Jurnalisme warga
Membangun Masyarakat Siaga Bencana dan Tangguh Bersama
Bencana alam secara sains atau ilmu pengetahuan dipahami sebagai fenomena alam yang terus terjadi
Oleh. Ir. FAIZAL ADRIANSYAH, M.Si., Geolog Senior Aceh dan Kepala Pusat Pelatihan dan Pengembangan serta Kajian Hukum Administrasi Negara (Puslatbang KHAN) RI, melaporkan dari Banda Aceh
Bencana alam secara sains atau ilmu pengetahuan dipahami sebagai fenomena alam yang terus terjadi dalam rangka alam mencari keseimbangan.
Artinya, bencana alam akan terus berulang, karena itu gunung api meletus berulang-ulang pada masa-masa tertentu. Gempa dan tsunami juga demikian.
Menurut para ahli, tsunami di Indonesia sudah terjadi 172 kali dalam rentang tahun 1600-2012. Di Aceh sendiri pernah terjadi sebelas kali tsunami, tentu sebagiannya pada masa purba (7.400 dan 5.400 tahun lalu). Konon pindahnya pusat kerajaan Aceh dari Lamuri/Lamreh ke Gampong Pande juga karena terjangan tsunami pada masa itu.
Apa yang bisa dijelaskan sains tentang bencana alam hanya sebatas fenomena fisik, penyebabnya dan bagaimana mengurangi risiko yang ditimbulkannya.
Bagaimana menghentikan bencana? Sains tidak berdaya. Karena itu, sampai di sini kita harus tafakur dan berserah diri kepada Allah. Hanya Allah yang bisa menghentikan bencana, tentu dengan ketaatan dan kepatuhan kita kepada-Nya.
Peringatan tsunami tahun ini, jatuh pada hari Ahad kemarin, 26 Desember 2021, mengingatkan kita akan kejadian tsunami 17 tahun lalu saat gempa dan gelombang tsunami menerjang Aceh bertepatan juga pada hari Ahad, 26 Desember 2004.
Peringatan tsunami bukanlah untuk membuka luka lama ataupun melihat lembaran kelam bencana, melainkan tujuan kita adalah untuk tafakur merenung akan kebesaran Allah sekaligus berdoa untuk para syuhada tsunami agar Allah ampuni dosanya dan ditempatkan dalam taman-taman surga kelak.
Dan, kepada kita yang diizinkan Allah untuk tetap hidup pascatsunami agar menata diri untuk lebih baik dalam akhlak dan ibadah, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal kehidupan yang akan datang.
Peringatan adalah penting bagi kita untuk menata masa depan yang lebih baik, jangan sampai kembali terulang korban yang besar apabila bencana datang.
Bencana dan korban
Bencana dan korban adalah dua hal yang berbeda. Bencana tak bisa kita kontrol dan kendalikan, karena ini fenomena alam yang terus berulang.
Namun, semua itu tidak akan terjadi kalau tidak ada izin Allah Swt. Sedangkan korban bencana adalah upaya dan ikhtiar kita untuk memperkecilnya, bahkan bila mungkin menghindarinya.
Bagi orang beriman, sekalipun bencana tak dapat dikendalikan, tapi dengan membangun hubungan yang baik dengan Sang Pencipta dan alam ciptaan-Nya maka bencana bisa saja tidak akan terjadi.
Tragedi memilukan
Hari Ahad pagi, 26 Desember 2004, mentari bersinar seperti biasa menyapa penghuni Bumi. Pagi itu, tepatnya pukul 07:58’:53”, saat masyarakat Aceh sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, tiba-tiba dikejutkan oleh getaran bumi yang dahsyat.
Gempa 9,1 SR, versi lain menyebutkan 9,3 SR, menimbulkan kepanikan di mana-mana. Sesaat kemudian alam pun memberikan isyarat ganjil; air laut mendadak surut, ikan menggelepar, perahu nelayan yang sandar tiba-tiba kandas, burung camar, burung bangau putih terbang menuju daratan dalam kepanikan.
Namun, sebagian kita tidak pandai membaca tanda-tanda alam (sasmita) seperti saudara-saudara kita di Pulau Simeulue. Mereka hampir semua selamat dari hantaman gelombang pasang tsunami karena kearifan lokal “smong”.
Kisah tsunami yang melanda dan menghancurkan Simeulue pada Januari 1907 tersampaikan melalui penuturan kearifan lokal di masyarakat yang dinamakan “nafi-nafi”, sehingga 97 tahun kemudian ketika tsunami menerjang Simeulue masyarakatnya telah siaga bencana.
Korban harta benda tak terelakkan, tapi korban manusia akibat tsunami hanya tiga orang. Sedangkan di daratan Aceh, ribuan orang meregang nyawa.
Gelombang dahsyat “tsunami”, gelombang maut yang menakutkan, kecepatan gelombangnya dari pusat gempa sekitar 700 km per jam. Ini setara dengan kecepatan pesawat jet antarbenua.
Tsunami datang semakin mendekati daratan semakin tinggi menggunung ibarat “karpet yang digulung”. Jeritan kesakitan, kematian menggema, takbir, tasbih, dan tahlil menyertai kepergian sebagian syuhada tsunami.
Hanya dalam hitungan menit, ratusan ribu mayat bergelimpangan, ribuan anak-anak jadi yatim piatu, ribuan perempuan jadi janda, ribuan bangunan kebanggaan manusia hancur berkeping, kecuali sebagian besar rumah tempat manusia sujud masih berdiri kokoh dan tegar. Itulah masjid, “rumah Allah”, seakan memberikan pesan dari langit.
Tsunami tak hanya menghancurkan Aceh, gelombang maut ini terus merayap ke utara menghantam Andaman, memorakporandakan Pukhet di Thailand, kemudian merangsek ke Sri Lanka dan India.
Tujuh jam kemudian, tsunami menerjang pantai timur Afrika, yaitu Somalia, Madagaskar, dan Tanzania. Korban manusia berjatuhan di mana-mana, yang terbesar di Aceh mencapai 126 ribu jiwa, di Sri Lanka 45 ribu jiwa, di Andaman dan Nikobar 12 ribu jiwa, di Thailand 4.500 jiwa.
Begitu dahsyatnya tsunami. Menurut PBB, korban akibat tsunami keseluruhannya adalah 229.826 orang hilang dan 186.983 meninggal. Kerugian material, menurut Bappenas, Rp 41,4 triliun atau sekitar 2,7% dari kegiatan ekonomi nasional tahun itu.
Tsunami 26 Desember 2004 tidak hanya menimbulkan duka yang mendalam bagi Aceh dan Indonesia, tapi dunia pun ikut menangis dan turut berduka.
Maka, kita telah menyaksikan solidaritas dunia tertuju ke Aceh. Tsunami mempersatukan umat manusia dan telah meruntuhkan sekat-sekat geografis, kesukuan, kebangsaan, ras, warna kulit, dan agama.
Kini, 17 tahun sudah tsunami berlalu. Anak-anak kita yang kini berusia 17 tahun mereka tak tahu tentang tsunami Aceh karena saat itu baru lahir.
Anak-anak kita yang kini mahasiswa sebagian besar mereka juga tak ingat tsunami, karena masih balita, bahkan mungkin di antara mereka ada yang sempat hanyut bersama air, hilang dari lingkungan keluarganya, dan berbagai hal lain yang memilukan terjadi dalam suasana panik dan menegangkan 17 tahun lalu.
Kita yang menjadi saksi dahsyatnya tsunami perlahan sudah mulai berkurang dan menghilang seiring dengan usia dan kematian. Lama-kelamaan saksi sejarah tsunami akan tidak ada lagi.
Apakah kisah tsunami Aceh juga akan hilang seiring dengan lenyapnya generasi penyintas tsunami Aceh? Tentu tidak, karena kita tidak ingin anak cucu kita melupakan sejarah.
Justru, dengan sejarah tsunami ini kita ingin membangun mereka menjadi masyarakat yang siaga bencana sehingga terbangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
Aceh sebagai wilayah yang memiliki potensi bencana alam sekaligus potensi sumber daya alam hendaknya mampu menatap masa depan yang lebih optimis dengan memanfaatkan secara tepat sumber daya alamnya untuk melindungi masyarakatnya dari ancaman bencana alam ke depan.
Pemukiman kembali masyarakat di sekitar pantai harus ditata kembali. Tempat-tempat evakuasi penyelamatan (escape building) disiapkan secara baik agar fungsional dan bermanfaat, tidak seperti yang kita saksikan saat ini: nyaris tidak terurus. Demikian juga akses jalan-jalan yang dapat menuntun ke tempat yang aman harus disiapkan.
Permukiman yang wilayah daratan pantainya sempit karena langsung berbatasan dengan bukit, maka perlu disiapkan akses jalan ke bukit (escape hill) untuk evakuasi bila tsunami kembali datang.
Demikian juga kesiapan penanganan pascabencana harus juga menjadi prioritas, seperti sumber daya manusia terampil yang menangani korban bencana, peralatan medis yang cukup, dan stok logistik yang selalu siap menghadapi bencana.
Yang lebih penting dari itu semua adalah menjadikan masyarakat Aceh sadar betul bahwa kita hidup bersama bencana dan harus selalu siaga bencana dan membangun ketangguhan bersama.