Kamis, 23 April 2026

Pojok Humam Hamid

Whoosh: Utang Politik, Utang Negara, dan Akal Sehat

Whoosh kini melesat di atas rel yang tidak hanya membawa penumpang, tapi juga membawa beban politik, utang negara, dan harapan rakyat. 

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Ringkasan Berita:Artikel ini mengulas tentang keberhasilan Prabowo naik ke kursi presiden bukan hanya karena karisma pribadi, melainkan hasil kombinasi dukungan Jokowi, mesin birokrasi, dan jaringan oligarki.
Proyek kereta cepat Whoosh dijadikan metafora tentang bagaimana negara membangun: ambisi besar, eksekusi cepat, tapi pengawasan lemah.
Artikel ini menekankan perlunya transparansi, akuntabilitas, dan akal sehat agar pembangunan tidak hanya menjadi hiburan politik, melainkan solusi nyata bagi rakyat.

 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

PRESIDEN Prabowo kini sudah setahun lebih berdiri di puncak piramida kekuasaan Indonesia, namun pondasi piramida itu bukan sepenuhnya hasil tangannya sendiri. 

Batu-batu di dasar piramida telah disusun lebih dulu oleh kekuasaan sebelumnya, dan sebagian bahkan masih menyimpan cap tangan lama: Jokowi, Luhut, dan jaringan oligarki yang menenun struktur kekuasaan di sekeliling istana.

Dalam politik Indonesia, tak ada kekuasaan yang benar-benar baru; yang ada hanyalah kekuasaan yang diwariskan, dengan semua beban, syarat, dan utangnya.

Kemenangan Prabowo di Pemilu lalu bukanlah semata hasil karisma atau strategi personal. 

Ia adalah kombinasi antara apa yang dimiliki oleh Prabowo beserta kalkulasi kekuasaan Jokowi, logistik politik, dan mesin birokrasi yang bekerja di bawah slogan “melanjutkan.” 

Dari sanalah muncul apa yang disebut sebagai utang politik, bentuk paling halus dari perjanjian kekuasaan: siapa yang naik, harus menjaga kontinuitas.

Siapa yang berutang legitimasi, harus menanggung warisan yang menyertainya.

Kini, suka tak suka, Prabowo menerima kursi presiden, tetapi juga menerima nota tagihan dari masa lalu.

Salah satu tagihan terbesar itu bernama Whoosh, proyek kereta cepat Jakarta–Bandung, kebanggaan era Jokowi yang kini berubah menjadi ujian pertama bagi akal sehat pemerintahan baru.

Di atas kertas, Whoosh adalah proyek modernitas, bukti bahwa Indonesia mampu sejajar dengan Jepang atau China. 

Namun di lapangan, Whoosh berubah menjadi medan ujian antara teknokrasi dan politik, antara disiplin fiskal dan keberanian simbolik.

Keberanian Politik Atau Manuver Populis?

Bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, proyek ini adalah mimpi buruk yang berwujud dalam angka-angka: pembengkakan biaya, ketidakjelasan pembiayaan, dan tekanan politik agar negara turun tangan menutup defisit. 

Purbaya menolak dengan tegas.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved