Breaking News:

Opini

Pesona Sunset dari Puncak Sigantang Sira, Trumon

Akhir pekan lalu saya mendatangi objek wisata Puncak Sigantang Sira yang berada di atas lahan perbukitan seluas 25 hektare

Editor: hasyim
Pesona Sunset dari Puncak Sigantang Sira, Trumon
Foto/Ist
ROSMAYANI, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Trumon, Aceh Selatan

ROSMAYANI, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Trumon, Aceh Selatan

Akhir pekan lalu saya mendatangi objek wisata Puncak Sigantang Sira yang berada di atas lahan perbukitan seluas 25 hektare. Objek wisata ini dikembangkan oleh pengusaha muda bernama Tgk Abrar Muda. Mantan tokoh GAM Aceh Selatan ini bertekad menciptakan objek wisata baru yang mampu mendorong kemajuan sektor pariwisata di kabupaten penghasil pala tersebut. Objek wisata Puncak Sigantang Sira yang berada di Gunong Pinto Angen Trumon, tepatnya di Gunung Kapur, diresmikan langsung oleh Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, walaupun pada saat peresmian masih dalam tahap pembangunan.

Sejak digarapnya pekerjaan ini pada Oktober 2020 lalu, kehadiran tempat wisata itu menjadi magnet baru yang mampu menarik para wisata baik lokal maupun luar, termasuk saya yang tertarik mendatangi tempat tersebut. Puncak itu dijadikan tempat wisata karena kita bisa melihat bagaimana keadaan alam dan hamparan laut yang mengelilinginya, sehingga masyarakat tak pernah jenuh untuk datang.

Saya mendatangi puncak yang dinamakan Puncak Sigantang Sira ini karena diajak teman. Kami naik sepeda motor (sepmor) ke sana. Waktu tempuh dari rumah saya ke objek wisata ini sekitar setengah 45 menit. Untuk sampai ke atas dataran tinggi itu kami harus melewati tanjakan Gunung Kapur yang terdapat di Kecamatan Trumon Tengah. Di tanjakan Gunung Kapur ini kita harus hati-hati karena tanjakannya begitu tinggi dan tikungannya tajam.

Jika berkunjung ke tempat ini dalam keadaan hujan, haruslah berhati-hati dikarenakan tanahnya yang licin akibat diguyur air hujan. Jangan sampai jatuh atau terpeleset. Pada saat memasuki persimpangan puncak gunung tersebut kita pun harus lebih hati-hati karena jalannya yang berbatu lantaran masih dalam masa pembangunan. Untuk masuk ke area tersebut, pengunjung belum dipungut biaya atau tiket masuk. Suatu saat mungkin akan dipungut bayaran.

Bukit Sigantang Sira merupakan salah satu destinasi wisata dataran tinggi yang menawarkan sensasi berbeda kepada pengujung. Tempat ini semakin dikenal oleh netizen dan wisatawan karena pesona lautan dan gunungnya yang menjulang tinggi. Banyak pengunjung ke tempat ini hanya untuk menikmati sunrise di pagi hari dan sunset menjelang senja. Jika kita berada di Aceh Selatan belum lengkap rasanya jika kita belum menikmati panorama alamnya dari atas puncak Sigantang Sira Pinto Angen yang terletak di Kecamatan Trumon. Dari dataran tinggi ini pula kita dapat menikmati lautan dan pesona alam, serta keindahan Pulau Dua Bakongan Timur di tengah hamparan Samudra Hindia serta hijaunya pepohonan yang sangat memanjakan mata para pengunjung.

