Minggu, 19 April 2026

Konflik Palestina dengan Israel

Sekuritisasi Palestina dan Tekanan Dunia Islam terhadap Israel

Perang 11 hari yang dilancarkan Israel kali ini di luar dugaan memicu pola perang hibridisasi yang masif secara global.

Editor: Taufik Hidayat
AFP/MOHAMMED ABED
Ribuan orang turun ke jalan untuk merayakannya gencatan senjata yang ditengahi oleh Mesir antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, Palestina pada Jumat (21/5/2021) dinihari. 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Dosen Hubungan Internasional Peneliti Pusat Studi Pertahanan dan Perdamaian, Laboratorium Politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ramdhan Muhaimin mengatakan, pidato Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations General Assembly) sungguh sangat menyentuh dan gamblang menunjukkan kekuatan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina.

Retno menyebut yang terjadi di tanah Palestina bukanlah sekadar konflik asimetris, tapi juga penjajahan, pendudukan, dan penindasan kemanusiaan serta pelanggaran berat terhadap hukum internasional oleh Israel.

Kecaman masyarakat internasional juga sangat besar terhadap Israel. Demonstrasi besar-besaran mengutuk Israel terjadi di berbagai negara, bukan hanya di negeri-negeri muslim, tapi bahkan di negara-negara Barat yang sebagian besar notabene pemerintahnya justru merupakan sekutu Israel, seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda.

Bantuan jutaan dollar mengalir dari berbagai komunitas dunia untuk membantu rakyat Palestina. Dari Indonesia saja, dalam satu pekan terkumpul lebih kurang 100 miliar rupiah yang dikumpulkan berbagai lembaga kemanusiaan, organisasi kemasyarakatan, hingga individu public figure.

Di sosial media dan jejaring internet, perang juga tidak kalah hebat. Serangan para hacker negeri muslim, seperti Indonesia, Malaysia, Turki dan Pakistan terhadap website-website Israel juga mematikan.

Perang 11 hari yang dilancarkan Israel kali ini di luar dugaan memicu pola perang hibridisasi yang masif secara global. Bukan hanya soal ‘kegagalan’ iron dome canggih Israel yang ternyata tembus oleh roket-roket lokal Palestina yang berteknologi tanpa sistem kendali.

Semua ini menunjukkan dukungan yang luar biasa bukan hanya dari dunia Islam, tapi komunitas internasional secara umum. Sehingga mampu menekan Israel untuk menyetujui gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir dan Qatar.

Perlu diingat, bahwa Israel yang pertama kali mengumumkan gencatan senjata, bukan Palestina. Lalu bagaimana dunia Islam dan komunitas internasional pasca gencatan senjata ini?

Baca juga: Film Mission: Impossible 7 di Inggris Dihentikan, Kru Positif Covid-19, Tom Cruise Sempat Marah

Baca juga: Sri Mulyani Akan Blokir Debitur dan Obligor BLBI dari Lembaga Keuangan

Baca juga: VIDEO Pengungsi Rohingya di Aceh Timur Divaksin Covid-19, Pemkab Dirikan Tenda Bermalam

Langkah Sekuritisasi

Serangan Israel bukan hal baru. Israel sudah berulang kali melakukan serangan, dan genjatan senjata pun dilakukan setelah serangan-serangan itu.

Artinya, genjatan senjata terbaru pasca serangan 11 hari ini tidak menjamin bahwa tidak akan ada serangan Israel berikutnya yang lebih besar. Apalagi setelah serangan 11 hari, AS menyetujui kesepakatan penjualan senjata terbaru-tercanggihnya kepada Israel untuk menopang sistem Kubah Besi (Iron Dome) yang digunakan Israel.

Setiap kali Israel melakukan unilateral militernya, setiap kali itu pula dunia bergolak, lalu muncul gelombang solidaritas dari berbagai negara.

Kecaman demi kecaman dilontarkan para pemimpin dunia. Pertanyaannya, di mana dunia Islam dalam hal ini Organisasi Kerjasama Islam (Organization of Islamic Cooperation) dan Liga Arab (Arab League)?

Bukankah OKI didirikan pasca kekalahan negeri-negeri Arab dalam Perang Arab-Israel tahun 1967 dan pembakaran masjid Al-Aqsha oleh tentara Israel tahun 1969? Jika OKI yang beranggotakan 57 negara dibentuk sebagai respons atas peristiwa 1969 tersebut, lalu mengapa sejak itu masih terjadi upaya pembakaran ataupun penyerangan atas Masjid al-Aqsha oleh Israel?

Ada beberapa langkah yang seharusnya dilakukan dunia Islam khususnya OKI dan Liga Arab tidak saja sebagai komitmen moral-ideologis terhadap perdamaian, tapi juga sekuritisasi Palestina pasca-gencatan senjata (post-cease fire).

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved