Opini
Karantina Haji Pulau Rubiah Perlu Dilestarikan
Cita-cita mengunjungi Pulau Rubiah, Kota Sabang, akhirnya terpenuhi. Meskipun sudah beberapa kali menikmati
Oleh.TEUKU MUTTAQIN MANSUR, pelawat, melaporkan dari Pulau Rubiah, Kota Sabang
Cita-cita mengunjungi Pulau Rubiah, Kota Sabang, akhirnya terpenuhi. Meskipun sudah beberapa kali menikmati indahnya panorama wisata laut Iboih, tapi menyeberang ke Pulau Rubiah baru kali ini dapat saya lakukan.
Dengan mengendarai sepeda motor, saya bergegas menuju Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, pada 5 Oktober 2021 sekira pukul 9 pagi. Kapal Aceh Hebat 2 akan berangkat pada pukul 11 hari itu. Ada yang menarik kali ini, pembelian tiket kapal disyaratkan menunjukkan sertifikat vaksin Covid-19. Beruntung saya membawanya. Ada seorang ibu di dekat saya ditolak pembelian tiketnya oleh petugas karena tak dapat menunjukkan sertifikat vaksin.
Ternyata, penerapan kebijakan baru tersebut baru dimulai hari itu. Namun, jangan khawatir, bagi penumpang yang belum punya sertifikat vaksin, otoritas Pelabuhan Ulee Lheue menyediakan layanan penyuntikan vaksin bagi penumpang.
Terdengar aba-aba dari petugas, kendaraan bermotor dipersilakan masuk lebih dahulu ke dalam kapal. Dengan hati-hati saya pacu sepeda motor yang sedari tadi parkir menaiki jembatan penyeberangan memasuki kapal. Sudah ada sejumlah truk, mobil pribadi, dan sepeda motor lainnya terparkir rapi di dalam kapal. Para petugas mengarahkan dengan baik agar kendaraan bermotor yang diparkir dalam kapal untuk tidak menghalangi jalan bagi penumpang lain.
Setelah berlayar satu setengah jam, Kapal Aceh Hebat 2 tiba di Pelabuhan Balohan, Sabang. Perjalanan saya kali ini dalam rangka mengisi kegiatan Bimbingan Teknis bagi Pegiat Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Sabang di lingkungan pendidikan.
Acara akan diselenggarakan pada esok harinya. Sebenarnya, saya akan dijemput oleh panitia di Balohan, tapi saya sampaikan kepada Pak Masduki, Kepala BNN Kota Sabang, bahwa saya tidak perlu dijemput. Saya akan datang dengan sepeda motor.
Kunjungi Pusat Karantina Haji
Ditemani Bung Myki (Marzuki), salah seorang kolega pendamping masyarakat adat laot, kami menikmati sejumlah destinasi wisata yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Gua Sarang yang disebut-sebut sebagai Raja Ampatnya Aceh ikut saya jajaki. Selanjutnya, ke Kilometer Nol (Km 0)-nya Indonesia, dan beberapa tempat lain kami nikmati. Terakhir, mengunjungi Pulau Rubiah.
Barangkali, masih banyak pembaca yang tidak tahu bahwa Pulau Rubiah selain sebagai surganya taman bawah laut bagi para wisatawan yang hobi menyelam, juga menyimpan sejarah semangat umat Islam nusantara untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah. Ya, di pulau ini terdapat Pusat Karantina Haji pertama di nusantara yang dibangun tahun 1920 oleh kolonial Belanda.
Pulau Rubiah terletak sekitar 350 meter dari Pantai Iboih. Untuk sampai ke pulau, kita dapat menyewa speedboat nelayan sekitar 300 ribu-an pulang-pergi. Beruntung, kolega saya, Bung Myki memiliki banyak mitra (nelayan) dampingannya di kawasan Iboih, sehingga pemilik speedboat yang mengantarkan kami ke seberang tidak mematok harga yang harus kami bayar.
Setelah menyeberangi laut sekitar tujuh menit dengan boat fiber berukuran 5 meter, kami pun tiba di Pulau Rubiah. Saya turun perlahan dari boat, disusul Bung Myki dan pawang (nahkoda) boat. Selanjutnya, kami susuri jalan setapak ke arah kanan pelabuhan. Sekitar 100 meter dari pelabuhan, kami jumpai sebuah makam yang agak mencolok. Makam tersebut adalah makam Siti Rubiah, perempuan dari Singkil, istri seorang ulama yang wafat di situ pada tahun 1779. Nama Siti Rubiah kemudian dinobatkan menjadi nama Pulau Rubiah.
Sebelum sampai di makam, ada sejumlah anak tangga di sebelah kiri menuju ke bukit Pulau Rubiah, tempat bangunan karantina haji yang menjadi tujuan utama kunjungan kami. Satu per satu anak tangga kami naiki. Di sisi kanan kiri tampak belukar. Sepertinya kawasan ini sudah lama tak terurus.
Saya cukup bersemangat hendak segera tiba di tujuan utama. Namun, betapa kagetnya, ketika mendapati tiga bangunan permanen berwarna putih sudah lusuh, tak terawat, dan mulai tertutup rimbunan hutan. Jika saja tidak ada yang menceritakan tentang pusat karantina tersebut, barangkali saya tidak tahu bahwa di situ tersimpan bukti sejarah semangat umat Islam menunaikan ibadah haji pada masa penjajahan Belanda dulu.
Menurut beberapa literasi yang saya baca, pada masa awal pembangunannya, ada beberapa gedung yang dibangun di atas lahan seluas 10 hektare di pulau tersebut. Gedung-gedung tersebut difungsikan sebagai tempat karantina jamaah haji yang hendak ke Makkah dan sebaliknya saat kembali dari Makkah. Namun, Belanda dalam menyediakan fasilitas tersebut bukan tanpa tujuan. Ada agenda lain dari pihak kolonial, yakni dengan menyediakan fasilitas mereka berharap agar umat Islam menaruh simpati pada mereka, serta tidak lagi melakukan perlawanan kepada penjajah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-t-muttaqin.jpg)