Breaking News:

Kupi Beungoh

Mutu Pendidikan Aceh Rendah, di Bawah Papua, Siapa yang Harus Mengundurkan Diri?

Mutu pendidikan Aceh saat ini sangat memprihatinkan. Indikatornya sangat jelas, yaitu nilai (kualitas, bukan kuantitas)

Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/Handover
Hasan Basri M. Nur, Anggota Madrasah Development Centre (MDC). 

Nilai UTBK anak-anak Aceh untuk ujian di jalur sains dan teknologi (saintek) berada di peringkat 24 dengan nilai rata-rata 486,67. Sementara nilai untuk jalur sosial dan humaniora (soshum), Aceh berada pada peringkat 26 dengan nila rata-rata 472,86.

Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) mengumumkan mutu pendidikan Aceh berada di bawah Papua Barat yang menempati rangking 22 dan Bengkulu yang masuk 17 besar. Sehubungan dengan itu, ada baiknya para pejabat Disdik di Aceh untuk melakukan studi banding ke Papua dalam rangka mengejar ketertinggalan dalam dunia pendidikan di masa mendatang.

Adapun tingkat kuantitas (banyaknya diterima di PTN), Aceh berada di rangking 8 nasional. Ini disebabkan Aceh memiliki lebih banyak PTN, mulai dari Aceh Timur, Tengah hingga Barat Selatan, dan mereka rata-rata lulus di PTN di daerah masing-masing. Artinya nyaris tidak ada persaingan nasional dalam hal ini.

Baca juga: Live Score BKN Aceh di 8 Titik Lokasi Ujian, Nonick Raih Skor Tertinggi di Sesi I 21 September 2021

Dari segi mutu atau daya saing pendidikan di level nasional (apalagi internasional), Aceh jauh tertinggal dari provinsi lain. Anak-anak Aceh kesulitan tembus ke PTN ternama di Pulau Jawa, seperti UI, ITB, ITS, Undip, Unpad, bahkan banyak yang kesulitan lulus pada prodi-prodi favorit di USK yang di depan mata orang Aceh.

Duh! Fakta ini seharusnya mampu membuat para pejabat pada Dinas Pendidikan Aceh memiliki rasa malu tampil di depan publik Aceh, apalagi dengan mengendarai mobil dinas yang mewah disertai ajudan dan sopir segala. (baca https://aceh.tribunnews.com/2021/03/17/pendidikan-aceh-di-zona-merah-pejabat-masih-lambong-lambong-kupiah)

Pada sisi lain, Aceh memiliki dana otonomi khusus dari APBN yang 20 persen dianggarkan untuk meningkatkan daya saing pendidikan, bukan untuk pengadaan wastafel sekolah yang mubazir itu atau bangun pagar dan proyek cilet-cilet lainnya.

Nah, melihat data dan fakta ketertinggalan mutu pendidikan Aceh, maka dalam kesempatan ini, sebagai rakyat Aceh kita layak mengajukan pertanyaan: Kapankah Kepala Dinas Pendidikan Aceh mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab atas kegagalannya dalam mengangkat mutu dan daya saing pendidikan Aceh di level nasional? Semoga!*

PENULIS adalah alumnus Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, saat ini sedang melanjutkan program PhD di Universiti Utara Malaysia dengan biaya mandiri, email: hasanbasrimnur@gmail.com

KUPI BEUNGOH adalah rubrik pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved