Jurnalisme Warga
Menikmati Aneka Kuliner di Taman Nan Asri, Paopia Garden
Pengunjung dapat menikmati menu kesukaannya di beberapa tempat, baik itu tempat terbuka maupun tertutup
OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakutas Ekonomi Universitas Almuslim, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Banda Aceh
Banda Aceh adalah kota metropolitannya Provinsi Aceh.
Di kota inilah berbagai usaha berkembang, salah satunya usaha kuliner.
Masyarakat Aceh dikenal menyukai aneka ragam sajian kuliner, begitu juga yang ditawarkan di kota ini.
Pengunjung dapat menikmati menu kesukaannya di beberapa tempat, baik itu tempat terbuka maupun tertutup.
Pemilik usaha selalu berupaya memanjakan pengunjung/pelanggan dengan berbagai konsep yang menarik.
Salah satunya adalah kafe yang biasanya berupa toko atau rumah tua besar yang ditata semenarik mungkin dan instagramable.
Di Aceh saat ini tempat nongkrong atau kafe menjamur di mana-mana, tapi anehnya selalu ramai, apalagi setelah kasus pandemi Covid-19 menurun.
Pengunjungnya tidak hanya anak muda, tetapi juga orang tua, baik yang datang sendirian maupun bersama keluarga.
Kunjungan liburan saya dan keluarga ke Kota Banda Aceh hari Jumat lalu menjadi kenangan tersendiri.
Sore itu kami bingung mau duduk ngopi di mana, tiba-tiba ada undangan dari sahabat untuk bertemu di suatu tempat yang kami bayangkan waktu itu adalah sebuah warung kopi biasa atau toko yang disulap jadi kafe.
Saya telanjur menduga ini kafe yang biasa saja, seperti kafe kebanyakan, dan di depannya ada penjual bunga.
Maklum nama kafe ini memakai kata ‘garden’.
Namun, setelah saya melangkah ke dalam beberapa langkah, ternyata taman di kafe ini memang sangat memikat.
Lukisan aneka bunga di dinding pagarnya maupun lukisan buruk merak plus daun pisang hijau superpanjang di interiornya sangat memikat.
Kafe berkonsep taman ini bernama Paopia Garden.
Lokasinya di Pango Deah, Kecamatan Ulee Kareng, bersebelahan dengan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Banda Aceh.
Suasananya sungguh menakjubkan.
Bunga-bunga yang asri, jejeran pohon-pohon rindang, dan angin sepoi-sepoi seakan menari menyambut kedatangan kami.
Ruang terbuka yang ditata rapi dengan konsep taman asri nan sejuk ini menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung.
Tak ada ruang yang tertutup rapat di sini, semua terbuka layaknya di dalam taman.
Mata memandang pun sejuk.
Berada di lokasi yang teduh dan asri ini bagaikan berada di taman tempat para ratu sedang dimanjakan oleh dayang-dayangnya.
Belum sempat berdiskusi dengan sahabat yang mengundang, setelah memesan menu kesukaan, saya mencari tahu dan memberanikan diri untuk bertemu dengan pemiliknya.
Keunikan desain dan nama tempat ini membuat saya penasaran.
Berbagai referensi saya cari teryata tempat ini memang berbeda dari yang lain.
Awalnya, saya bertemu dengan penangung jawab khusus untuk bakery bakpao dan bakpia, yaitu Ibu Ida.
Menurut ibu separuh baya ini, tempat ini dinamakan Paopia Garden karena usaha yang digeluti sang pemilik awalnya adalah produksi bakpao bakar yang diberi nama “Fun Pao” dan “Kue Bakpia”.
Kedua kue ini diproduksi oleh Bakpia Shop Koetaradja Banda Aceh.
Usah kue ini sudah dirintis sejak tahun 2018 di rumah, dengan aneka ragam rasa, seperti kacang merah, kacang hijau, cokelat, serikaya, dan keju.
Sedangkan bakpia rasanya juga sangat menggoda.
Ada rasa kacang merah, kacang hijau, pisang cokelat, cokelat, keju, dan yang menjadi produk favorit adalah ‘banana roll’.
Nah ternyata, nama kedua kue tersebutlah (bakpao dan bakpia) digabung menjadi Paopia.
Karena konsep yang diterapkan adalah taman, maka namanya pun menjadi Paopia Garden.
Kafe menarik ini diresmikan pembukaannya pada hari Minggu, 11 April 2021, oleh Wakil Wali Kota Banda Aceh, Bapak Drs Zainal Arifin.
Tempatnya penuh daya tarik, karena memiliki beberapa fasilitas seperti ‘meeting room’ terbuka, lapangan golf mini, galery UMKM untuk mendukung program pemerintah dalam rangka memasarkan produk usaha kecil dan menengah.
Juga tersedia spot foto yang instagramable (layak dan pantas dibagikan ke media sosial).
Apa yang diterangkan Bu Ida kemudian diperkuat kembali oleh owner Paopia Gaden, yaitu pasangan Teuku Muzis dan Ibu Dewi Safrida Hanum.
Ibu yang berparas cantik ini mengatakan, ada 24 karyawan yang membantu usahanya.
Mereka bekerja dengan sistem ‘shift’ atau bergantian mulai pukul 08.00-22.00 WIB pada masa pandemi, tapi kini sedikit ada perubahan jam buka, yakni sampai pukul 24.00 WIB.
Kuliner yang disajikan juga beragam.
Bagi yang suka makanan seafood, mi aceh, dan lain-lain, di sinilah tempatnya.
Aneka jus juga ada.
Bakpao bakar, bakpia, dan masih banyak menu lainnya yang tersedia di sini.
Paopia Garden yang unik ini di hampir setiap sudut dindingnya dipenuhi lukisan daun pisang jumbo berwarna hijau, kupu-kupu, merak raksasa, dan burung cendrawasih.
Menurut Bu Dewi, pelukisnya tenaga ahli khusus, tapi pekerjaan utamanya di kapal.
Dia hanya punya waktu untuk melukis di Paopia Garden saat tidak berlayar.
“Saat itulah dia melukis sesuai dengan intuisinya dan masukan dari kami,” ujar Bu Dewi.
Untuk desain tempat dan tata ruang Teuku Muzislah yang pegang kendali, meski beliau bukan insinyur arsitek, tetapi hasil karyanya patut diacungi jempol.
Penataan ruang ‘outdoor’ dengan konsep yang menarik menjadi ciri khas kafe ini.
Tempat bersantai bukan hanya di bawah pohon-pohon yang rindang tetapi tersedia juga pondok terbuka berlantai dua yang terbuat dari kayu.
Dari atasnya kita dapat menikmati hijaunya taman yang asri.
Menurut seorang pengunjung yang saya tanyai, lebih indah apabila kita duduk di malam hari, kesannya sangat istimewa.
Baca juga: Sore di Sabang Fair, Lokasi Anak Bermain Sekaligus Tempat Menikmati Kuliner
Baca juga: Halua Bluek, Kuliner Pidie yang Mirip Dodol
Restoran dan kafe yang bercorak alam ini sangat memanjakan tamu-tamunya.
Pelayanan yang ramah, sopan, dan berseragam menjadi daya tarik tersendiri.
Warna hijau adalah warna dominan yang menghiasi tempat ngopi dan makan yang nyaman ini.
Beberapa perusahaan dan instansi pemerintah sering menggunakan ruang pertemuan di kafe dan resto ini untuk meeting.
Hal yang unik, di kafe ini tidak ada alat pendingin ruangan atau AC karena semuanya terbuka, sehingga angin dengan leluasa masuk ke tempat-tempat yang tersedia di sini.
Saya tertarik mengunjungi lapangan golf mini.
Menurut pemiliknnya, awal dibuka lapangan ini lengkap peralatannya, sehingga anak-anak sangat senang bermain dan membawa pulang bola golf.
Tempat ini bukan hanya tempat menikmati kuliner yang aneka rasa, tetapi juga tempat memanjakan mata sambil menikmati taman yang asri sejuk, segar, dan nyaman.
Para wisatawan lokal, nasional, dan internasional juga diizinkan untuk mengunjungi tempat ini, walau hanya sekadar melepas lelah.
Produk kue bakpao dan bakpia yang gurih dan nikmat dari Paopia Garden ini juga telah menjadi oleh-oleh khas Aceh.
Kue ini telah dipasarkan ke beberapa kota di Indonesia, seperti Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan beberapa kota lainnya.
Walaupun ada yang sejenis di daerah lain, tapi ini beda rasanya, maka pengunjung yang pulang dari Aceh belum pas kalau belum membawa oleh-oleh khas Paopia Garden ini.
Perkembangan suatu daerah dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonominya.
Salah satu pendukungnya adalah kreativitas usaha dari masayarakat yang dapat menarik perhatian pelanggan atau konsumen.
Maka, ciri khas suatu usaha harus berbeda dari yang lain dan bukan hanya sekadar ada dan ikut-ikutan.
Usaha berkembang, pertumbuhan ekonomi meningkat, dan masyarakat sejahtera.
Itu yang terpenting.
Baca juga: Kuliner Aceh, Karya Cipta Budaya Terus Dipromosikan
Baca juga: Gulai Simpang, Kuliner Khas Simpang Kauman Pisang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah-dosen-fakutas-ekonomi-universit.jpg)