Opini

Iblis dan Ekspresi Superioritas

Kemaksiatan yang menimbulkan kehinaan dan penyesalan lebih baik, daripada ketaatan yang melahirkan kebanggaan dan kesombongan

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Adnan, Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh 

Sikap primordial ini terkadang telah melahirkan sekat dalam kehidupan sosial, sehingga terganggu aktivitas sesama manusia sebagai khalifah di muka bumi. Secara makro, sikap ini terkadang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa.

Fakta sosiologis menunjukkan bahwa sikap primordial/kesukuan ini telah menimbulkan ragam konflik dalam berbagai setting area, baik lingkungan pertemanan, tempat bekerja, maupun sosial. Sebab, setiap orang telah menganggap dirinya ‘lebih mulia’, ‘lebih tua’, ‘lebih berhak’, ‘lebih kuasa’, ‘lebih dominan’, dan frasa lainnya.

Seluruh frasa yang digunakan itu merupakan bagian daripada ekspresi superioritas yang telah melekat pada diri iblis. Maka, jika ingin pertemanan langgeng sepanjang masa, budaya kerja meningkat, dan harmonis dalam kehidupan sosial, hendaknya menjauhkan segala bentuk frasa tersebut, lalu menumbuhkan sikap saling, semisal saling menghargai dan menghormati, toleransi, peka dan peduli, serta saling percaya.

Sebab, secara teologis hanyalah ketakwaan dan ketaatan sebagai pembeda (distingsi) seseorang atau sekelompok orang di hadapan Tuhan (Qs. Al-Hujurat: 13). Pangkat dan jabatan, harta benda, suku bangsa, keluarga dan relasi sosial, hanyalah instrumen yang dititipkan Tuhan agar dapat menjadi ladang kebaikan menuju ketakwaan dan ketaatan.

Ironis, bila ada orang yang menjadikan instrumen itu sebagai tujuan kehidupan, sehingga menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Padahal, kehidupan dunia hanya sementara, semu, dan penuh tipudaya, bahkan bagi mukmin hanya dianggap penjara semata (Qs. Al-Hadid: 20). Akan tetapi, Iblis mampu menggoda dan memperdaya manusia seakan-akan dunia kekal selama-selama.

Tipu daya iblis tentang kekekalan (khuld) bukan saja menimpa Adam as dan Hawa di dalam surga. Akan tetapi, tak sedikit perilaku manusia modern yang menunjukkan bahwa seakan-akan dunia ini kekal selamanya.  Alquran telah mengulang berkali-kali dalam ragam ayat dan surah bahwa dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat kekal selama-lama (Qs. Al-A’la: 17).

Ironis, kadang perilaku ini melekat pada diri ilmuan dan cendekiawan yang paham akan hakikat kehidupan yang sebenarnya. Sebab itu, manusia yang diciptakan dari unsur tanah mestinya dapat menggali filosofi tanah sebagai karakter diri, semisal menumbuhkan kebaikan dan menerima setiap kekurangan, sehingga menjadi insan yang berguna bagi sesama. Semoga!

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved