Breaking News:

Salam

Punya Qanun Jinayat, Tapi Kekerasan Anak Meningkat

WAKIL Ketua Komisi Pengawas dan Perlindungan Anak (KPPA) Aceh, Ayu Ningsih SH MKn dalam satu webinar

Editor: bakri
GETTY IMAGES
Ilustrasi. 

WAKIL Ketua Komisi Pengawas dan Perlindungan Anak (KPPA) Aceh, Ayu Ningsih SH MKn dalam satu webinar mengatakan, Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat belum membuat jera para pelaku kekerasan terhadap anak. Di webinar yang sama, Aulianda Wafisa (Manajer Program Lembaga Badan Hukum Banda Aceh) menyampaikan, saat ini hukuman yang berlaku bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak dalam Qanun Jinayat masih tergolong ringan jika dibandingkan dengan efek dari tindak pidana yang dilakukan.

“Berbeda jauh dengan apa yang ditetapkan dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA). Ancaman maksimal bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak bisa mencapai 20 tahun atau hukuman seumur hidup, dengan denda mencapai Rp 15 miliar,” paparnya Kasus kekerasan terhadap anak di Aceh tergolong tinggi dan harus menjadi perhatian serius.

Menurut catatan, hingga Juni 2021, sudah ada 202 kasus tindak kekerasan terhadap anak yang terbagi dari 46 kasus pelecehan seksual, 45 kasus kekerasan psikis, dan 34 kasus kekerasan fisik. KPPA menginginkan adanya upaya pemulihan kondisi korban (restitusi) atau penggantian kerugian yang dialami korban baik secara fisik maupun mental. “Jadi, KPPA mendesak agar lahirnya Peraturan Gubernur yang mengatur tentang Restitusi,” kata Ayu Ningsih. Dalam pandangan Komisioner KPPA itu, Qanun Jinayat lebih mengutamakan penghukuman pada pelaku kejahatan dan belum menyentuh pada ada aspek perlindungan terhadap anak yang menjadi korban.

Bahkan anak yang menjadi korban pemerkosaan sangat rentan menjadi pelaku dan dijuntokan dengan pasal-pasal lain dalam Qanun Jinayat seperti, pengakuan zina dan zina anak. Namun, lanjutnya, dalam UU Perlindungan Anak, apapun kondisi anak tetap dianggap sebagai korban. Meskipun persetubuhan tersebut dilakukan tanpa ancaman kekerasan, karena ada perluasan unsur pidana seperti, tipu muslihat, bujuk rayu, iming-iming, dan serangkaian kebohongan lainnya. “Maka orang dewasa tetap akan dihukum dan anak tetap merupakan korban tindak pidana, sayangnya hal ini tidak ada dalam Qanun Jinayat,” katanya. Qanun Tentang Hukum Jinayat masih menawarkan tiga alternatif hukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak yang terdiri atas hukuman cambuk, kurungan, dan denda.

“Seharusnya pemerintah menerapkan Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Perlindungan Anak bagi pelaku kekerasan terhadap anak,” tegasnya. Terlepas dari soal perangkat hukum yang dinilai belum “mengena”, kita melihat kasus kekerasan terhadap di Aceh maupun secara nasional memang sangat mencemaskan. Kekerasan pada anak hingga kini masih saja terus meningkat kunatitas dan kualitasnya. Begitu banyak anak yang menjadi korban kekerasan (secara fisik, emosional, verbal, dan seksual), penelantaran, eksploitasi, perlakuan salah, diskriminasi, dan perlakuan tidak manusiawi lainnya, baik yang berlangsung secara disadari maupun yang tanpa disadari.

Dalam arti, kekerasan yang memang dilakukan karena kehilangan kendali atas emosi pelaku maupun yang dilakukan dengan tujuan serta dalih ‘pendidikan’ terhadap si kecil. “Yang menyedihkan sekaligus mencengangkan ialah kenyataan bahwa kekerasan terhadap anak justru paling banyak terjadi di wilayah domestik alias pelakunya tak lain anggota keluarga sendiri, terutama orangtua. Itu pun masih banyak kasus yang belum terungkap karena rendahnya pemahaman masyarakat akan hak-hak anak.

Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa tindak kekerasan pada anak di tanah air kita sesungguhnya merupakan fenomena gunung es. Angka kejadian sebenarnya bisa jauh lebih banyak daripada yang terungkap secara nyata di kalangan masyarakat luas,” tulis seorang pemerhati. Hal paling menyedihkan dan sering dilupakan banyak orang, bahwa trauma yang dialami anak membuat mereka banyak kehilangan potensi bagi proses pengembangan karakter dan kepribadian mereka.

Manifestasinya, anak bakal kehilangan rasa percaya diri, gampang cemas, mudah putus asa, tumpul semangatnya, dan lain sebagainya. Atau bahkan sebaliknya, yakni menyimpan dendam terhadap pelaku kekerasan. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved