Breaking News:

Opini

Pluralistik Partai; Perspektif Islam

Syariat Islam tidak pernah melarang adanya partai lebih dari satu, walaupun konsep multipartai

Editor: hasyim
Pluralistik Partai; Perspektif Islam
FOTO IST
Dr. Munawar A. Djalil, MA Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh

Oleh. Dr. Munawar A. Djalil, MA

Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh

Syariat Islam tidak pernah melarang adanya partai lebih dari satu, walaupun konsep multipartai terkadang mengakibatkan timbulnya perpecahan dan perselisihan di antara umat.

Itulah pendapat segelintir pemikir Islam di antaranya Imam Hasan Al-Bana yang pernah mengatakan “tidak ada partai dalam Islam”. Pendapat ini telah dijadikan hujjah oleh sebagian orang untuk menolak konsep multi partai.

Syahdan, pada zaman sekarang pluralitik partai menjadi keperluan politik yang utama bagi masyarakat. Sebab konsep ini bisa melindungi masyarakat dari dominasi mutlak seorang pemimpin atau satu partai saja. Fakta sejarah serta realita kehidupan membuktikan bahwa masyarakat yang dinominasi oleh suatu kekuatan akan kehilangan keberaniannya untuk mengatakan “tidak” atau “mengapa”.

Namun syariat Islam meletakkan dua syarat untuk konsep pluralistik partai. Pertama, setiap partai mesti mengakui akidah dan syariat Islam dan tidak memusuhi atau mengingkarinya. Tidak mengapa jika mereka memiliki pendapat-pendapat “ijtihadiah” yang khusus, selagi pendapat tersebut selaras dengan kaedah dan asas ilmu yang disahkan oleh Islam.

Kedua, tidak boleh ada satu partai pun yang berjuang atas nama pihak yang memusuhi Islam, apapun nama dan statusnya. Maka tidak boleh mendirikan partai yang bertujuan mengembangkan kemusyrikan dan atheisme. Terlebih lagi partai yang sengaja untuk mengecam dan merendahkan kemuliaan Islam.

Pluralistik partai dalam politik serupa dengan pluralistik mazhab dalam figh. Mazhab figh merupakan satu aliran pemikiran yang memiliki prinsip-prinsip khusus dalam memahami syariah dan manarik kesimpulan hukum daripadanya. Para pengikut mazhab pula merupakan murid-murid dalam aliran tersebut yang meyakini bahwa mazhab yang mereka ikuti lebih hampir kepeda kebenaran dan lebih lurus dibandingkan mazhab-mazhab lain.

Oleh karena itu mereka menjadi pendukung kepada mazhab tersebut. Dukungan mereka kepada satu mazhab tidak membaut mereka berpendapat bahwa mazhab yang lain itu salah.

Demikian juga partai ia merupakan satu mazhab dalam politik yang memiliki falsafah, prinsip dan manhaj tersendiri berdasarkan pemahaman mereka terhadap Islam. Anggota dalam satu partai serupa dengan para pengikut dalam satu mazhab figh. Mereka sama-sama memberikan dukungan kepada golongan yang lebih benar dan lebih banyak dipilih menurut penilaian mereka.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved