7 Proyek Rampung, Hulu Migas Terus Permulus Izin Investor Demi Cita-Cita 1 Juta BOPD & 12 BSCFD 2030
Ketujuh proyek hulu migas yang sempat tertunda pada 2020 akibat pandemi Covid-19 itu kini sudah onstream, dan terbukti memberikan tambahan produksi mi
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Amirullah
- Tax holiday pajak penghasilan semua wilayah kerja migas
- Penyesuaian biaya pemanfaatan Kilang LNG Badak sebesar US$ 0,22/MMBTU
- Dukungan kementerian yang membina industri pendukung hulu migas (industri baja, rig, jasa dan service) terhadap pembahasan pajak bagi usaha penunjang kegiatan hulu migas.
"Diharapkan pemberian paket stimulus tersebut dapat merevitalisasi investasi pada kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas serta meningkatkan cadangan dan produksi minyak bumi nasional," kata Dwi Soetjipto dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/6/2021). Plt. Deputi Perencanaan SKK Migas, Julius Wiratno sebelumnya juga menyampaikan hal senada.
"Dengan insentif yang diberikan oleh Pemerintah maka kami harapkan tingkat produksi migas dimasa mendatang dapat ditingkatkan, yang dimulai dengan capaian RRR yang tinggi,” kata Julius.
Perjalanan menuju 1 juta BOPD dan 12 BSCFD di 2030 masih panjang.
Oleh karena itu, SKK Migas bersama dengan Kementerian ESDM dan kementerian lainnya akan terus berupaya keras meningkatkan cadangan terbukti Indonesia melalui berbagai kegiatan, baik yang dapat menghasilkan tambahan cadangan pada jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
Julius dalam keterangan tertulisnya juga menambahkan, cita-cita target produksi 1 juta BOPD tahun 2030 sebenarnya masih belum cukup memenuhi kebutuhan minyak secara nasional.
Namun usaha mencapai target ini mendesak dilakukan agar setidaknya impor BBM di Indonesia dapat dikurangi.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, konsumsi BBM Indonesia saat ini sekitar 1,6 juta BOPD, sementara produksi nasional hanya sekitar 700 ribu BOPD.
“Jadi GAP yang masih besar membutuhkan produksi migas nasional yang lebih tinggi agar defisit migas dapat diturunkan sehingga impor migas dapat ditekan. Cita-cita produksi 1 juta barrel minyak di 2030 belumlah mencukupi kebutuhan minyak secara nasional, namun setidaknya GAP dengan konsumsi dapat dikurangi," Pungkas Julius.
(Serambinews.com/Yeni Hardika)