Breaking News:

Opini

Catatan Reflektif Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh

Pada hakikatnya syari̒at Islam bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat

Editor: bakri
Catatan Reflektif Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Danial, S.Ag., M.Ag, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe

Oleh Dr. Danial, S.Ag., M.Ag, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe

Pada hakikatnya syari̒at Islam bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Tujuan ini dicapai melalui misi syari̒at Islam atau lebih dikenal dalam istilah agama dengam maqasid syariah yang meliputi kemaslahatan agama, jiwa, harta, akal, keturunan, lingkungan, dan kehormatan.

Ketujuh misi di atas merupakan indikator atau aspek yang menunjukkan kualitas hidup manusia. Kualitas hidup di bidang agama yang baik dapat diukur dari kualitas pemahaman agama, pengamalan agama, dan pengalaman beragama.

Kualitas hidup yang baik dalam aspek jiwa diukur di antaranya melalui mutu kesehatan dan kualitas kenyamanan. Kualitas hidup dari segi ekonomi (harta) diindikasikan oleh tingkat kesejahteraan. Kesejahteraan diukur melalui rendahnya angka pengangguran, kemiskinan, dan kriminalitas.
Indikator kualitas pendidikan (akal) yang baik di antaranya dilihat dari tingkat partisipasi pendidikan tinggi, indek pembangunan manusia, dan budaya literasi. Sementara kualitas kehidupan di bidang keluarga (keturunan) ditunjukkan oleh kesehatan ibu hamil, angka kematian bayi dan ibu, keharmonisan hubungan keluarga, dan kualitas pendidikan anak.

Sedangkan kualitas lingkungan yang baik diukur dari kebersihan dan kesehatan lingkungan, efektifnya kontrol sosial-masyarakat, dan kondusifnya situasi bagi pengembangan kepribadian anak dan masyarakat.

Selanjutnya, terpeliharanya kualitas kehormatan ditunjukkan oleh terwujudnya atmosfir kehidupan yang bebas dari segenap perilaku yang dapat menjatuhkan atau merendahkan martabat manusia, seperti kejahatan seksual, hoaks, fitnah, ghibah, namimah, caci maki, dan lain sebagainya.

Idealitas syari̒at Islam di atas bertolak belakang dengan realitas kehidupan Muslim Aceh mutakhir. Data menunjukkan bahwa di bidang agama, masyarakat Muslim Aceh memiliki semangat beragama yang tinggi akan tetapi pengamalan ajaran Islam di berbagai bidang kehidupan masih belum maksimal, hal ini dapat diukur dengan kurangnya semangat partisipasi masyarakat dalam shalat berjamaah di mesjid-mesjid.

Data di bidang kesehatan jiwa juga mengejutkan, sebab menurut Riset Kesehatan Dasar (RKD) tahun 2013, prevalensi gangguan jiwa berat di Aceh cukup tinggi, yakni sebesar 2,7 kasus per mil atau berada di atas rata-rata nasional yang berkisar 1,7 kasus per mil.

Mengejutkan karena gangguan jiwa di Aceh ternyata tidak hanya disebabkan oleh masalah emosional, tetapi juga banyak disebabkan oleh penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza).

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2018, terdapat 74.000 pecandu narkoba yang harus direhabilitasi. Ini jumlah pecandu yang terdata, sebagaimana kita ketahui bahwa ini adalah peristiwa gunung es, sehingga jumlah yang sebenarnya jauh lebih banyak dari ini.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved