Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kenikmatan ‘Asam Jing’, Makanan Khas Gayo

PADA Lebaran Idulfitri beberapa hari lalu, saya sekeluarga memutuskan untuk merayakan penuh kemenangan itu di Takengon, Aceh Tengah, kampung halaman

Kenikmatan ‘Asam Jing’, Makanan Khas Gayo
IST
INTAN MAKFIRAH,  Mahasiswi FKIP Bahasa Indonesia dan Anggota UKM Jurnalistik Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH INTAN MAKFIRAH,  Mahasiswi FKIP Bahasa Indonesia dan Anggota UKM Jurnalistik Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

PADA Lebaran Idulfitri beberapa hari lalu, saya sekeluarga memutuskan untuk merayakan penuh kemenangan itu di Takengon, Aceh Tengah, kampung halaman ibu saya. Kami berangkat menuju Takengon beberapa hari sebelum Lebaran tiba, dengan niat membantu nenek untuk berkemas dan membersihkan rumah demi menyambut hari yang fitri.

Perjalanan dari Banda Aceh ke Aceh Tengah memakan waktu yang tidak sedikit. Dengan naik mobil, kami sekeluarga meluncur ke Dataran Tinggi Gayo. Keindahan panorama alam kota dingin ini memang tiada tara, mata saya selalu saja terpana tiap kali menginjakkan kaki ke sana.

Setelah menempuh sekitar delapan jam perjalanan, kami pun tiba di Kampung Bale, salah satu desa di Takengon. Saat tiba, hari sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB, kami disambut oleh nenek, Ama, dan sepupu-sepupu saya. Ama adalah panggilan untuk ayah dalam bahasa Gayo, tetapi kami juga memanggil abang dari ibuku dengan sebutan ini. Setelah sejenak bersih-bersih dan berbincang, saya segera menuju kamar untuk tidur.

Udara yang sangat sejuk membuat saya menarik selimut yang sangat tebal dan mulai beristirahat. Seperti niat awal, kami membantu nenek bersih-bersih rumah. Kami juga menyiapkan berbagai makanan khas Lebaran yang nantinya akan dinikmati bersama. Setelah beberapa hari berlalu. akhirnya tibalah hari nan fitri. Semua terlihat sangat bahagia dan bersukacita menyambut hari kemenangan ini.

Setelah mandi, kami memakai baju baru dan mukena untuk segera menuju ke lapangan luas tempat pelaksanaan shalat Id. Takbir berkumandang, sepanjang jalan terlihat orangorang muslim memakai mukena, ada pula yang berbaju koko dan menggunakan sarung. Semuanya menuju tempat yang sama. Usai shalat Id, seluruh keluarga besar dari ibu saya berkumpul di rumah nenek. Kami mulai sungkem dan memohon maaf, lalu dilanjutkan dengan makan lontong bersama. Kopi Gayo juga tak ketinggalan dihidangkan, aromanya menyeruak memenuhi dapur.

Semua terlihat sangat bahagia. Keesokkan harinya, saat hari raya kedua, para abang sepupu saya pergi membeli ikan mujahir, tidak sedikit, mereka membeli sampai berbaskom- baskom. Hal ini memang rutin kami lakukan setiap kumpul keluarga, membeli ikan dalam jumlah banyak, lalu memasaknya bersamasama dan selanjutnya dinikmati bersama. Ikan mujahir yang besarbesar itu lalu mereka bersihkan. Para ibu dan anak gadis menyiapkan bumbu untuk memasaknya.

Siang itu kami memasak asam jing, makanan khas Gayo yang sangat nikmat untuk disantap, terlebih saat bersama-sama. Bumbunya sangat sederhana, bahkan mudah didapat, yakni terdiri atas cabai rawit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, belimbing wuluh, kunyit, dan daun jeruk. Bahan tersebut kemudian dihaluskan dan dimasak bersama ikan mujahir tadi. Selagi ibu-ibu menyiapkan bumbu, saya dan kakak sepupu menyiapkan berbagai peralatan makan. Semua berbaur dan bercengkerama ria sambil mengerjakan pekerjaan masing-masing. Sesekali terdengar suara tawa atau suara para keponakanku yang sibuk bermain ke sana kemari.

Abang-abang saya masih dengan kesibukannya, membersihkan ikan yang sangat banyak itu. Saya dan kakak sepupu sesekali mengganggu pekerjaan mereka, lalu berlalu pergi saat sudah merasa jenuh. Usai ikan dibersihkan, mereka menyiapkan kayu bakar dan wajan yang sangat besar. Kegiatan ini dilakukan di belakang rumah Pak Kul, sebutan untuk abang pertama ibu saya.

Ya, kami tidak memasak di rumah nenek, karena halaman Pak Kul jauh lebih luas dan menyajikan pemandangan indah Danau Lut Tawar, Danau terbesar di Aceh ini terlihat jelas dari halaman belakang rumahnya. Kami mengambil bumbu yang telah disiapkan dan mulai mencampurnya dengan ikan, lalu memasaknya di atas api yang membara. Tak lupa air juga dimasukkan sebagai kuah untuk masakan ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved