Breaking News:

Salam

Memaknai Kerisauan dan Kepergian Farid Wajdi

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad (15/8/2021) kemarin memuat berita duka. Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA dikabarkan meninggal dunia

Editor: hasyim
SERAMBI/HENDRI
Seribuan jamaah melaksanakan shalat jenazah untuk Ketua MAA, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA, di halaman meunasah Gampong Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, pada Sabtu (14/8/2021). 

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad (15/8/2021) kemarin memuat berita duka. Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA dikabarkan meninggal dunia dalam usia 60 tahun pada Sabtu, 14 Agustus siang. Hingga akhir hayatnya, Prof Farid sedang menjabat Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), jabatan yang semula dipercayakan Gubernur Aceh Nova Iriansyah kepadanya, lalu terpilih sebagai ketua definitif untuk periode saat ini.

Dalam kesehariannya, mantan rektor UIN AR-Raniry ini dikenal sebagai pendakwah yang kritis dan bersuara lantang. Hampir tak ada persoalan sosial kemasyarakatan dan urusan muamalah yang menyimpang yang tidak disorotnya. Ceramah-ceramah dan pernyataan “Singa Podium” dari Aceh Besar ini sering menjadi headline di media cetak dan online, sering pula menjadi trending topic di medsos.

Farid akademisi sekaligus ulama yang gundah melihat kebiasaan buruk sebagian kaum muda Aceh yang menghabiskan banyak waktu di warung kopi atau kafe. Perbuatan ini, menurutnya, bukan saja sia-sia, tetapi juga lebih berbahaya dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada Agustus 1945. Dia ingin generasi muda Aceh justru lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk hal-hal positif dan berguna, termasuk dalam meningkatkan kualitas iman dan takwa, serta kreativitas plus inovasi.

Ketua Umum ICMI Orwil Aceh ini juga sangat risau menyikapi dahsyatnya peredaran narkoba dan parahnya kondisi generasi Aceh yang terimbas narkoba. Perang total terhadap narkoba pun kerap disuarakan Farid di berbagai mimbar. Jangan sampai generasi penerus Aceh menjadi lemah atau malah menyebabkan Aceh diperlemah oleh para narkobais, bagian dari proxy war negara produsen terhadap Aceh dan Indonesia pada umumnya

Dua hal ini sangat patut kita renungkan sebagai seruan tanpa henti dari seorang Farid. Kegelisahan Farid tentang banyaknya kawula muda Aceh yang menyia-nyiakan waktu di warung kopi, termasuk dengan berjudi online chip Higgs Domino, di samping banyak yang tergiur narkoba, harus pula menjadi keprihatinan bersama kita.

Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, terlebih BNNP dan BNNK, harus bahu-membahu memerangi narkoba di Aceh. Bukan saja supaya seruan Farid di masa hidupnya bersahut dan ia tenang di alam barzakh, melainkan juga agar kemasyhuran Aceh sebagai Serambi Mekkah tidak sirna oleh narkoba dan generasi penerus yang lebih berlabuh hatinya di warkop, kafe, dan restoran daripada masjid dan majelis ilmu.

Di luar itu, ada satu iktibar lain yang layak kita petik dari kematian Farid. Ia menemui ajal setelah menderita radang paru yang parah ditambah infeksi Covid-19.

Tak sampai 24 jam dirawat di RSUD Meuraxa, Banda Aceh, Farid pun mengembuskan napas terakhir. Sebelumnya kondisi Farid memang sudah drop setelah menyambut kedatangan Kapolda Irjen Pol Ahmad Haydar yang hari pertama bertugas di Aceh.

Iktibar yang penting kita petik adalah kalau sudah ada gejala demam, flu, dan sesak napas (yang mengarah ke ciri-ciri Covid) siapa pun kita segeralah ke dokter atau ke rumah sakit. Para suspect Covid, apalagi usia mulai lanjut dan punya penyakit komorbid, tak ada alasan menunda-nunda untuk datang ke dokter atau langsung ke rumah sakit, agar tak terlambat penanganannya. Kalau telat bisa berakibat fatal.Benar seperti dikatakan Gubernur Nova Iriansyah, kepergiaan Farid membuat Aceh kehilangan sosok pemikir dan teladan. Sesungguhnya, Aceh akan lebih kehilangan lagi, jika kerisauan dan seruan Farid, tidak ada yang menindaklanjutinya dalam kerja nyata.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved