Minggu, 19 April 2026

Kaki Putus Kena Pisau Babat

BREAKING NEWS - Kaki Petani di Subulussalam Putus Terkena Pisau Babat

Nasib nahas menimpa Jaman Lingga (48) salah warga Desa Dusun Aman, Desa Jabi-Jabi, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam

Penulis: Khalidin | Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Jaman Lingga (48) salah warga Desa Dusun Aman, Desa Jabi-Jabi, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam dirawat di Rumah Sakit setelah kaminya putus akibat terkena mata pisau babat, Jumat (30/7/2021). 

Fakhurrazi pun tersungkur dengan kaki sebelah kiri mengucurkan darah.

Baca juga: Seorang Nelayan Simeulue Ditemukan tak Bernyawa di Pantai Saat Menjaring Ikan

Ia melihat pergelangan kaki kirinya hampir putus tersambar mata pisau potong rumput yang patah yang berkelebat secepat kilat menebas kaki kirinya.

Warga yang mendengar teriakan minta tolong, segera mengevakuasi Fakhrurrazi ke RS Cut Mutia Lhokseumawe.

Beberapa jam kemudian, Fakhrurrazi dirujuk ke RSUDZA Banda Aceh.

“Kakinya harus diamputasi, karena tidak mungkin disambung lagi,” ujar Muhammad Daud.

Di Aceh Tamiang

Insiden patahnya pisau potong rumput juga diceritakan oleh Anggota DPR Aceh, Asrizal H Asnawi.

“Kejadian ini sekitar tahun 2013 di kampung saya di Paya Ketenggar, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang. Korbannya adalah Usman (50). Beliau meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit,” kata Asrizal kepada Serambinews.com di Banda Aceh, Rabu (6/1/2020).

Asrizal bercerita, kejadian yang merenggut nyawa Usman ini hampir sama seperti kejadian yang merenggut nyawa Anna Mutia, perawat di Aceh Barat Daya.

Kala itu, Usman sedang menggarap sawahnya.

Ia tak pernah menyangka, deru mesin potong rumput yang tak jauh dari tempatnya berada akan menjadi maut baginya.

Sebilah pisau yang sedang berputar tajam di ujung mesin potong rumput milik petani yang bekerja tak tauh dari Usman, terlepas dan berkelebat di udara.

Tak sempat tahu, potongan pisau itu menancap di wajah Usman yang kemudian tersungkur ke tanah.

Warga yang mendengar teriakan minta tolong, langsung mengevakuasi Usman ke rumah sakit Langsa dengan menggunakan mobil milik ayah Asrizal.

Namun, ajal menjemput Usman dalam perjalanan ke RS.

Harus Dilarang

Asrizal H Asnawi mengatakan, kasus yang menimpa Anna, Fakrurrazi, dan Usman, adalah hanya segelentir kasus kecelakaan akibat mata pisau potong rumput yang terungkap ke publik.

Ia meyakini, kasus serupa juga terjadi di beberapa daerah.

Tapi tak menjadi konsumsi publik karena biasanya diselesaikan secara kekeluargaan.

“Insiden terakhir yang menimpa Anna Mutia hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak lagi memakai alat kerja yang membahayakan diri sendiri dan orang lain,” kata Asrizal H Asnawi.

Ia berharap, pihak berwenang mengeluarkan aturan yang melarang penggunaan mata pisau pada mesin pemotong rumput.

Apalagi, kata dia, mata pisau yang digunakan sekarang kualitasnya tidak bagus dan mudah patah.

Baca juga: Datuk di Tamiang Gelapkan Dana Desa Rp 1 Miliar Lebih, Seharusnya Digunakan Untuk Ini

“Atau seharusnya ada standar keamanan yang tinggi bagi produsen mata pisau potong rumput ini. Bukan dijual dengan bebas di pasar online dengan tanpa memperhatikan kualitas logam dan ikatan pada gagangnya,” ujar Asrizal.

“Sebaiknya mata pisau ini tidak digunakan lagi dalam membabat rumput. Tapi bisa menggunakan senar atau tali pancing yang ukuran besar. Kalau untuk memotong semak yang lebih keras, maka bisa dilakukan secara manual atau mesin yang benar-benar aman,” pungkas Asrizal.

Tadi pagi, Asrizal juga menuliskan kisah kecelakaan akibat penggunaan mata pisau di kampungnya.

Ia memberikan tulisannya itu dengan judul "Pisau Mesin Babat Maut”.

Baca juga: Taliban Bantai Pelawak, Sempat Lontarkan Lelucon Terakhir Sebelum Ditembak Mati

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved