Salam
Semeru Tanpa EWS, Warning Bagi Aceh
Erupsi Gunung Api Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang terjadi pada Sabtu (4/12/2021) sore mengakibatkan 13 orang meningga
Erupsi Gunung Api Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang terjadi pada Sabtu (4/12/2021) sore
Mengakibatkan 13 orang meninggal, puluhan orang mengalami luka bakar
Memaksa ribuan warga dua kecamatan mengungsi.
Banyaknya jatuh korban karena sebelumnya gunung berapi itu tidak memberikan isyarat apapaun
Bahwa ia akan memuntahkan awan panas bercampur debu.
Kepala Pusdalops Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Bambang Surya Putra mengakui tidak ada peringatan dini atas peristiwa yang berdampak pada warga di Lumajang, Jawa Timur itu.
Pertanyaannya, mengapa tak ada peringatan dini agar warga terhindar dari bencana letusan gunung berapi itu?
Karena ketiadaan Early Warning System (EWS), pemerintah dinilai kurang siap mengantisipasi bencana alam di Kabupaten Lumajang.
Padahal alat itu penting untuk mendeteksi dini bencana.
"Alarm (EWS) gak ada, hanya sismometer di daerah Dusun Kamar A.
Itu untuk memantau pergerakan air dari atas agar bisa disampaikan ke penambang di bawah," kata seorang pejabat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang.
Menurutnya, sebelum bencana itu menghantam, alat seismoter tersebut membaca getaran kenaikan debit air mencapai 24 amak.
Namun, aktivitas vulkanik Gunung Semeru secara visual tidak terlihat lantaran saat itu Gunung Semeru tertutup kabut tebal.
“Tapi dari kamera CCTV pos pantau (Gunung Sawur) terlihat kepulan namun tidak terekam getaran," ujarnya.
Minimnya, peringatan serta edukasi soal bahaya lava panas juga diduga menjadi penyebab korban tak sempat menyelamatkan diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/meninggal-dunia-dalam-keadaan-berpelukan.jpg)