Breaking News:

Jurnalisme Warga

Perasaan Miris di Tengah Meroketnya Harga Sawit

Dua hari berturut-turut masuk pesan menggembirakan ke handphone saya. Tanggal 4 Oktober 2021 dikabarkan bahwa harga tandan buah segar

Editor: bakri
Perasaan Miris di Tengah Meroketnya Harga Sawit
FOR SERAMBINEWS.COM
H. SYUHAIMI, S.H., petani sawit di Aceh Singkil, melaporkan dari Singkil

OLEH H. SYUHAIMI, S.H., petani sawit di Aceh Singkil, melaporkan dari Singkil

Dua hari berturut-turut masuk pesan menggembirakan ke handphone saya. Tanggal 4 Oktober 2021 dikabarkan bahwa harga tandan buah segar (TBS) sawit di Aceh Singkil naik menjadi Rp 2.380/kg. Esoknya, dikabarkan bahwa harganya naik lagi jadi Rp 2.390/kg. Alhamdulillah. Ini kabar gembira bagi kami petani sawit. Belum pernah dalam sejarah persawitan di Aceh Singkil dan sekitarnya harga sawit meroket sedahsyat pada bulan Oktober ini.

Namun, di luar rasa syukur atas kabar gembira ini, muncul juga rasa miris di hati. Soalnya, harga sawit yang meroket tinggi itu belum dirasakan benefitnya oleh sebagian masyarakat petani sawit di Aceh Singkil yang sudah lama mengelola kebunnya.

Sejauh yang saya amati, ada beberapa faktor penyebab mengapa hal itu terjadi, antara lain:

1. Petani sawit kita selama ini kurang optimal mengelola kebunnya. Tidak dirawat denga baik, ilalang masih menyemak, pakis kawat dibiarkan berkembang, pohon kayu kecil terus bertambah, dan kacangan dibiarkan menjalar ke pohon, bahkan hutannya lebih tinggi daripada pohon sawit.

2.  Cara tanam sawit masyarakat sangat berbeda dengan perusahaan. Kalau perusahaan, sebelum tanam sawit terlebih dahulu dibuat infrastruktur, terasan/tapak kuda, gawangan, dan lain-lain,  barulah sawit ditanam. Kalau masyarakat, karena terbentur modal, mereka tanam sawit duluan baru kemudian bikin infrastruktur jalan dan lain-lain. Sehingga, banyak petani kita mengalami kendala di kemudian hari karena dalam merawat, memupuk, panen, maupun pengangkutan TBS/benda lainnya sering terkendala karena ketiadaan atau keterbatasan infrastruktur penunjang.

3. Kesadaran dan pemahaman cara mengelola kebun agar berkembang dengan baik juga masih rendah, karena minimnya pengetahuan serta sosialisasi dari pihak berkompeten, seperti bimbingan dari penyuluh pertanian/perkebunan serta stakeholders lainnya.

4. Kesadaran dan keterbatasan modal para petani dalam merawat dan memupuk. Sebagian sawit masyarakat pada umumnya jarang dipupuk, bahkan sangat banyak lebih dari empat tahun tidak dipupuk dengan alasan toh buahnya tetap ada meski tak dipupuk. Nah, kondisi ini sangat berdampak terhadap kesehatan dan perkembangan tanaman, apalagi produksi untuk jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

4. Ketika harga sawit tinggi seperti saat ini, sebagian petani sawit yang selama ini tak peduli terhadap perawatan, pemupukan, panen yang salah/asal, bahkan cuek, dan hanya mengambil buahnya saja, tentu tidak merasakan nikmatnya harga sawit yang meroket tinggi saat ini dan belum pernah terjadi  dalam sejarah persawitan di Aceh Singkil.

5. Minimnya kesadaran untuk merawat dan memupuk kebun sawit sesuai standar, tidak hanya terjadi di lingkungan kelompok tani yang kecil saja. Pada kelompok tani yang memiliki modal besar juga terjadi hal demikian, karena berbagai faktor. Misalnya, ada keperluan/kebutuhan yang mendesak, menunda momen yang tepat,  keterbatasan modal/tenaga kerja, dan sebagainya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved