Breaking News:

Opini

Antara Demokrasi dan Antidemokrasi

Apa yang harus disyukuri dari situasi Aceh hari ini? Hal yang paling fundamental berhentinya praktik kekerasan

Editor: hasyim
hand over dokumen pribadi
Teuku Kemal Fasya, Antropolog Universitas Malikussaleh 

Oleh. Teuku Kemal Fasya

Dosen Antropologi Politik FISIP Universitas Malikussaleh.

Apa yang harus disyukuri dari situasi Aceh hari ini? Hal yang paling fundamental berhentinya praktik kekerasan dan operasi militer yang telah melepuhkan resiliensi sosial, ekonomi, dan politik, dan merobohkan benteng besar kemanusiaan.

Apa yang diterima satu setengah dekade pascaperdamaian Aceh yang ditandatangani di sebuah kota kecil, Vantaa, Finlandia, Helsinki, akhir musim panas yang indah.

Rosiana Silalahi sempat membuat reportase bahwa perdamaian yang ditandatangani 15 Agustus 2005 itu dilakukan di sebuah lokasi yang memang sering digunakan untuk pertemuan internasional. Inisiasi perdamaian Israel–Palestina juga pernah dilakukan di kota ini pada 1979.

Perdamaian yang diinisiasi itu memang tidak pernah diimajinasikan akan berumur panjang. Namun perasaan yang baik yang telah terjalin antara tim Pemerintah Indonesia dengan tokoh GAM Swedia menyebabkan proses dialog bisa menemukan jalan putus dengan cepat. Catatan pertemuan itu direkam oleh profesor ilmu politik Deakin University, Peace in Aceh : A Personal Account of the Aceh Peace Process (2006).

Demokrasi bermakna?

Namun apakah perdamaian itu setimbang dengan hadirnya demokrasi yang lebih bermakna? Untuk jawaban ini tunggu dulu. Perdamaian Aceh yang akan berumur 16 tahun ini, memiliki banyak situasi yang bisa dikatakan tak cukup menggembirakan.

Memang situasi menjanjikan terlihat pada tiga tahun pertama pascaperdamaian. Tiga tahun itu adalah bulan madu semua pihak dan “gula-gula insentif” yang banyak. Masa itu para pihak bisa melakukan pengendalian diri ketat, sehingga pihak yang sebelumnya berseteru bisa berkubu, apalagi saat dana besar dunia melalui Multi Donors Trust Fund (MDTF) itu sedang memanjakan Aceh. Bukan saja untuk proyek rehabilitasi dan rekonstruksi, tapi juga proyek perdamaian.

Beberapa eks kombatan mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang post-conflict resolution dan demokrasi ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Fasilitas dan kemewahan itu mungkin tidak pernah lagi akan terulang di era sekarang. Deresan dana yang besar hamper menenggelamkan Aceh, sehingga muncul kegawatan munculnya budaya baru: budaya pamrih dan materialistik serta hilangnya solidaritas organik antarwarga.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved