7 Proyek Rampung, Hulu Migas Terus Permulus Izin Investor Demi Cita-Cita 1 Juta BOPD & 12 BSCFD 2030
Ketujuh proyek hulu migas yang sempat tertunda pada 2020 akibat pandemi Covid-19 itu kini sudah onstream, dan terbukti memberikan tambahan produksi mi
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Amirullah
Oleh karena itu, Pemerintah melalui SKK Migas kemudian membuat target Indonesia pada 2030 harus mampu meningkatkan produksi minyak hingga 1 BOPD dan gas sebanyak 12 BSCFD.
Ini sebagai bentuk persiapan negara, yaitu dengan cara meningkatkan jumlah produksi agar kebutuhan energi di masa yang akan datang dapat terpenuhi.
"Disamping kebutuhan sektor energi, migas juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan feed sektor industri, khususnya industri petrokimia. Tanpa kecukupan energi dan bahan baku tersebut, maka pembangunan ekonomi tidak dapat berjalan secara optimal," kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam sebuah webinar yang dilakukan secara virtual beberapa waktu lalu.
Langkah berani industri Hulu Migas menargetkan produksi 1 juta BOPD dan 12 BSCFD gas ini juga didasari atas potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.
SKK Migas menyebutkan, Indonesia memiliki setidaknya 128 cekungan migas, namun baru 20 diantaranya yang sudah diproduksi.
Sedangkan yang sudah ditemukan tapi belum diproduksi berjumlah 27 cekungan, 68 yang belum dilakukan pengeboran, dan 13 lainnya masih belum ditemukan keberadaannya.
"Ini menunjukkan Indonesia punya potensi yang sangat besar. Namun perlu disadari industri migas adalah industri yang membuthkan investasi besar, teknologi dan risiko tinggi, serta persaingan antar negara yang semakin meningkat," tambah Dwi.
Sukses merampungkan 7 proyek hulu migas, yaitu EPF Belato2 Seleraya Merangin Dua, EOR Jirak Pertamina EP, KLD PHE ONWJ, Gas Supply to RU-V Pertamina Hulu Mahakam, West Pangkah Saka Indonesia Pangkah Ltd, Merakes Eni East Sepinggan dan North Area Jindi South Jambi Block B bersama dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pada Juli 2021 adalah sebuah realisasi yang cukup berarti bagi Indonesia.
Ketujuh proyek hulu migas yang sempat tertunda pada 2020 akibat pandemi Covid-19 itu kini sudah onstream, dan terbukti memberikan tambahan produksi minyak sebesar 9.850 BOPD serta gas sebesar 474,5 MMSCFD.
Adapun jumlah investasi yang diperoleh dari tujuh proyek tersebut senilai US$ 1,457 miliar atau setara Rp 21,12 Triliun.
Namun demikian, hulu migas masih harus berpacu untuk mewujudkan cita-cita 1 juta BOPD dan 12 BSCFD gas yang diperkirakan butuh investasi mencapai lebih dari US$ 200 miliar.
Agar target itu menjadi nyata, SKK Migas telah menyusun 4 langkah utama yang kemudian masuk dalam Rencana Strategis Indonesia Oil & Gas (IOG) 4.0.
Keempat langkah itu ialah mengoptimalkan produksi di lapangan eksisting, transformasi sumberdaya kontijen ke produksi, mempercepat chemical Enhanced Oil Recovery (EOR), dan melakukan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru.
Itu juga termasuk membenahi seputar iklim investasi di hulu migas, mulai dari kegiatan eksplorasi hingga produksi.
Pada awal bulan Juli, SKK Migas berhasil mempercepat proses persetujuan Authorization for Expenditure (AFE) melalui penerapan sistem online.