Breaking News:

Salam

Shalat Gaib dan Doa untuk Rakyat Palestina

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh menyerukan masyarakat melaksanakan shalat gaib untuk warga Palestina yang syahid

AFP/EMMANUEL DUNAND
Tentara Israel melepaskan tembakan artileri ke Jalur Gaza dari posisi mereka di sepanjang perbatasan dengan Palestina, Senin (17/5/2021) malam. 

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh menyerukan masyarakat melaksanakan shalat gaib untuk warga Palestina yang syahid akibat gempuran zionis Israel yang terus meningkat dan belum ada tanda-tanda reda. Seratusan lebih warga Palestina syahid dalam bombardir yang dilancarkan tentera Israel dalam tiga hari terakhir. Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban dari pertempuran itu telah meningkat menjadi 119 orang tewas, termasuk 31 anak-anak dan 19 wanita, dengan 830 luka-luka.

"Sangat perlu melaksanakan shalat gaib. MPU Aceh mengajak masyarakat muslim di manapun khususnya Aceh untuk melakukan shalat ghaib kepada muslim Palestina yang wafat," kata Plt Ketua MPU Aceh, Tgk H Faisal Ali. "Kami minta untuk membaca qunut nazilah agar umat muslim khususnya di Palestina dijauhkan dari bala kejahatan Yahudi. Dan, mari kita berdoa secara khusyuk serta mari membantu apa yang bisa kita lakukan untuk muslim Palestina. Doa adalah senjata paling bagi umat muslim."

Itu merupakan seruan MPU yang kedua dalam dua pekan terakhir. Menjelang akhir Ramadhan kemarin, MPU Aceh juga sudah menyerukan kita semua untuk berdoa serta menyalurkan bantuan bagi muslim Palestina yang belakangan ini terus mendapat serangan brutal dari tentara Yahudi. Saudara-saudara muslim kita yang sedang melaksanakan ibadah di dalam Masjidil Aqsa juga mengalami kekerasan dari tentara Israel.

Penderitaan warga Palestina sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun, saat Israel mulai mengokupasi tanah Palestina. Pada tahun 1917 hingga 1939 baru 3 persen wilayah yang dikuasai Yahudi. Saat itu Inggris memfasilitasi Yahudi dari Eropa untuk pindah ke Palestina pada 1920 an hingga 1930an. Yahudi terus membanjiri Palestina sehingga yang sebelum hanya 3 persen menjadi 33 persen dari warga Palestina pada tahun 1947. Hingga pada 14 Mei 1948 negara Israel dideklarasikan. Tentara Israel mengusir sekitar 750 ribu penduduk Palestina dan pada 1949, Israel menjadi anggota PBB. Israel terus mengokupasi Palestina. Laporan pelanggaran HAM Israel seperti ditelan bumi. Ketegangan antara Israel dan Palestina pun berbuntut pada perang yang tentu menghancurkan kehidupan penduduk sipil. PBB sebagai organisasi internasional dan dunia internasional seakan “buta” dengan kekejaman zionis Israel tersebut.

Kelompok Yahudi Ortodoks yang dinilai pro Palestina mengatakan, pemerintah Zionis Israel membutuhkan perang melawan Palestina untuk membuat mereka tetap eksis. Makanya, “Israel sengaja memicu konflik di Yerusalem Timur, dengan harapan akan ada serangan lanjutan terhadap mereka. Ini dilakukan untuk mencari pembenaran atas keputusan mereka melancarkan perang terhadap Palestina.”

Pola semacam ini sudah digunakan Israel selama kurang lebih 70 tahun terakhir. "Sayangnya, apa yang kita lihat dalam dekade ini adalah bahwa gerakan Zionis Israel membutuhkan serangan terhadap mereka, untuk membenarkan perang mereka terhadap rakyat Palestina," kata sebuah laporan organisasi kemanusiaan internasional.

Ramzy Baroud, pengamata timur tengah mengatakan, “Membunuh, memperkosa dan memenjarakan seumur hidup adalah fitur yang menyertai negara Israel sejak awal. Warisan kekerasan ini terus mendefinisikan Israel sampai hari ini, melalui penggunaan apa yang sejarawan Israel Ilan Pappe sebut sebagai ‘genosida inkremental.’ Kekerasan dan pembunuhan terhadap orang-orang Palestina adalah sebuah misi turun-temurun yang diwariskan para pemimpin Israel.”

Pola pikir yang kejam dan mengerikan ini, bagaimanapun, bukanlah hal baru. Ini adalah perpanjangan dari sistem kepercayaan lama yang mengakar yang didasarkan pada sejarah panjang kekerasan.

Maka, ketika PBB dan kekuatan politik dunia tak mampu menghentikan kekejaman zionis Israel, marilah kita semua berdoa serta melaksanakan shalat gaib yang Insya Allah bisa mengakhiri penderitaan panjang rakyat Palestina. Aamiin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved