Situs Purbakala
Kadis Dikbud Uswatuddin: tak Ada Niat Merusak Areal Situs Ceruk Mendale
Uswatuddin juga menyebutkan bahwa program pemeliharaan Ceruk Mendale sama sekali tidak merusak lubang galian arkeologis yang ada di Mendale.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
Lubang-lubang galian menurut Ketut, juga memilik arti besar dalam aktivitas dan ilmu arkeologi.
"Kalau lubang galian ditimbun, mengurangi nilai dan makna temuan arkeologi itu sendiri," tukasnya.
Aktivis Komunitas Gayo Prasejarah yang juga penyair, Salman Yoga menyerukan, kepada Pemerintah Aceh Tengah untuk menghentikan penataan kawasan Ceruk Mendale.
Karena, menurut Salman, kegiatan tersebut berpotensi merusak areal galian arkeologi yang menyimpan jejak Gayo Prasejarah.
"Kami menyerukan agar hentikan penggalian sampai ada perencanaan yang matang dengan melibatkan ahli arkeologi, planologi kota dan kawasan, para seniman, dan sebagainya,” ujar Salman.
“Sebab, yang saat ini kami saksikan di lapangan, penataan justru merusak areal yang sangat berharga itu," lanjut Salman Yoga yang beberapa waktu lalu merekam pembacaan puisi tentang jejak Gayo Prasejarah dalam rangka peringatan Hari Purbakala Nasional.
Salman menyatakan, penataan kawasan Ceruk Mendale , Ujung Karang, Loyang Pukes, dan sebagainya, memang diperlukan.
Tapi, tukasnya, bukan berarti bisa dilakukan secara ceroboh yang justru berakibat fatal.
"Silakan tanya dan konsultasikan dan pihak terkait, paling utama tim arkeologi pimpinan Dr Ketut Wiradnyana yang selama 10 tahun melakukan penelitian dan penggalian arkeologi di kawasan itu," ucapnya.
"Apa yang kami saksikan di lapangan sangat menyedihkan, main beko saja tanpa mempertimbangkan sisi sisi arkeologisnya," tukas Salman Yoga.
Sementara itu, Koordinator Komunitas Gayo Prasejarah, Fikar W Eda menyebutkan, Ceruk Mendale, Ujung Karang, Pukes, dan lokasi-lokasi arekologis lainnya di seputar Danau Laut Tawar harus diselamatkan dengan cara yang benar dan dilakukan hati-hati dan terencana.
"Libatkan ahlinya, terutama Pak Ketut dkk dari Balai Arkeologi Sumut yang melakukan penelitian dan penggalian di sana,” paparnya.
“Itu temuan sangat berharga, antara lain telah mengubah teori penyebaran manusia di Asia Tenggara. Karena itu, kita harus peduli dan matang soal ini," pungkas Fikar.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tampak-penataan-ceruk-mendale-yang-dinilai-sangat-ceroboh.jpg)