Breaking News:

Opini

Iblis dan Ekspresi Superioritas

Kemaksiatan yang menimbulkan kehinaan dan penyesalan lebih baik, daripada ketaatan yang melahirkan kebanggaan dan kesombongan

Editor: bakri

Oleh Adnan, Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

“Kemaksiatan yang menimbulkan kehinaan dan penyesalan lebih baik, daripada ketaatan yang melahirkan kebanggaan dan kesombongan” (Ibnu ‘Athaillah)

Iblis mulanya merupakan sosok makhluk yang pintar, luhur, dan taat kepada Tuhan. Konon ia telah diciptakan ribuan tahun sebelum penciptaan Nabi Adam as dan istrinya, Hawa. Secara leksikal, kata ‘Iblis’ disebut sebanyak 10 kali, dan kisahnya diulang-ulang (mutakarrir) dalam ragam surah Alquran yang dihubungkan dengan kisah Nabi Adam as.

Pakar Ulumul Quran, semisal Manna Khalil Al-Qattan, menyebut bahwa ketika suatu kisah diulang-ulang dalam Alquran menunjukkan urgensi kisah tersebut sebagai bahan refleksi umat manusia. Tapi, dalam perjalanannya Iblis menjadi sosok yang angkuh dan sombong tatkala kehadiran ciptaan baru, yakni Adam. Di sinilah awal mula pertarungan Iblis dengan manusia.

Adam as merupakan ciptaan Tuhan yang menjadi cikal-bakal pengembang-biakan manusia di muka bumi, sebagai ciptaan baru yang akan mengelola alam (Qs. Al-Baqarah: 30). Kini Adam as menjadi nenek moyang umat manusia hingga kiamat (Qs. An-Nisa’: 1). Maka, dalam Alquran manusia disebut dengan ragam istilah, semisal an-nass (makhluk sosial), al-ins (makhluk sempurna), al-insan (makhluk berpikir), basyar (makhluk biologis dan psikologis), dan bani adam atau dzurriyat adam (keturunan Adam as).

Istilah terakhir ini menunjukkan bahwa, umat manusia di muka bumi merupakan keturunan dari Adam as. Artinya, teori evolusi Charles  Darwin (1882 – 1809 M) yang menyebut manusia berasal dari kera (sinpanse) terbantahkan secara teologis.

Dialektika pertarungan Iblis dan Adam as dimulai sejak perintah Tuhan kepada seluruh ciptaan lain untuk sujud menghormati Adam as, setelah dibekali dengan pengetahuan. Ciptaan lain menuruti perintah Tuhan dengan sujud menghormati Adam as, kecuali Iblis (Qs. Al-Baqarah: 34). Iblis memandang bahwa ia tidak layak sujud menghormati Adam as. Sebab, Adam as merupakan ciptaan baru sedangkan Iblis ciptaan lama (senior–junior, tua–muda), Adam as diciptakan dari tanah dan Iblis diciptakan dari api (asal usul, primordial), dan Adam as dinobatkan sebagai khalifah di muka bumi sedangkan Iblis tidak, sehingga muncul kedengkian (obsesif kompulsif) (Qs. Al-A’raf: 12).

Dalam psikologi modern, alasan Iblis di atas enggan sujud menghormati Adam as dapat dipahami melalui teori superioritas yang dikembangkan oleh Alfred Adler (1937 – 1870 M).

Superioritas dapat dipahami sebagai suatu gangguan emosi yang menganggap dirinya ‘lebih’ dari yang lain. Hal ini dilakukan sebab ia tidak ingin dipandang rendah oleh pihak lain, meski hakikatnya pihak lain tidak pernah merendahkannya. Iblis termasuk tipe makhluk yang menganggap dirinya ‘lebih baik dan lebih mulia’ dari Adam as, baik dari sisi senioritas maupun asal usul penciptaan. Artinya, terjadi gangguan emosi pada Iblis ketika munculnya ciptaan baru yang dianggap ‘saingan bebuyutan’.

Lebih lanjut, Iblis rela diusir dari surga demi mempertahankan ego pribadi keliru (disorder) yang mengidap pada dirinya (Qs. Ash-Shad: 77). Bahkan, Iblis meminta kepada Tuhan untuk ditangguhkan usianya hingga kiamat, agar dapat menjerumuskan umat manusia dalam neraka Tuhan (Qs. Al-A’raf: 14-15). Maka, Alquran berpesan bahwa Iblis itu merupakan musuh yang nyata bagi manusia sampai kiamat. Sungguh merugi manusia yang terpedaya oleh rayuan dan tipuan Iblis sehingga enggan melaksanakan perintah dan menjauhkan larangan Tuhan (Qs. Al- Hijr: 39-40).

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved