Berita Aceh Singkil

Perkelahian Maut di Hutan Singkil belum Ada Perdamaian, Malam Hari Mencekam

Kasus perkelahian di hutan kawasan Lae Treup, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, lanjut ke ranah hukum

Penulis: Dede Rosadi | Editor: Muhammad Hadi
For Serambinews.com
Warga mengevakuasi korban akibat perkelahian di hutan kawasan Lae Treup, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, Selasa (10/8/2021) petang. 

Inilah yang menjadi biang perseteruan Eko dengan Bangun Angkat.

Baca juga: Taliban Rebut Kandahar Kota Terbesar Kedua di Afghanistan, Pejabat Melarikan Diri, Situasi Memburuk

Kedua belah pihak saling klaim lapak tersebut miliknya. Walau sesungguhnya kawasan itu milik Negara yang tak boleh ditebang kayunya.

"Kayunya sendiri Wallahu a'lam, milik Tuhan," kata Irwansyah.

Puncaknya dimulai ketika Bangun Angkat menebang kayu dari lokasi perseteruan tersebut.

Pada hari kejadian perkelahian, sebut Irwansyah, kayu yang ditebang Bangun Angkat, dibelah oleh Eko Handayani. 

"Almarhum Eko membelah karena merasa kayu yang ditebang Bangun Angkat, berada di lapaknya," kata Irwansyah Rizal, Kamis (11/8/2021).

Alur sungai menuju Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Kecamatan Kuala Baru. Kuala Baru merupakan kecamatan terendah dari permukaan laut di Kabupaten Aceh Singkil.
Alur sungai menuju Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Kecamatan Kuala Baru. Kuala Baru merupakan kecamatan terendah dari permukaan laut di Kabupaten Aceh Singkil. (SERAMBINEWS.COM/ DEDE ROSADI)

Ketika sedang membelah kayu itulah, Eko didatangi Bangun Angkat bersama empat anaknya. Hingga terjadi pertengkaran berujung perkelahian gunakan senjata tajam.

Usai kejadian itu, Eko Handayani dan Awaludin mencari Kamilin. Kamilin merupakan kakak Eko dan adik dari Awaludin.

Setelah bertemu lantas tiga bersaudara itu mendatangi Bangun Angkat, hingga terjadi saling bacok mengunakan senjata tajam.

Irwansyah menyebutkan, sebelum kejadian saling bacok, antara pelaku kerap beradu mulut di warung kopi. Bahkan saling tantang berkelahi.

"Pemicunya itu tadi soal perebutan lapak ambil kayu," jelasnya.

Sementara itu sumber lain memiliki versi berbeda terkait perkelahian senjata tajam berujung kematian tersebut. 

Diceritakan pada hari kejadian, Selasa (10/8/201) pagi Eko Handayani bersama dua kakaknya yaitu Kamilin dan Awaludin pergi ke lokasi pengambilan kayu di kawasan Lae Treup.

Tiba di lokasi berpisah untuk membelah kayu menggunakan mesin senso masing-masing.

Selang beberapa jam kemudian mesin senso Eko Handayani mati, lalu disusul teriakan. Peristiwa itu menarik perhatian Awaludin dan Kamilin untuk segera memeriksanya.

Baca juga: Syech Fadhil, Janjinya pada Anak Pulo Aceh dan ‘Selfie Politik’ (Kritikan untuk Pejabat Aceh Besar)

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved