Kupi Beungoh
Tidak Cocok CERAIKAN; Semudah Itukah?
Bagi laki-laki bercerai tidak membawa pengaruh apapun, tinggal cari lain begitu katanya. Namun bagi perempuan tentu membawa pengaruh buruk
Jika ada masalah, membahas masalah secara langsung dengan suami yang karakter seperti ini, jangan kaget akan terjadi keributan, tidak selesai masalah dah ribut duluan. Kalau pun perlu menyampaikan secara langsung, untuk hati puas dan lega, dapat menggunakan kalimat yang baik, mengawali dengan kata-kata "minta maaf terlebih dahulu".
Kemudian bersabar dengan responnya, yang mungkin tidak menyenangkan, yang mungkin nampak kesal. Sesungguhnya itu respon, gambaran dari karakternya, namun sesungguhnya mungkin perlu waktu untuk mencerna, dan berfikir dan menerima apa yang disampaikan pasangan yang akan tampak nanti dari perubahan perilakunya.
Atau misalnya ketika ada masalah, ketika ingin meminta tolong membeli sesuatu, atau ingin suami ikut acara penting kita atau acara anak-anak, karena bagi orang yang visual (mata), dengan melihat itu yang teringat yang berkesan, baiknya diberitahukan secara tertulis, dikertas atau di kirim pesan lewat media sosial sehingga dapat dilihat dan dibaca berulang untuk mengingatkannya.
Kalau dipesan disampaikan dengan lisan, orang seperti ini akan lupa, sehingga ribut akhirnya, merasa tidak diperhatikan, tidak dipentingkan, lalu muncul buruk sangka dan lainnya.
Atau masalah keuangan rumah tangga, agar tidak terjadi keributan, mengapa cepat kali habis uang belanja, padahal menurut suami baru saja di kasih uang belanja kok dah habis
Untuk suami dengan karakter visual seperti ini, baiknya di tulis dengan detail rincian pengeluaran setiap bulan agar suami tau, tulisan tersebut di gantung di tempat suami biasa duduk, intinya bisa dilihat oleh suami ketika dia duduk, agar suami tau kemana saja alokasi uang sudah kita pergunakan, sampai cepat kali habis.
Kalau tidak demikian, akan terjadi buruk sangka, dan lama kelamaan menjadi masalah besar dan ribut.
Atau suami yang karakter auditorial, dapat kita lihat dari antara lain banyak ngomong, sampai susah berhenti, tidak rapi, tidak peduli penampilan, kalau ditanya sesuatu dijawab panjang lebar. Untuk suami dengan karakter auditorial, baiknya komunikasi secara langsung, disampaikan langsung apa yang dibutuhkan apa yang menjadi masalah, karena mendengar bagi orang seperti ini lebih berkesan, lebih mudah dicerna.
Atau suami yang model kinestetik, ingin terus bergerak, melakukan hal-hal baru, sebagai istri harus terus belajar, terus memantaskan diri, belajar memahami dan menerima keadaan masing-masing pasangan, belajar mengkomunikasikan, kalau perlu ikut melibatkan diri dengan kegiatan suami.
Kelima, Tidak Menjaga Diri.
Berawal dari pandangan, kemudian hadir keinginan, berlanjut pada pendekatan, keakraban baik di dunia nyata maupun di dunia maya, dihembus pelan oleh syaitan
Karena itu mata bisa menjadi faktor timbulnya keinginan dalam hati, maka syariat Islam, memberi solusi bagaimana menjaga diri kita terhadap pasangan orang lain atau perempuan/laki-laki yang bukan pasangan kita yang sah,
1. Memerintahkan kepada kita untuk menundukkan pandangan kita, terhadap sesuatu yang dikhawatirkan menimbulkan akibat yang buruk,
Seperti disebutkan dalam ayat berikut ini:
”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).
Menundukkan pandangan mata merupakan dasar dan sarana untuk menjaga diri dan menjaga kemaluan.
2. Jangan Mendekati Zina
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32).
Rasulullah SAW, mengingatkan tentang hal-hal atau jalan yang dapat sampai kepada perzinaan, dalam hadis berikut ini:
”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa di pungkiri, mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan), Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dilarang Berduaan dengan Yang Bukan Muhrim.
, "Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua." (HR. Ahmad).
Berduaan, bisa di makna dengan duduk berdua didunia nyata laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim ditempat yang sepi tanpa ada orang lain bersamanya.
Atau duduk ditempat keramaian, dengan gedget nya, handphonenya, sedang berkumunikasi dengan seseorang yang bukan muhrim, bukan dalam urusan pekerjaan, bukan urusan pengobatan, perdagangan, pendidikan, tapi dalam hal yang bisa menimbulkan fitnah, atau jalan perzinaaan, atau rusak rumah tangga orang lain atau rumah tangganya sendiri.
Demikian sempurnanya Islam menjaga umatnya dari hal yang dapat merusak keutuhan rumah tangganya. Keutuhan rumah tangga seorang muslim itu penting dan prioritas, karena itu adalah salah satu sendi dalam kehidupan seorang Muslim. Jika salah sendi rusak, sakitlah seluruh tubuh atau seluruh sendi kehidupan, bahkan bisa berakibat pada rusak sendi kehidupan lainnya, hingga akhirnya pelan pelan, Islam ini akan hancur, akan hilang tanpa kita sadari.
*) PENULIS Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ainal-mardhiah11111.jpg)