Varian Delta Mulai Mendominasi, IDI Minta Pemerintah Tutup Pintu Masuk Indonesia

Sebaran varian Delta juga tersebar di beberapa wilayah Indonesia, yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kaltim.

Kompas.com/Screenshot
ILUSTRASI Petugas Covid-19 Jember saat menguburkan jenazah. 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman menyebut saat ini Covid-19 mutasi Delta mulai mendominasi di Indonesia.

Menurut Kepala LBM Eijkman, Amin Soebandrio, hal ini dilihat berdasarkan pengamatan Eijkman dari sampel virus yang telah diisolasi.

"Dari virus yang diisolasi belakangan ini, mulai kelihatan varian delta ini mulai mendominasi," kata Amin, Senin (28/6/2021).

Meski begitu, ia belum dapat memastikan apakah lonjakan kasus positif virus corona di Indonesia memiliki kesinambungan dengan adanya varian baru jenis Delta itu.

Ia menjelaskan, saat ini pasien yang terpapar varian Delta di Indonesia paling banyak berada di DKI Jakarta, dengan total temuan yang terkonfirmasi 96 pasien. Kemudian di Jawa Barat dengan temuan 47 pasien.

Amin menyebut sebaran varian Delta juga tersebar di beberapa wilayah Indonesia, yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Banten.

Baca juga: Wali Kota Subulussalam Terima Penghargaan Manggala Karya Kencana dari BKKBN

Baca juga: Empat Nakes RSU Cut Meutia Aceh Utara Jalani Isolasi Mandiri, Positif Terpapar Covid-19

Baca juga: Jika Mau Dibagi Sama Rata, Setiap Warga Indonesia Harus Menanggung Utang Rp 23 Juta

Dengan total kasus keseluruhan yakni 246 pasien. "Sudah ditemukan semakin banyak sudah mencapai jumlahnya 246. Tersebar paling banyak di Jakarta kemudian di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan beberapa daerah lagi di luar Jawa yakni di Sumsel, Kalteng, Kaltim, Banten, Gorontalo, dan Depok ada 1," ujar Amin.

Disinggung soal adanya mutasi virus Delta Plus di Indonesia, Amin mengatakan sementara ini belum ditemukan mutasi yang dikhawatirkan itu.

"Kalau saya amati sementara di antara delta itu belum ditemukan mutasi yang dikhawatirkan itu," ujarnya.

Meski demikian Eijkman mengklaim saat ini kerap melakukan genom sikuensing pada pasien yang positif tapi sudah pernah divaksinasi, penyintas tapi terinfeksi kembali, pasien dengan gejala Covid-19 tapi testingnya negatif, hingga pasien yang memiliki gejala klinis lain.

Sementara itu terkait makin banyaknya ditemukan sebaran varian Delta di Indonesia, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Slamet Budiarto meminta pemerintah memperketat akses warga dari luar negeri yang hendak masuk ke Indonesia.

Baca juga: Usut Kasus Penghinaan Petugas Satpol PP & WH Kota Banda Aceh, Polisi Mulai Mintai Keterangan 3 Saksi

Baca juga: Usut Kasus Penghinaan Petugas Satpol PP & WH Kota Banda Aceh, Polisi Mulai Mintai Keterangan 3 Saksi

Baca juga: Perjalanan Karir Ayu Ting Ting, Diungkap Sang Ayah, Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Baca juga: Abu Dhabi Gunakan Pemindai EDE, Mampu Mendeteksi Virus Corona di Tubuh Seseorang

Ia menyarankan supaya pintu masuk ke Indonesia ditutup sementara, atau setidaknya dilakukan perpanjangan masa karantina warga yang baru tiba di Tanah Air.

"Harus (menutup pintu masuk), kalau tidak (menutup pintu masuk) total pun bisa karantina, misal karantina kemarin cuma tiga atau lima hari sekarang harus 10 hari kan bisa," kata Slamet.

Ia menyebut ledakan kasus Covid-19 yang terjadi beberapa waktu belakangan merupakan buah dari kelalaian pemerintah mencegah masuknya importasi kasus yang dibawa warga dari luar negeri ke Tanah Air.

Oleh karena itu, pembatasan terhadap warga dari luar negeri tak maksimal, kini varian baru virus corona, seperti varian Delta, menyebar luas di Indonesia.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved