Breaking News:

Opini

Menangkap Maling Aceh

Penyebutan kata “maling” bagi koruptor mungkin masih terdengar janggal. Ada yang bilang, itu kurang cocok disematkan bagi pejabat

Editor: hasyim
Menangkap Maling Aceh
IST
Asmaul Husna, Dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dan pegiat di Forum Aceh Menulis (FAMe)

Asmaul Husna

Asmaul Husna, Pegiat di Forum Aceh Menulis (FAMe)

Penyebutan kata “maling” bagi koruptor mungkin masih terdengar janggal. Ada yang bilang, itu kurang cocok disematkan bagi pejabat. Karena selama ini kata “maling” identik dengan perbuatan jahat yang dilakukan oleh masyarakat menengah ke bawah. Seperti maling motor, maling ayam, atau bahkan maling jemuran.

Namun ternyata dalam dunia permalingan, kata “maling” masuk dalam jajaran kasta terendah dalam mengambil hak orang lain. Kata “koruptor” terkesan lebih elegan. Karena kita belum pernah mendengar ketika pencuri ayam ditangkap dan diadili oleh warga kampung, kemudian pelakunya disebut dengan koruptor ayam. Belum pernah.

Padahal efek yang ditimbulkan koruptor lebih mematikan daripada maling ayam itu sendiri.

Korupsi termasuk dalam jenis kejahatan berat. Maling boleh jadi hanya mencuri seekor ayam, tapi koruptor bisa mencuri hingga satu provinsi, bahkan seluruh isi negeri. Namun tulisan ini tidak bermaksud membahas tentang ayam. Apalagi jenis-jenis ayam. Kita sedang membahas dunia permalingan, bukan per-ayaman.

Citra dan aroma maling

Walau terdengar janggal, kini beberapa media ternama nasional telah beralih menggunakan kata “maling” untuk penyebutan koruptor. Ini adalah bentuk upaya media untuk menggambarkan citra bahwa tidak ada istilah elegan untuk koruptor. Penggantian penggunaan kata oleh media, mungkin hanyalah sebuah upaya sederhana. Namun penggunaan bahasa sangat memengaruhi konstruksi berpikir masyarakat.

Jika kata “maling” dianggap lebih hina, lalu mengapa harus keberatan jika kata yang sama digunakan untuk menggantikan kata “koruptor?” Bukankah koruptor tidak lebih mulia dari maling?

Di Aceh sendiri, aroma “permalingan” juga tercium di banyak tempat. Mulai dari proyek miliaran hingga pengurusan administrasi gratis yang dibungkus dengan istilah peng ie ataupun ucapan terima kasih. Fee yang didapat dari dua istilah tersebut boleh jadi tidak banyak. Tetapi tanpa disadari, itu adalah bentuk tindakan kita membumikan korupsi. Dimulai dari yang kecil, hingga lama-lama mengakar kuat, seolah-olah peng ie dan fee berbungkus ucapan terima kasih menjadi biaya wajib yang harus diberikan. Jika tidak, kita menjadi orang yang seolah tidaktahu terima kasih.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved