Kupi Beungoh
Tidak Cocok CERAIKAN; Semudah Itukah?
Bagi laki-laki bercerai tidak membawa pengaruh apapun, tinggal cari lain begitu katanya. Namun bagi perempuan tentu membawa pengaruh buruk
Dalam ayat lain disebutkan
“maka istri-istri yang shaleh itu ialah yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karenanya Allah telah memelihara (menjaga) mereka,” (QS. An Nisa: 34).
Sedangkan pekerjaan lain seperti mengurus rumah, memasak, mengurus piring kotor, baju kotor bisa di delegasikan kepada orang lain seperti laundry, asisten rumah tangga (pembantu) jika ada kelebihan materi, kalo tidak ada, bisa berbagi tugas dengan suami istri atau dengan anggota keluarga lainnya, agar istri tidak merasa lelah dan jenuh sendiri.
Ketiga, Salah Dalam Niat Menikah.
Setiap melakukan sesuatu, tentu ada niat ada tujuannya, bagi seorang muslim tujuan setiap aktivitasnya tentu mencari ridho Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut ini:
“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Demikian dalam pernikahan, jika diniatkan karena Allah, diawali dengan istikharah minta petunjuk kepada Allah, dan meminta restu orang tua, Insya Allah rumah tangganya akan Allah jaga, akan Allah mudahkan dalam perjalanannya.
Jikapun kemudian PERCERAIAN itu juga terjadi, karena alasan yang sesuai syariat, salah satu atau keduanya melakukan hal yang dilarang syari'at dan tidak dapat di maafkan, tentu Allah punya rencana yang terbaik untuk keduanya.
Pernikahan karena Allah, tentu keduanya akan saling menjaga, saling belajar, saling menguatkan, saling memaafkan, saling berbaik sangka, sabar, berlomba lomba meminta maaf jika melakukan kesalahan, dan saling menjaga tugas dan kewajiban masing-masing karena takut kepada Allah SWT.
Keempat, Cara Komunikasi Yang Salah.
Suami istri umpama dua kaki yang sama fungsinya, akan pincang jika ketiadaan salah satunya, akan sakit jika salah satunya sakit bahkan tidak bisa beraktifitas jika salah satunya sakit, Intinya tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh dipisahkan.
Karena itu, komunikasi yang di bangun harus sejajar, seperti kekasih dengan kemanjaanya, seperti sahabat yang setia mendengar keluh kesahnya, seperti teman yang perhatian dan siap membantunya.
Bukan seperti atasan dan bawahan " PAKEK KATA SERU , SELALU DENGAN NADA DAN KATA PERINTAH "
Memperhatikan karakter pasangan bagus juga dalam menjaga komunikasi, sebagai contoh suami yang karakternya VISUAL, dapat dilihat dari sikapnya yang tidak banyak ngomong, peduli dengan penampilan, kalau berbicara singkat, tampil rapi. Komunikasi dengan suami yang karakter seperti ini baiknya lewat tulisan jika ingin panjang lebar, boleh di kertas atau melalui gadget , Whatshap.
Jika ingin bercerita langsung Jangan kecewa, setelah kita bercerita panjang lebar sampai setengah jam, jawabannya mungkin hanya " oya", " begitu ya dek ". Karena demikian karakternya, tidak bisa dipaksakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ainal-mardhiah11111.jpg)