Sayangnya, di puncak Sigantang Sira belum tersedia makanan dan minuman untuk dinikmati pengunjung. Hanya ada sebuah warung kecil, sehingga masih belum mampu memenuhi kebutuhan pada pengunjung. Itu sebab, kebanyakan pengunjung yang datang ke sini membawa sendiri bekalnya dari rumah. Setiap hari puluhan pengunjung datang ke sini untuk sekadar menikmati panorama alam yang sangat eksotik. Pada hari-hari tertentu, khususnya hari libur dan weekend, pengunjung yang datang mencapai ratusan orang. Mereka datang dengan mobil atau sepmor probadi.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, di hamparan yang sudah terbentang indah itu akan dibangun sejumlah vila dan sebuah musala. Sekarang masih dalam tahap pembangunan. Nantinya juga akan ada area permainan bagi anak-anak. Dengan demikian, para orang tua yang membawa anak-anaknya tamasya ke tempat ini tidak bosan berada di atas dataran tinggi atau hanya berfoto-foto saja, tetapi juga bisa menikmati permainan khusus untuk anak.Jujur saja, kami mengunjung tempat itu dengan semangat yang membara, dikarenakan ingin berfoto-foto dan ingin mengahabiskan waktu bersenda gurau di atas puncak sambil menikmati panorama yang terhampar luas di bawahnya. Kami sengaja membawa bekal dari rumah untuk dinikmati bersama-sama. Jika kita beli makanan di tempat ini relatif mahal sedikit harganya. Ini sangat bisa dimaklumi, karena pedagang di sana membutuhkan tenaga lebih untuk menaikkan barang jualannya ke atas puncak Sigantang Sira.

Makanan yang dijual di puncak itu, hanya mi instan tumis dan air kelapa muda. Tak ada pilihan lain. Itu sebab, pengunjung lebih memilih membawa bekal sendiri dari rumah. Spot yang bagus untuk mengambil gambar pada saat berfoto di puncak ini adalah di pinggirnya, karena viewnya lebih indah. Namun, jika berada di dataran tinggi ini setiap pengunjung harus berhati-hati, jangan terlalu dekat ke pinggiran dataran tinggi, karena khawatir nanti jatuh ke lembahnya yang begitu dalam. Di puncak ini juga terdapat fasilitas yang sederhana, berupa kursi dan meja yang dibuat dari ban mobil dan ban sepmor bekas. Biasanya, pengunjung berebutan duduk di kursi itu dikarenakan tidak tersedia banyak, hanya sekitar sepuluh buah saja. Orang berada di kursi itu seringnya hanya untuk mengambil gambar saja, dikarenakan bentuknya yang unik.

Puncak itu diratakan dengan beko dan masih ada tanah liatnya. Jika hujan, tanah tersebut licin. Namun, pengunjung tak hilang rasa inginnya untuk mendatangi puncak tersebut hanya untuk menghabiskan waktu melihat sunrise di pagi hari dan sunset pada sore hari. Pengunjung banyak yang menghabiskan waktunya pada sore hari di tempat ini dengan menikmati panorama alam yang begitu indah.

Dari bagian bawah dataran tinggi itu jika kita melihat ke puncak terlihat begitu menarik. Lokasi ini digarap dua tingkat (undak) dengan satu dataran luasnya sama dengan dataran yang kedua. Namun, pengunjung lebih banyak mendatangi dataran yang paling tinggi tersebut. Sekarang masih dalam tahap penggarapan juga. Sepertinya, akan dibuat satu undakan lagi yang posisinya lebih tinggi dari undakan satu dan dua. Masyarakat setempat berharap akan dibuka lowongan kerja bagi warga setempat di objek wisata baru ini, termasuk diberikan akses kepada warga lokal untuk membuka warung kecil-kecilan di sekitar objek wisata ini untuk menggairahkan perekonomian masyarakat setempat.

Semakin banyak warga yang berjualan di puncak itu nantinya, sehingga pengunjung tak perlu lagi membawa makanan dan minuman dari rumah. Satu hal yang amat perlu dijaga di puncak ini, yakni jangan bermaksiat dan jangan pula meninggalkan sampah, terlebih sampah plastik yang tak mudah terurai secara alami. Perlu juga diingat agar tidak meninggalkan tempat ini dalam suasana gelap, misalnya di atas waktu magrib, karena di sini belum tersedia lampu-lampu jalan. Semakin malam Anda pulang dari tempat ini justru akan mempersulit Anda berkendara di tengah gelap, karena belum ada lampu penerang jalan. Tinggalkanlah tempat ini, dengan segala keindahannya, sebelum azan magrib berkumandang.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved