Opini
Muhasabah, (introspeksi diri)
Khalifah Umar Ibnul Khattab mengatakan:”Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang

Firman Allah SWT yang artinya: Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya) (QS. Al-Anbiyaa 39: 1).
Ingat, kita sedang berada di penghujung tahun 1442 H, dan segera memasuki Tahun Baru 1443 H. Bagaimana seharusnya seorang Muslim atau keluarga Muslim secara khusus dan umat Islam secara umum menyikapi fenomena pergantian tahun seperti ini? Berikut beberapa catatan yang perlu diperhatikan: Pertama, mari memanfaatkan fenomena pergantian waktu: siang-malam, mingguan, bulanan,tahunan dan seterusnya, yang merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, untuk melakukan hal-hal yang semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya, banyak ber-tafakkur dan berdzikir mengingat muraqabatullah (pengawasan Allah) terhadap segala perilaku kita dalam hidup ini.
Dan bukan justru merayakannya dengan cara-cara yang berlebihan, penuh kesia-siaan, apalagi penuh dengan aksi “demonstrasi” dosa dan kemaksiatan, yang semakin membuat kita lupa, lalai ,dan menjauh dari Allah SWT.
Kedua, setiap orang Islam, dalam segala kondisi, situasi dan waktu, wajib senantiasa dan bangga mempertahankan identitas keimanannya dan menunjukkan jati diri keislamannya.
Oleh karenanya, hendaklah setiap keluarga Muslim waspada dengan menjaga anggotanya agar tidak terbawa arus budaya jahiliyah dalam merayakan momen pergantian tahun masehi dan menyambut Natal. Karena itu semua hanya akan menggerus akidah, melunturkan keimanan dan mengikis identitas keislaman.“
Dan jika mereka berpaling, maka katakanlah (dengan bangga) kepada mereka , “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Islam (yang berserah diri kepada Allah)”. (QS. Ali Imran : 64)
Ketiga, dengan berakhirnya tahun 1442 H dan hadirnya tahun baru 1443 H, berarti telah bertambah satu tahun lagi usia masing-masing kita. Dan sebagai kaum beriman, itu harus kita pahami dan sikapi sebagai bertambah banyaknya nikmat umur dalam hidup yang yang akan kita pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah di akhirat. “Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba dari pengadilan Allah di hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, dihabiskan untuk apa, tentang ilmu pengetahuannya, apa yang telah diamalkan darinya, tentang hartanya dari mana didapat dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang raganya, untuk apa digunakan “ (HR. At-Tirmidzi).
Di sisi lain bertambahnya umur juga berarti berkurangnya waktu dan kesempatan kita untuk beramal dan berkarya di dunia ini, sebagai investasi dan bekal bagi kehidupan akhirat nanti, dan juga berarti waktu kita menjemput kematian yang pasti datang dan kembali ke haribaan Allah, telah semakin pendek dan dekat. Dan perenungan serta muhasabahnya di sini adalah: Sudahkan kita benar-benar siap untuk menghadapinya?
Keempat: mari berazam bersama–dengan izin dan taufiq Alla–menjadikan tahun baru 1443 H sebagai tahun pembaruan iman, ilmu, amal, moral, dan mentalitas yang lebih syar’i. Juga mari bertekad bersama–dengan izin dan taufiq-Nya–menjadikan tahun baru ini sebagai tahun perubahan positif dan konstruktif bagi diri masing-masing kita secara khusus, bagi keluarga kita, masyarakat, bangsa dan negara. Semoga, Amin!