Minggu, 3 Mei 2026

Salam

Ancaman Kelaparan di Afghanistan, Siapa Iba?

Di tengah keragu-raguan banyak pemimpin dunia terhadap Pemerintahan Taliban di Afghanistan, Perdana Menteri negeri itu

Tayang:
Editor: bakri
AFP/Hoshang Hashimi
Jamshid Ahmad, bersama keluarganya duduk di dalam kamp pengungsi di Herat, Afghanistan seusai dideportasi dari Iran pada 19 Oktober 2021 

Di tengah keragu-raguan banyak pemimpin dunia terhadap Pemerintahan Taliban di Afghanistan, Perdana Menteri negeri itu --yang ditunjuk Taliban-- Mullah Mohammed Hassan Akhund malah meminta dunia untuk mengatasi ancaman kelaparan massal warga Afghanistan.

Sampai kemarin,  ekonominya kian buruk, situasi politik di negeri yang baru dikuasai Taliban beberapa, bulan lalu itu juga belum membaik.

Baca juga: Gadis Afghanistan Dari Sampul Majalah Terkenal National Geographic 1984 Dievakuasi ke Italia

Baca juga: BNPT Ungkap Ustaz Farid Okbah Lulusan LIPIA Tergabung Kelompok JI, Alumni Kombatan Afghanistan

Baca juga: Setiap Sore Hari, Bus Penuh Sesak dari Iran Tiba di Islam Qala, Afghanistan

Mullah Mohammed Hassan Akhund menyerukan kebaikan hati dunia internasional untuk tidak menahan bantuan mereka karena Afghanistan saat ini terancam kelaparan massal.

Bahkan, karena kondisi perekonomian Afganistan yang kian parah, akibat inflasi, Taliban pun meminta kepada Amerika Serikat membuka sekitar $10 miliar dana Aghanistan yang dibekukan setelah Taliban mengalahkan pemerintahan sebelumnya pada pertengahan Agustus 2021.

Sharbat Gula,
Sharbat Gula, "gadis Afghanistan" bermata hijau dalam foto sampul National Geographic 1985 yang terkenal, itu diambil pada 1984 dan lagi pada 2016. (AFP/Stan Honda)

Hassan Akhund juga berjanji pihaknya tidak akan menganggu masalah internal negara lain jelang pertemuan PBB mendatang di Doha.

Pimpinan Taliban itu menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang didukung AS sebagai penyebab ancaman kelaparan, pengangguran, dan krisis keuangan Afghnistan.

"Jika uang Afghanistan dilepaskan, semua masalah keuangan dan ekonomi akan terpecahkan."

Baca juga: Iran Menampung Pengungsi Terbesar di Dunia, Sebagian Besar dari Afghanistan Sejak 40 Tahun Lalu

Delegasi Taliban yang dipimpin penjabat menteri luar negeri mereka, Amir Khan Muttaqi pekan lalu mengadakan pembicaraan dengan pejabat AS di Doha, Qatar.

Amir Khan Muttaqi berusaha membujuk AS agar mengeluarkan uang dan melanjutkan bantuan kemanusiaan ke negara itu. 

Warga Afghanistan pendukung pemerintah sebelumnya yang masih sembunyi juga dituduh Akhund sebagai penyebab kian memburuknya situasi ekonomi, keuangan, dan politik di negeri itu.

"Bangsa, waspadalah. Mereka yang tersisa dari pemerintah sebelumnya yang bersembunyi menyebabkan kecemasan, menyesatkan rakyat untuk tidak mempercayai pemerintah sekarang," kata Akhund.

PBB baru-baru ini mengatakan bahwa lebih setengah dari hampir 40 juta orang di Afghanistan menghadapi kelaparan akut.

Satu juta anak-anak bisa meninggal karena musim dingin yang keras.

Baca juga: Iran Deportasi Kembali Pengungsi Afghanistan ke Taliban, Walau Ada Ancaman Kelaparan

PBB juga memperingatkan pada pertengahan 2022 sebanyak 97% dari negara itu bisa hidup dalam kemiskinan, naik dari sekitar 72% pada tahun 2020.

Masalah itu merupakan salah satu masalah kelaparan terburuk dalam beberapa dekade.

Meski “berkampanye” dengan isu kemanusiaan, antara lain ancaman kelaparan massal, akan tetapi hingga kini AS dan negara-negara lain belum mengakui Taliban sebagai pemerintah Afghanistan yang sah.

Beberapa negara mengakhiri bantuan ke Afghanistan.

Warga Afghanistan turun dari bus Iran di perbatasan Afghanistan dan Iran di pelabuhan Islam Qala pada 19 Oktober 2021.
Warga Afghanistan turun dari bus Iran di perbatasan Afghanistan dan Iran di pelabuhan Islam Qala pada 19 Oktober 2021. (AFP/Hoshang Hashimi)

Demikian juga Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional sudah mengatakan menyetop pinjaman internasional ke Afghanistan.

Negara-negara Barat secara tegas sudah berjanji mempertahankan blokade ekonomi mereka terhadap penguasa baru Afghanistan sampai Taliban menciptakan pemerintahan yang inklusif dan mengakui hak-hak perempuan.

Selain negara barat, beberapa negara Asia juga masih “melihat-lihat dan menunggu” janji Taliban yang ingin memerintah secara lebih moderat.

Pemerintah Taliban di Afghanistan saat ini memang sangat maskulin. Semua 53 anggota kabinet Akhund adalah laki-laki, dan berasal dari jajaran Taliban.

Lalu, perempuan Afghanistan sangat dilarang bekerja menjadi profesional.

Taliban beralasan, pengucilan terhadap perempuan dari pekerjaan sebagai uapaya  menyelamatkan martabat perempuan.

Demikian juga pemisahan kelasan wanita dan laki-laki di sekolah. "Hari ini, wanita di Afghanistan aman dan tidak ada yang bisa meremehkan mereka," kata Akhund.

Sebaliknya, pengucilan perempuan itu pula yang menjadi alasan bagi banyak negara untuk menahan bantuan kemanusiaan kepada Afghanistan.Nah?!

Baca juga: 5.000 Pengungsi Afghanistan Memasuki Iran Setiap Hari, Dewan Pengungsi Norwegia Minta Bantuan

Baca juga: Amerika Serikat Khawatirkan Peningkatan Serangan ISIS-K di Afghanistan

Baca juga: Terdesak Kebutuhan Keluarga, Orangtua di Afghanistan Nekat Jual Anaknya yang Masih 9 Tahun

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved