Opini
Tantangan Talenta Aceh di Era Revolusi Industri 4.0
Penulis merasa beruntung mendapat kesempatan untuk mengisi seminar dan kuliah tamu di berbagai instansi, jurusan dan program studi
Oleh Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng., Kepala Pusat Riset Telematika dan Dosen Prodi Teknik Komputer Universitas Syiah Kuala (USK) Tim Pengembangan Kurikulum IND 4.0 Erasmus+ USK
Penulis merasa beruntung mendapat kesempatan untuk mengisi seminar dan kuliah tamu di berbagai instansi, jurusan dan program studi. Tema yang sering diminta adalah pemanfaatan teknologi, kecerdasan buatan dan revolusi industri di berbagai disiplin ilmu. Hal ini sebenarnya bukanlah kebetulan, namun imbas dari implementasi revolusi industri 4.0 dan program kampus merdeka (diperkenalkan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim), yang menuntut universitas bekerja sama dengan sektor industri guna menyesuaikan kurikulum, menyiapkan talenta adaptif yang siap pakai di dunia kerja, sekaligus meningkatkan kolaborasi antarrumpun ilmu.
Imbas positifnya adalah telah terbentuknya iklim kolaborasi dan saling bertukar ilmu yang intens dan konstruktif. Sebagai contoh, penulis baru saja mengisi kuliah tamu di program studi magister arsitektur USK. Hal ini dikarenakan munculnya istilah Smart Building atau “Bangunan Pintar” yang menggabungkan antara desain bangunan yang ramah lingkungan serta dilengkapi fitur otomasi memanfaatkan komputer dan kecerdasan buatan.
Di beberapa negara maju, smart building telah diterapkan dalam menyesuaikan suhu ruangan, efisiensi listrik dengan bantuan komputer, dan lain-lain. Selain program studi arsitektur, kini telah pula muncul istilah baru seperti smart home (rumah pintar), smart city (kota pintar), intelligent transportation (transportasi pintar), dan lain-lain.
Di bidang pendidikan khususnya level universitas, implementasi kampus merdeka ini telah membuka berbagai peluang bagi mahasiswa untuk mengasah minat mereka, di antaranya mengikuti magang di berbagai perusahaan teknologi skala nasional, pertukaran pelajar antaruniversitas, dan mengikuti program sertifikasi yang diselenggarakan oleh lembaga terpercaya (misal Microsoft, IBM, Coursera, dan lain-lain).
Menurut penulis, kesempatan magang di berbagai perusahaan teknologi di bawah program kampus merdeka ini makin membuka peluang mahasiswa untuk memahami kultur dan atmosfir perusahaan sedari awal. Dengan ini, pasca kelulusan, diharapkan mahasiswa mampu makin siap bersaing di dunia kerja, sekaligus meningkatkan skill mereka di bidang minat yang mereka sukai.
Penulis merasa ini adalah sebuah upaya yang baik dalam mencetak talenta yang unggul dan adaptif seperti disampaikan oleh Mas Menteri Nadiem. Nadiem menyebutkan, perguruan tinggi memiliki potensi untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) unggul tercepat. Menurutnya, SDM yang ditempa dari mulai kuliah di perguruan tinggi sampai ke dunia nyata dalam rangka membangun Indonesia itu sangat cepat.
“Potensi kalau kita bisa meningkatkan kualitas perguruan tinggi kita terutama S1, di mana kebanyakan mahasiswa kita itu ada di S1 ini adalah cara tercepat untuk membangun SDM unggul,” ujarnya (sumber: Kompas).
Lantas bagaimana perguruan tinggi di Aceh menyesuaikan dengan program kampus merdeka ini? Beberapa program studi USK saat ini memenangkan hibah kampus merdeka skala nasional yang akhirnya membuka peluang pelaksanaan aktivitas yang mampu membuka wawasan mahasiswa dan tenaga pengajar. Tercatat beberapa realisasi program kampus merdeka di USK telah mengundang berbagai narasumber baik nasional maupun internasional.
Tidak hanya itu, telah banyak mahasiswa yang mengikuti pelatihan, magang hingga pertukaran pelajar baik ke UGM, dan kampus-kampus lainnya. Jika kampus merdeka merupakan refleksi implementasi revolusi industri skala nasional, di skala internasional pun telah muncul program-program serupa yang berfokus dalam pengembangan kurikulum dan lain-lain.
Di skala internasional ini, USK juga secara aktif terlibat dalam pengembangan kurikulum program studi revolusi industri 4.0 di bawah program Erasmus+ Eropa. Kegiatan ini melibatkan 15 partner konsorsium baik dari universitas maupun institusi dari Asia dan Eropa yaitu dari Malaysia terdiri dari Universiti Teknologi Mara, Universiti Teknologi Malaysia dan Universiti Kuala Lumpur, dari Kamboja terdiri dari University of Heng Samrin Thbongkhmum, University of Battambang, dan Mean Chey University.
Dari keterlibatan baik nasional dan internasional ini, menurut penulis, sedikit banyak telah menjelaskan posisi institusi pendidikan di Aceh dalam era revolusi industri yang kian hari kian dinamis dan menantang.
Menurut penulis, Aceh memiliki tantangan yang berbeda dalam menghasilkan lulusan-lulusan adaptif sesuai tujuan kampus merdeka di atas. Ketersediaan lapangan kerja di Aceh tentu sangat sedikit jika dibandingkan dengan ibukota Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Oleh karena itu, lulusan-lulusan perguruan tinggi di Aceh haruslah mampu berkompetisi di skala nasional.
Kampus merdeka yang menekankan penguasaan teknologi terkini, lalu dikombinasikan dengan pengajaran di kelas (konvensional), semoga mampu menjawab tantangan ini. Yang terpenting adalah jangan sampai era teknologi yang berkembang begitu pesat ini tidak dijadikan momentum dalam menyiapkan talenta-talenta terbaik di Aceh.
Mahasiswa harus senantiasa diberikan bekal terbaik dari sisi keilmuan, dan di saat yang sama tenaga pengajar dan institusi diharapkan memiliki keinginan kuat untuk melakukan transformasi dari sisi tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-kahlil-muchtar.jpg)