Kamis, 4 Juni 2026

Mata Uang Digital

Iran Larang Penambangan Bitcoin, Teheran dan Sejumlah Kota Besar Alami Pemadaman Listrik

Presiden Hassan Rouhani mengatakan pabrik penambangan bitcoin tanpa izin telah menyebabkan terjadinya krisis listrik di negara itu.

Tayang:
Editor: Zaenal
Facebook LẮP ĐẶT PHÒNG NET - Tin Học Ngôi Sao
Penampakan sebuah warung internet di Vietnam yang merugi karena hantaman Covid-19, diubah menjadi tambang mata uang kripto (cyrptocurrency). Foto dipublish di Facebook milik toko komputer LẮP ĐẶT PHÒNG NET - Tin Học Ngôi Sao pada 9 Februari 2021. 

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Iran telah menerapkan larangan penambangan mata uang kripto (cryptocurrency) seperti Bitcoin.

Larangan penambangan uang digital ini diberlakukan di tengah pemadaman listrik yang belum pernah terjadi sebelumnya di kota-kota besar termasuk ibu kota Teheran.

Larangan, yang akan segera berlaku, akan berlangsung hingga 22 September atau hingga empat bulan ke depan, kata pengumuman resmi, dilansir Serambinews.com dari Anadolu Agency, Jumat (28/5/2021).

Presiden Hassan Rouhani mengatakan pabrik penambangan bitcoin tanpa izin telah menyebabkan terjadinya krisis listrik di negara itu.

Menurutnya, penambangan bitcoin ilegal menghabiskan hingga 2.000MW listrik, dibandingkan dengan 300MW yang digunakan oleh operasi bitcoin legal.

Perusahaan listrik milik negara Iran Tavanir mengatakan negara itu hanya memiliki 50 pabrik pertanian bitcoin berlisensi, dengan 85% penambangan dilakukan secara ilegal, yang mengkonsumsi 95MW energi bersubsidi per jam.

Larangan di semua penambangan legal dan ilegal dilakukan di tengah lonjakan permintaan listrik dalam beberapa pekan terakhir, dengan pemadaman listrik tanpa pemberitahuan di beberapa kota yang memengaruhi bisnis dan layanan medis.

Menurut Elliptic, pemimpin global dalam manajemen risiko aset kripto dan analitik blockchain, Iran sekarang menyumbang 4,5% dari penambangan bitcoin dunia, karena operator tertarik oleh daya murah dan cadangan gas alam yang besar.

Listrik yang dibutuhkan untuk operasi penambangan bitcoin mengkonsumsi sekitar 10 juta barel minyak mentah setahun, yang setara dengan 4% dari total ekspor minyak Iran pada tahun 2020, menurut Elliptic.

Baca juga: Dianggap Terlalu Berisiko, Sejumlah Negara Larang Transaksi Kripto

Baca juga: Turki Selidiki Penipuan Mata Uang Kripto, Mencapai Rp 29 Triliun

Baca juga: Dampak Covid-19, Sebanyak 75 Bursa Mata Uang Kripto Dunia Ditutup, Akibat Peretasan Sampai Penipuan

Menghindari Sanksi

Para ahli mengatakan Iran telah menggunakan cryptocurrency sebagai sarana untuk menghindari sanksi yang dijatuhkan oleh Washington atas program nuklirnya, dengan China sebagai investor utama.

Penambangan aset kripto diakui di Iran untuk pertama kalinya pada tahun 2019, setelah itu rezim perizinan ditetapkan untuk mengidentifikasi penambang resmi yang membayar listrik dan menjual bitcoin yang ditambang ke bank sentral Iran.

Ribuan penambangan ilegal telah ditutup dalam dua tahun terakhir.

Pada bulan Januari tahun ini, pabrik penambangan cryptocurrency utama yang dioperasikan bersama oleh orang Iran-Cina ditutup di provinsi tenggara Kerman.

Itu terjadi setelah video viral menunjukkan ribuan mesin bitcoin yang beroperasi di fasilitas di kota Rafsanjan Kerman, menggunakan 175MW listrik dari total 600 MW yang dialokasikan untuk semua pabrik cryptocurrency di negara tersebut.

Baca juga: Perusahaan Pembayaran Kripto Ingin Antarkan Afrika ke Era Digital Baru, Bitcoin Jadi Alat Pembayaran

Baca juga: AS Embargo Iran, Teheran Cari Uang Dengan Tambang Uang Kripto Untuk Atasi Krisis Ekonomi Negaranya

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved