Jurnalisme warga
Mengenal Gunongan dan Fansyuri Lewat Pertukaran Mahasiswa
Pertama sekali menginjakkan kaki di Serambi Mekkah, kesan pertama saya adalah tegaknya syariat Islam yang mengatur seluruh kehidupan masyarakat

Bagi saya, sosok Hamka adalah ulama yang sangat terdepan pemikirannya. Hal ini terbukti dengan banyaknya karya beliau yang masih dikenang, dibaca, dan dikaji hingga saat ini. Tidak hanya buku pengetahuan Islam, ulama ini juga menghasilkan karya sastra. Jika Hamzah Fansyuri banyak menghasilkan karya sastra berupa syair, Hamka justru banyak menghasilkan karya prosa pada masa angkatan Pujangga Baru. Karyanya yang terkenal sampai saat ini dan sempat difilmkan berjudul ‘Di Bawah Lindungan Kakbah’ dan ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’.
Buya Hamka sendiri mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik pada siapa pun. Kita ketahui bersama bahwa Buya Hamka pernah menjadi tahanan politik pada masa Orde Lama, tapi beliau tetap berkenan menjadi imam saat shalat jenazah Ir Soekarno, sosok yang pernah memenjarakannya. Sungguh sebuah pelajaran hidup dari seorang ulama yang patut kita teladani. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Itulah sekilas tentang pengetahuan sejarah yang saya pahami. Semoga dengan program pertukaran mahasiswa merdeka ini akan banyak lagi perguruan tinggi luar Aceh yang melakukan kolaborasi dengan perguruan tinggi di Aceh dalam pengembangan studi pengetahuan melalui pertukaran mahasiswa. Tak hanya itu, mahasiswa luar juga bisa melakukan riset tentang aspek sosial-budaya dan wisata yang ada di Aceh karena Aceh kaya akan sejarah, budaya, dan destinasi wisata yang menarik.