Breaking News:

Jurnalisme Warga

Syiah Kuala, Bapak Pendidikan Aceh

TAHUN 1976 saya melakukan alih aksara Kitab ‘Umdatul Muhtajin ila Suluki Maslakal Mufridin

Editor: bakri
Syiah Kuala, Bapak Pendidikan Aceh
IST
T.A. SAKTI, Penyumbang tulisan Sejarah Syekh Abdur Rauf As-Singkili dalam buku “Universitas Syiah Kuala Sejarah dan Nilai”, Syiah Kuala University Press, 2019, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH T.A. SAKTI,  Penyumbang tulisan Sejarah Syekh Abdur Rauf As-Singkili dalam buku “Universitas Syiah Kuala Sejarah dan Nilai”, Syiah Kuala University Press, 2019, melaporkan dari Banda Aceh

TAHUN 1976 saya melakukan alih aksara Kitab ‘Umdatul Muhtajin ila Suluki Maslakal Mufridin. Sejak saat itu tahulah saya bahwa Syekh Abdurrauf atau Syiah Kuala adalah ulama Aceh yang amat alim dan sangat tinggi ilmunya.

Abdurrauf As-Singkili bin Ali Al-Fansuri diperkirakan lahir pada tahun 1024 H/1615 M di Singkil. Ayahnya bernama Syekh Ali Al-Fansuri merupakan keturunan Arab dan menikahi wanita Fansur yang tinggal di Singkil. Dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrauf.

Abdurrauf kecil mendapat pendidikan dasar di desa kelahirannya, terutama dari ayahnya. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, Abdurrauf melanjutkan pendidikannya di Fansur. Fansur merupakan pusat pendidikan penting dan tempat yang mempertemukan kaum muslim Melayu dengan kaum muslim Asia Barat dan Asia Selatan.

Abdurrauf juga belajar kepada Syekh Syamsuddin As- Sumatrani di Banda Aceh. Belajar ke Saudi Arabia Abdurrauf berangkat ke Arab pada tahun 1052 H/1642 M untuk melanjutkan pendidikannya. Selama 19 tahun di Arab, beliau belajar pada 15 guru yang mengajarkannya tentang berbagai cabang disiplin ilmu dalam Islam dan 27 ulamanya lainnya yang ikut membimbingnya.

Syekh Abdurrauf belajar di sejumlah tempat yang tersebar di sepanjang jalan rute haji, dari Duha di wilayah Teluk Persia, Yaman, Jeddah, dan akhirnya Makkah dan Madinah. Pertemuannya dengan ulama-ulama hebat telah memberikan inspirasi dan terbentuknya wawasan sosio-intelektualnya yang lebih luas.

Sebagian besar ulama yang menjadi gurunya di Makkah termasuk dalam jaringan ulama yang hebat. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Makkah, ia melanjutkan perjalan ke Madinah untuk menuntut ilmu di sana. Di kota ini, dia berguru kepada Ahmad Al-Qusyasyi dan Ibrahim Al-Kurani. Syekh Abdurrauf juga menceritakan sendiri tentang pendidikannya.

Pada bagian penutup kitab ‘Umdatul Muhtajin ila Suluki Maslakal Mufridin, beliau menjelaskan bahwa selama di negeri Arab ia menuntut ilmu pada 15 orang ulama, yaitu: 1. Abdul Kadir Maurir di Mokha; 2. Imam Ali Thabari di Makkah; 3. Abdul Kadir Barkhali di Jeddah; 4. Abdul Wahid Khusyairi di ‘Ujail; 5. Ibrahim Abdullah Ja’man; Syekh Abdurrauf sangat lama belajar pada ulama ini, serta mendapat surat kesanggupan untuk menuntut ilmu pada Ahmad Qusyasyi di Baitul Faqih ibnu ‘Ujail. 6. Ahmad Janah di Baitul Faqih ibnu ‘Ujail; 7. Kadhi Ishak Muhammad Ja’man, ahli hadis di Zabid; 8. Muhammad Sati Bati di Zabid; 9. Abdurrahim di Zabid; 10. Siddiq Mazjaji di Zabid; 11. Abdullah Adani, qari dari Yaman, di Zabid; 12. Kadhi Muhammad di Luhaiyah; 13. Kadhi Umar Mahyiddin di Mawza; 14. Ahmad Qusyasyi di Madinah; dan 15. Burhanuddin Maula Ibrahim Al-Kurani di Madinah. Kembali ke Aceh SaatvSultan Iskandar Tsani memerintah Aceh, beliau menunjuk Nurudin Ar-Raniry sebagai Mufti Kerajaan Aceh.

Pengangkatan Nurudin Ar- Raniry sebagai Mufti Kerajaan Aceh menyebabkan terjadinya pergolakan antara pengikut aliran Wujudiyyah dengan pengikut Nurudin Ar-Raniry. Ekses dari pergesekan/pergolakan itu terjadilah pemburuan pengikut Hamzah Fansuri dan pengikut Syamsuddin As-Sumatrani, serta pembakaran kitabkitab yang dikarang oleh dua ulama tersebut, karena dianggap sebagai aliran sesat. Pembakaran dilakukan di depan Masjid Raya Baiturrahman Koetaradja (sekarang Banda Aceh).

Pergolakan antara dua golongan tersebut terus berlanjut sampai pada masa Sultanah Safiatuddin (1641-1675). Di awal masa pemerintahan sultanah telah terjadi pertukaran Mufti (Qadhi Malikul Adil) dari Syekh Ar-Raniry kepada Syekh Saiful Rijal, seorang ulama yang berasal dari Minangkabau. Melihat kondisi masyarakat yang makin hari semakin bingung dengan perdebatan tersebut, akhirnya Sultanah Safiatuddin memilih Saiful Rijal sebagai Mufti Kerajaan Aceh dan menyebabkan Ar-Raniry pulang ke negeri asalnya di Ranir, India. Pada saat itulah Syekh Abdurrauf pulang ke Aceh setelah mengembara mencari ilmu ke tanah Arab selama 19 tahun.

Beliau pulang ke Aceh sekitar tahun 1661 setelah mendapatkan ijazah dari gurunya Syaikh Ibrahim Al-Kurani. Setelah selesai penyelidikan (sejenis skrining), Sultanah pun mengangkat Syekh Abdurrauf untuk menduduki jabatan Kadhi Malikul Adil atau Mufti yang bertanggung jawab atas adminitrasi masalah-masalah keagamaan. Jabatan tersebut dipangkunya berturut-turut pada masa pemerintahan para ratu (sultanah) di Aceh (Safiatuddin, Naqiyatuddin, Zakiatuddin, dan Kamalat Syah).

Pada hakikatnya, saat pemerintahan tiga ratu yang terakhir di Aceh, Syekh Abdurrauf merupakan orang yang memegang kendali pemerintahan. Selama menjabat Kadhi Malikul Adil atau Mufti Kerajaan Aceh Darussalam, Syekh Abdurrauf telah menulis 22 judul kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Tarekat Syattariah Tarekat Syattariah pertama kali muncul di India pada abad ke-15 Masehi. Nama tarekat dinisbahkan kepada seorang tokoh pendirinya, yaitu Abdullah asy-Syattar. Tarekat Syattariah disebarluaskan di Kota Madinah dan Makkah oleh dua orang syekh yang sangat terkenal di Kota Haramayn, yaitu Ahmad Qusyasyi dan Ibrahim Al-Kurani. Sedangkan Tarekat Syattariah disebarkan ke Nusantara oleh Syekh Abdurrauf. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Syekh Abdurrauf merupakan seorang tokoh penengah antara pertentangan dua golongan, yaitu golongan Wujudiah pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As-Sumatrani serta golongan Syuhudiah Nuruddin Ar-Raniry.

Mengingat begitu ‘hausnya beliau terhadap ilmu pengetahuan” serta agungnya jasa, wibawa atau karisma Syekh Abdurrauf atau Syiah Kuala semasa hidupnya, alangkah pantasnya beliau diberi gelar “Bapak Pendidikan Aceh” serta diusulkan sebagai pahlawan nasional, sebagaimana pernah diusulkan tahun 1993, saat mengenang 300 tahun wafatnya. Terakhir, saya ucapkan selamat Milad Ke-60 pada 2 September 2021 kepada Universitas Syiah Kuala yang namanya ditabalkan dari nama besar Syekh Abdurrauf As-Singkili yang dijuluki Syiah Kuala.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved