Breaking News:

Salam

Hati-hati, Varian Delta Juga Serang Anak-anak

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap bahwa ada 11 kasus Covid-19 varian Delta yang ditemukan di Aceh

Editor: bakri
BRANDON BELL/GETTY IMAGES/AFP
Teknisi Laboratorium di lab Diagnosis Genview, Houston, Texas menganalisis sampel Covid-19. Di seluruh wilayah Houston, pengujian meningkat signifikan menyusul meningkatnya infeksi varian Delta. 

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap bahwa ada 11 kasus Covid-19 varian Delta yang ditemukan di Aceh. Bisa jadi peningkatan kasus di Aceh yang terjadi dalam dua pekan terakhir akibat menyebarnya varian yang disebut sangat menular itu.

Belum diberitahukan secara pasti di kabupaten/kota mana saja kasus infeksi tersebut terjadi. Yang pasti, temuan itu sekaligus harus menjadi pemicu bagi kita semua untuk lebih meningkatkan kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan (protkes), yakni menggunakan masker, sering mencuci tangan, serta menghindari kerumunan. Menurut data dari Pemerintah Aceh, dalam dua pekan terakhir, setiap harinya ditemukan kasus infeksi baru antara 250 hingga lebih 400 kasus. Banda Aceh, Aceh Besar, Tamiang , Pidie, Singkil, dan beberapa kabupaten/kota lainnya merupakan penyumbang pasien Covid terbanyak. Banda Aceh bahkan tercatat setiap hari lebih 100 orang kasus infeksi baru.

Varian Delta di Aceh teridentifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan pengurutan genom secara keseluruhan (Whole Genome Sequencing/WGS) yang dilakukan Kemenkes RI. Temuan itu kemudian disampaikan Kepala Balai Litbangkes Aceh Kemenkes RI Dr Fahmi Ichwansyah S.Kp MPH dua hari lalu.

“Saya baru dapat info dari Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (BTDK) Balitbangkes Jakarta yang melakukan whole genom sequencing bahwa di Aceh hasil WGS sudah ditemukan varian Delta,” kata Fahmi. Selama ini pihaknya mengirim sampel ke Jakarta secara bergelombang untuk WGS. Namun, Fahmi tidak tahu 11 kasus yang ditemukan varian delta itu dari berapa jumlah sampel yang telah diuji. Dirincikan, pihaknya pertama sekali mengirim 23 sampel, lalu 49 sampel. Pada awal Juli juga dikirim 123 sampel lagi. “Saya pikir sampel yang dikirim awal Juli itu (ditemukan varian Delta). Karena baru selesai di-sequencing beberapa hari lalu. Ini hanya kemungkinan-kemungkinan. Soalnya, belum dapat data rinci,” katanya.

Kini apa yang kita takutkan ternyata sudah berada di Aceh. Sebagai masyarakat, kita tentu harus barsikap lebih hati-hati, Dan, kepada pemerintah dan seluruh pihak tentu harus pula bergerak dan berkoordinasi lebih serius menghadapi ancaman varian Delta yang kita duga menjadi penyebab “meledaknya” kasus baru infeksi Corona di Aceh dalam dua pekan terakhir. Tanpa tindakan paling maksimal untuk pembatasan penularan, peningkatan kasus Covid-19 akan sulit diperlambat atau dihentikan. Kesadaran masyarakat mutlak perlu. Peningkatan kesadaran membutuhkan pula kebijakan yang jelas dan tegas dari pemerintah.

Kita pun masih ingat Menkes RI beberapa pekan lalu mengatakan, “Kami sampaikan memang sampai saat ini terjadi peningkatan luar biasa, dan itu penting untuk bisa fokusnya bukan hanya ke sisi hilir di sisi rumah sakit, di sisi penanganan orang sakit, tapi lebih penting lagi fokus ke sisi hulu bagaimana kita mencegah agar orang sehat ini jangan menjadi sakit.” Para ahli virus dan epidemiolog menyatakan, virus varian Delta menyebar lebih cepat dibandingkan Covid-19 asalnya.

Ledakan Covid-19 akibat varian Delta sempat melumpuhkan India. Beberapa ciri varian Delta antara lain, menimbulkan gejala diare dan demam yang lebih parah dan lebih cepat. Seseorang yang terpapar varian Delta dapat mengalami serangan akut dalam waktu dua hari dan berakibat terlambat mendapatkan pertolongan. Dikabarkan pula, proses penyembuhan dari virus varian Delta bisa berlangsung dua bulan.

Hal penting yang harus menjadi perhatian para orangtua adalah varian Delta ini menurut Kementerian Kesehatan Indonesia cenderung menyerang kelompok anak-anak hingga usia 18 tahun. “Jadi, memang ada kecenderungan kalau lihat variasi Delta ini pada umur, pada umur di beberapa rumah sakit, di umur-umur dibawah 18 tahun, di bawah 10 tahun sudah ada yang kena,” kata pejabat Kemenkes.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved