Breaking News:

Opini

Politik Ulama untuk Masa Depan Aceh

ACEH sebernarnya punya modal sosial yang sangat baik dalam penegakan syariat Islam yang mampu menjadi landasan kemajuan dan kebangkitan

Editor: bakri
Politik Ulama untuk Masa Depan Aceh
For Serambinews.com
Tgk Rasyidin Ahmad, SE, S.Sos.I Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Pidie, Pimpinan Dayah NURA Tijue, Sigli

Oleh Tgk Rasyidin Ahmad, SE, S.Sos.I Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Pidie, Pimpinan Dayah NURA Tijue, Sigli

ACEH sebernarnya punya modal sosial yang sangat baik dalam penegakan syariat Islam yang mampu menjadi landasan kemajuan dan kebangkitan. Modal sejarah, masyarakat yang sangat fanatik kepada agama, ulama, dan hal-hal lain yang bersifat keagamaan.

Namun perihnya, syariat Islam di Aceh tidak lebih seperti kerakap di atas bebatuan di tengah segala keistimewaan serta regulasi yang ada pada kekhususan Aceh, termasuk yang terakhir dengan UU No 11 Tahun 2006 yaitu UUPA. Ini semua memanng ada hal yang melatarbelakanginya, antara lain karena akrabnya Aceh dengan sejarah peperangan yang menumbuhkan negatif sosio-cultural seperti pengkhianatan, saling curiga, tidak saling percaya, serta rentan terhadap hasutan dan adu domba. Kondisi ini tentu saja mempengaruhi Aceh secara keseluruhan, termasuk kepemimpinan baik formal dan nonformal.

Maka bagaimana mungkin kita harapkan syariat Islam berjalan ideal dalam kondisi seperti ini, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa tidak ada pemimpin Aceh baik pra dan pasc damai yang tahu dan memahami syariat Islam dengan pemahaman mayoritas masyarakat Aceh.

Kita juga melihat kurangnya iktikad baik untuk memprioritaskan syariat Islam di Aceh. Kondisi ini semakin diperparah oleh berbagai ungkapan rendah yang berlaku dalam masyarakat Aceh khususnya, dan dunia Islam umumnya tentang politik dalam irisannya dengan ulama yang pada gilirannya membuat ulama dan umat menjauh dari kepemimpinan.

Padahal, ia merupakan penentu kebijakan terhadap umat Islam, sehingga umat Islam pun terus termajinalkan. Kita mendengar ungkapan- ungkapan rendah yang terus diulang-ulang oleh sebagian orang yang mungkin adalah pemikiran warisan penjajah, seperti “politik itu kotor”, mimbarmimbar harus dibersihkan dari pembicaraan tentang politik.

Ungkapan lainnya, misalnya bahwa Islam wajib untuk tidak ikut campur dalam urusan politik dan ungkapan- ungkapan lain yang pada gilirannya menjadikan kaum muslimin lari dari aktivitas politik. Sesungguhnya, inilah awal dari kerusakan. Apa yang harus dilakukan? Tentunya ulama tetap berpegang teguh kepada Alquran. Surat Ali Imran ayat 104 tegas meminta kita umat Islam agar “Hendaklah ada sebagian di antara kalian umat yang menyeru kepada yang kebaikan (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran”.

Jadi, ulama sebagai pemegang otoritas keagamaan sudah seharusnya melakukan sesuatu jika tidak mungkin melakukan semuanya untuk memperbaiki keadaan ini. Terlebih dalam ranah politik yang sangat menentukan seluruh aspek lainnya.

Bisa saja dengan mempersiapkan kader-kader terbaik untuk berkhidmat di berbagai sektor kehidupan dalam kontek perbaikan dan politik salah satu yang harus menjadi perhatikan utama, sebagaimana juga bidang-bidang lainnya yang ada kemungkaran di sana. Tujuan utama turut andilnya ulama di berbagai bidang dan mungkin khususnya politik adalah untuk perbaikan. Untuk ini tentu saja harus dipersiapkan kader yang mampu berkontestasi dalam alam demokrasi dengan politik liberalnya, sambil terus menawarkan paradigma politik makna (politik of meaning) yang berbasis moral.

Namun, untuk tujuan ini tentu saja banyak hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan terlebih dahulu seperti memperbaiki ruang pemahaman politik untuk para santri dan masyarakat juga agar siap berjalan di atas jalan yang penuh dengan onak dan duri. Namun yang pasti, ranah politik (kebijakan) kalau dilaksanakan dengan baik niscaya akan memberikan banyak kebaikan kepada umat. Terlebih bila konsep pemikiran wasathiyah yang menjadi ruh dari ajaran Alussunnah wal jama’ah bisa berlaku dan tentu saja ini butuh waktu dan dukungan serta keseriusan kita semua.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved