Senin, 27 April 2026

Internasional

Penterjemah Afghanistan Kabur dari Buruan Taliban, Mendarat di Inggris

Penterjemah Afghanistan yang bekerja dengan militer Inggris yang takut serangan balasan dari Taliban telah mendara di Inggris.

Editor: M Nur Pakar
AFP PHOTO
Pasukan Taliban.(AFP PHOTO) 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Penterjemah Afghanistan yang bekerja dengan militer Inggris yang takut serangan balasan dari Taliban telah mendara di Inggris.

Hal itu sebagai bagian dari skema relokasi, kata juru kampanye pada Rabu (23/6/2021).

Aliansi Sulha seorang penerjemah Afghanistan kepada AFP mengatakan kelompok penerjemah pertama mendarat di Birmingham, Inggris tengah, pada Selasa (22/6/2021) malam.

Dia menambahkan memperkirakan para pendatang akan masuk ke karantina Covid-19 selama 14 hari.

Pemerintah menolak mengomentari laporan tentang keberangkatan penerbangan.

Baca juga: Taliban Minta Warga Afghanistan yang Telah Bekerja dengan Pasukan Asing Tidak Perlu Takut

Karena kekhawatiran tentang keselamatan para penerjemah Afghanistan yang direlokasi dan keluarga mereka.

Pada akhir Mei 2021, Inggris mengumumkan mempercepat rencana relokasi staf Afghanistan yang bekerja dengan militer dan keluarga mereka.

Khususnya menjelang rencana penarikan pasukan NATO pimpinan AS dari Afghanistan.

Di bawah skema relokasi untuk mantan dan staf Afghanistan saat ini, lebih dari 1.300 pekerja dan keluarga mereka telah dibawa ke Inggris.

Lebih dari 3.000 warga Afghanistan diperkirakan akan dimukimkan kembali di bawah rencana yang dipercepat, kata pemerintah.

Menteri Dalam Negeri Inggris, Priti Patel mengatakan pemerintah memiliki kewajiban moral untuk merelokasi staf.

Dia mengakui risiko yang mereka hadapi dalam perang melawan terorisme dan menghargai upaya mereka.

Pensiunan Kolonel Simon Diggins, mantan atase Inggris di Kabul dan sekarang menjadi juru kampanye untuk Aliansi Sulha, mengatakan para penerjemah akan menerima dukungan empat bulan.

Baca juga: Sering Menjadi Target Serangan Taiban, Kaum Hazara Afghanistan Bentuk Tentara Sendiri

Setelah itu dia berkata, perjuangan mereka sesungguhnya baru dimulai.

Penerjemah Afghanistan dan staf lokal lainnya yang bekerja dengan Inggris dan anggota NATO lainnya seperti Amerika Serikat, Jerman dan Prancis telah berteriak-teriak.

Mereka minta dipindahkan karena takut akan pembalasan Taliban.

Dalam dua dekade sejak invasi pimpinan AS, puluhan penerjemah Afghanistan telah dibunuh atau disiksa dalam serangan yang ditargetkan oleh kelompok Islam radikal.

Bahkan lebih banyak lagi yang terluka dalam serangan terhadap pasukan asing selama patroli dengan kendaraan lapis baja.

Baca juga: Iran dan Taliban Tuduh AS Mendorong Perang Berkepanjangan di Afghanistan

Para juru kampanye telah mengkritik apa yang mereka katakan sebagai skema relokasi yang membingungkan oleh anggota NATO.

Mereka mengatakan banyak penerjemah akan menjadi korban.

Dikatakan, pihaknya akan berjuang untuk mengevakuasi semua staf yang diperlukan sebelum penarikan aliansi Barat.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved