melalui festival budaya dan emosi keagamaan, mungkin Tuhan hanya ingin disapa dalam sunyi. Ungkapan takbir, tahlil, dan tahmid yang biasanya menggelegar di ruang-ruang publik kali lebih banyak disampaikan melalui bilik-bilik kecil atau sudut-sudut kamar di dalam rumah,” kata seorang cendikiawan muslim.

Akhirnya, mari sama-sama kita mengucapkan “Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1442 H, mohon maaf lahir dan batin”.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved