Kamis, 30 April 2026

Opini

Tantangan Talenta Aceh di Era Revolusi Industri 4.0

Penulis merasa beruntung mendapat kesempatan untuk mengisi seminar dan kuliah tamu di berbagai instansi, jurusan dan program studi

Tayang:
Editor: bakri
FOTO/IST
Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng., Kepala Pusat Riset Telematika dan Dosen Prodi Teknik Komputer Universitas Syiah Kuala (USK) Tim Pengembangan Kurikulum IND 4.0 Erasmus+ USK 

Keterlambatan melakukan penyesuaian akan berdampak pada talenta-talenta masa depan Aceh. Tentu kita masih ingat dengan sejarah perusahaan Nokia yang saat itu menguasai pasar ponsel, dan terlalu “nyaman” dengan produk ponselnya saat itu. Namun Nokia tidak siap dalam penyesuaian produk menuju era ponsel pintar dengan fitur layar sentuh. Akhirnya, Nokia tidak lagi menguasai pasar hingga hari ini.

Pelajaran ini tentu juga menjadi renungan bagi instansi pendidikan di Aceh agar terus mengikuti perkembangan teknologi. Tidak hanya program studi eksakta, kini teknologi telah masuk ke berbagai bidang, baik perikanan, biologi, kedokteran, hingga bidang ekonomi.

Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan penyesuaian secara komprehensif, tepat sasaran, dan efisien.

Tulisan ini penulis tutup dengan pelajaran luhur dari nenek moyang kita dalam kesungguhan menuntut ilmu, bertransformasi serta tidak lelah mengajarkannya.

Tercatat Syaikh Ismail Al-Asyi yang rela meninggalkan serambi mekkah untuk memperbaharui ilmu ke Mesir dan tanah haram. Ia dengan gigih menuntut ilmu dan meninggalkan karya besar, yaitu dengan mentashihkan serta menghimpun kitab lapan dan tajul muluk, yang merupakan karya besar para ulama Aceh seperti Syekh Abdurrauf Assingkili dan lainnya.

Tidak hanya itu, ia juga aktif dalam organisasi perhimpunan pelajar Aceh di Mesir dan tercatat sebagai ketua mahasiswa melayu pertama di Mesir (sumber: kmamesir.org).

Dari inspirasi Syaikh Ismail Al-Asyi yang melambangkan kegigihan orang Aceh dalam menuntut ilmu dan memberikan pengaruh pada komunitasnya, sudah sepatutnya para pendidik di Aceh tidak pernah lesu, penuh semangat, transformatif dan adaptif.

Alfatihah untuk Syaikh Ismail Al-Asyi, dari penulis yang selalu kagum dengan sepak terjangnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved