Breaking News:

Salam

Bebas Zona Merah, Tapi Stok Vaksin Menipis

Terkait perkembangan penanganan wabah Corona di daerah, kemarin kita tersuguhkan beberapa berita, ada yang menyenangkan

Editor: bakri
SERAMBI/HENDRI
Stok vaksin di Puskesmas Kuta Malaka Aceh Besar habis. 

Terkait perkembangan penanganan wabah Corona di daerah, kemarin kita tersuguhkan beberapa berita, ada yang menyenangkan dan ada pula yang kian mencemaskan. Yang menggembirakan, tidak ada lagi satu kabupaten/kota pun di Aceh yang masuk zona merah. Sedangkan yang mencemaskan, Pemerintah Provinsi Aceh mengabarkan stok vaksin sudah menipis.

Menangggapi laporan menipisnya stok vaksin di sejumlah daerah, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta pemerintah daerah (pemda) untuk mendahulukan pemberian dosis pertama serta memakai strategi berbasis risiko. Pemda harus membuat strategi, artinya dalam membagi vaksinasi tidak bisa sama ke seluruh kabupaten/kota, harus difokuskan memang kepada yang jumlah kasus sangat tinggi dan laju penularan sangat tinggi.

Menipisnya stok vaksin di sejumlah daerah tentu menjadi hal yang memprihatinkan di tengah upaya menggenjot vaksinasi Covid di daerah-daerah sesuai target Pusat. Toh, program vaksinasi Covid-19 massal menjadi upaya menekan laju penularan Covid-19.

Karena begitu tinggi harapan pada keberhasilan vaksinasi, mulanya, pemerintah menargetkan 1 juta suntikan vaksin Covid-19 per harinya. Target tersebut pernah tercapai pada 26 Juni tepatnya sebanyak 1,3 juta suntikan vaksin Covid-19. Presiden Jokowi lantas meningkatkan target menjadi 2 juta suntikan per hari untuk mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) guna memutus penularan Covid-19.

Tak tanggung-tanggung, Jokowi bahkan menginginkan vaksin harian mencapai 5 juta suntikan. Namun, sejak rekor 1 juta suntikan vaksin tercapai, jumlah penyuntikan kembali menurun di bawah 1 juta. Bahkan hingga kini jumlah penyuntikan juga belum pernah mencapai angka 2 juta sebagaimana yang dicanangkan pemerintah. Oleh karenanya, kita berharap pemerintah Pusat segera memenuhi stok vaksin untuk kebutuhan daerah.

Memang, dua hari lalu, pejabat Pusat mengatakan, pada akhir Juli ini akan datang sekitar 8 juta vaksin Sinovac dan 4 juta vaksin AstraZeneca. Jadi 12 juta dosis itu akan didistribusikan ke daerah-daerah yang sudah kehabisan stok vaksin.

Namun, sampai kemarin kabarnya belum ada yang dikirim kedaerah. Menipisnya stok vaksin di sejumlah daerah di lihat sebagian warganet sebagai titik lemah pemerintah dalam menangani wabah Corona. Bahkan, media asing menyoroti kelemahan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Begitu juga dengan organisasi kesehatan dunia (WHO). Banyak yang memprediksi Indonesia bakal jadi salah satu negara terakhir yang berhasil keluar dari krisis pandemi Covid-19 karena tidak memiliki kebijakan strategis dalam upaya pemulihan kesehatan warganya. Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan, prediksi itu merupakan hal yang menurutnya cukup logis jika dilihat dari situasi pandemi Covid-19 yang kini terjadi di Indonesia.

Ia menegaskan, hanya negara yang sejak awal sudah fokus dengan bidang kesehatan saja yang mampu keluar dari pandemi Covid-19 lebih dulu. Karena negara yang concern dengan kesehatan sejak awal tentu tidak memiliki fokus maupun kepentingan utama lainnya selain mementingkan kesehatan warga negaranya. "Logisnya dan benar dalam kaitan situasi akhir pandemi ini, negara yang fokus dengan kesehatan ya tentu sudah lebih dulu dia startnya ya."

Ada banyak negara yang sejak awal pandemi memang sudah fokus pada kesehatan bukan melulu urusan ekonomi dan politiknya. Negara-negara itu dianggap cukup mampu secara ekonomi, sehingga penerapan sistem penguncian untuk menekan angka penularan virus Corona pun tidak terlalu mempengaruhi kondisi perekonomian mereka.

"Dan ini (mereka) bukan dari sekarang (mulai fokus untuk kesehatan masyarakatnya), dari awal. Jadi, startnya dia sudah sangat jauh di depan." Hal ini yang dianggap Indonesia bisa menjadi negara terakhir yang keluar dari pandemi Covid-19.

"Kita termasuk negara yang di belakang, sehingga wajar kalau akan terakhir keluar dari situasi pandemi ini." Pandangan boleh macam-macam, namun kita berharap bisa segera keluar dari deraan wabah yang sudah merusak kehidupan kita selama hampir dua tahun ini. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved