Breaking News:

Opini

Merdeka tetapi Menderita

Goenawan Mohammad pernah menulis tentang merdeka dalam catatan pinggir. Menurutnya, orang ingin merdeka karena tahu artinya tidak merdeka

Editor: bakri
Merdeka tetapi Menderita
IST
Zarkasyi Yusuf, ASN Pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh

Oleh Zarkasyi Yusuf, ASN Pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh

Goenawan Mohammad pernah menulis tentang merdeka dalam catatan pinggir. Menurutnya, orang ingin merdeka karena tahu artinya tidak merdeka. Tidak merdeka berarti; tiap saat siap ditempeleng, dilucuti, dibentak-bentak, diusir, dihina, diserobot, didiskriminasi, dilempar ke dalam sel, dan atau dibunuh.  “Merdeka” dengan “tidak merdeka” memperlihatkan dua kondisi yang saling berbeda dan bertolak belakang, satu dipahami positif dan satunya lagi dipahami negatif.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia merdeka diartikan bebas dari penghambaan, penjajahan, berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu (leluasa). Jika disederhanakan, merdeka adalah keadaan bahagia sedangkan tidak merdeka adalah menderita.

Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah memberikan pernyataan tentang hakikat merdeka, pernyataan ini diungkap Gus Dur dalam diskusi Forum Demokrasi (FORDEM) pada 8 Agustus 1991 silam untuk memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-46 (Majalah AULA Nahdhatul Ulama (NU).

Gus Dur memberikan tujuh hakikat merdeka, (1) kemerdekaan lebih merupakan proses perjuangan menentukan nasib sendiri daripada keadaan yang bebas dari segala soal, kesulitan, dan hambatan. (2) Kemerdekaan adalah hak, hak yang mendasar bagi setiap manusia yang harus dijamin dalam hidup kemasyarakatan, terutama dalam hidup berbangsa dan bernegara. (3) Musuh kemerdekaan bukanlah kekuasaan masyarakat dan negara, melainkan kesewenang-wenangan dalam penggunaa kekuasaan itu.

(4) Kemerdekaan mensyaratkan susunan dan penggunaan kuasa kemasyarakatan dan kenegeraan tertentu. Semakin terpusat kekuasaan pada satu tangan, semakin tak berfungsi kemerdekaan sebagai kaidah hidup kemasyarakatan. (5) Kemerdekaan sulit bertahan bahkan dalam susunan kuasa kemasyarakatan dan kenegaraan yang terpusat pada beberapa tangan.

(6) Kemerdekaan semakin berfungsi dalam susunan kuasa kemsyarakatan dan kenegaraan yang tersebar dengan maksimal. Karena itu, risiko ancaman kesewenang-wenangan memang sangat tinggi, tapi ini mungkin bisa dicegah oleh jaminan persamaan hak bagi semua. (7) Kemerdekaan berfungsi dalam suatu pengelolaan hidup masyarakat dan negara secara seimbang, menghubungkannya dengan perasaaan senasib sepenanggungan dan persamaan hak.

Dalam perjalanan waktu, penderitaan masih saja dirasakan meskipun telah merdeka, bahagia yang menjadi tujuan para pendahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan belum sepenuhnya hadir di tanah yang sudah merdeka. Jangan menghujat, jangan menyalahkan siapa pun, sebab persatuan dan kesatuan telah menghantarkan negeri ini merdeka, dengan persatuan dan kesatuan itu pula kita akan mampu melanggengkan kemerdekaan, merdeka pasti hambar jika usai merdeka masih terjadi pertumpahan darah, bermusuhan, mendendam dan saling bertikai.

Apa yang harus dilakukan agar penderita lenyap di bumi yang telah merdeka, kini usianya 76 tahun. Pertama, jangan berkhianat. Siapa pun kita, apapun profesinya jangan pernah berkhianat dengan profesi kita, jalankan profesi itu dengan amanah dan jauhkan dari berkhianat. Presiden, gubernur, bupati/walikota, camat, kepala desa jangan berkhianat dengan jabatan sedang disandang. Perlu diingat, menjadi pemimpin adalah untuk melayani, bukan menjadi kebangaan yang hanya akan mengantarkan kesombongan dan keangkuhan.

Terkait pengkhianatan pemimpin, Aisyah Radhiallahu anha berkata,” Aku pernah mendengar Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam berdoa seperti ini di kamarku: “Allahumma man waliya min amri ummatii syai-an farafaqa bihim farfuq bihi, waman waliya min amri ummatii syai-an fasaqqa ‘alaihim, fasfuq ‘alaihi”. Wahai Allah, siapa saja yang (bertugas) mengurus sebuah urusan umatku kemudian ia bersikap lembah lembut terhadap mereka (umatku) maka sayangilah ia, dan siapa saja yang mempersulit (urusan) mereka (umatku), maka persulitlah ia”. (H.R Imam Muslim).

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved