Jumat, 1 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Kisah di Balik Peluncuran Kamus Kemaritiman Aceh-Indonesia

alai Bahasa Provinsi Aceh (BBPA) meluncurkan atau me-launching Kamus Kemaritiman Bahasa Aceh-Indonesia pada Jumat, 24 Desember 2021

Tayang:
Editor: bakri
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Penyuluh Agama pada Kuakec Krueng Barona Jaya, Aceh Besar dan Pegiat Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Banda Aceh 

OLEH AMIRUDDIN (Abu Teuming), Penyuluh Agama pada Kuakec Krueng Barona Jaya, Aceh Besar dan Pegiat Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Banda Aceh

Balai Bahasa Provinsi Aceh (BBPA) meluncurkan atau me-launching Kamus Kemaritiman Bahasa Aceh-Indonesia pada Jumat, 24 Desember 2021, di Aula Dr Abdul Junaidi BBPA.

Saya beruntung, ikut hadir para acara penting ini.

Saat berada di lokasi perhelatan, sebelum sesi acara, peserta melirik beberapa buku yang dipajangan di luar ruangan, tertata rapi di atas meja, tepat di depan pintu masuk aula.

Saya, termasuk beberapa peserta lainnya, penasaran pada naskah tersebut.

Itu sebab, kami tidak langsung masuk ruangan, demi melepas penasaran atas koleksi naskah, yang terbilang langka dan menceritakan tentang Aceh.

Sesaat kemudian, peserta masuk ruang mini berkapasistas 30-an orang.

Mereka duduk santai, sambil diskusi ringan dengan kolega di samping, sembari menanti pembukaan acara.

Kepala BBPA, Karyono duduk di bagian depan, membelakangi spanduk, bak pamteri yang lumrah duduk di panggung.

Tiba-tiba ia berdiri.

Perlahan melangkah menuju tempat peserta duduk.

Baca juga: Kamus Kemaritiman Aceh-Indonesia Versi Cetak dan Daring Tuntas, Menyusul Kamus Budaya Aceh

Baca juga: Hanya 90 Mil dari Pulau Sabang, Negara Ini Bangun Pusat Maritim Pertama, Perlawanan untuk China?

Mulai di barisan depan, ia samperi satu per satu.

Menggunakan bahasa santai, ia bertanya identitas peserta, termasuk perwakilan dari instansi mana.

Tampaknya, ia ingin mengenal wajah-wajah yang kebetulan hari itu memenuhi undangan BBPA.

Saya terus memperhatikan logatnya, ia seakan ingin mengenal lebih dekat.

Gaya bicara dan bahasa tubuhnya cukup membuktikan bahwa ia amat senang dan sungguh memuliakan tamu.

Saya yang berada di ruang itu, juga dapat bagian.

Kebetulan saya sebut bahwa saya menggantikan Yarmen Dinamika.

Refleks, ia sebut, "O, Serambi Indonesia.

Bagus ada media juga.

” Tanpa memberikan kesempatan kepada saya untuk memperjelas bahwa saya aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe).

Kebetulan kehadiran saya mewakili Yarmen Dinamika atas nama Pembina FAMe, bukan sebagai jurnalis Serambi Indonesia (SI).

Tapi tak mengapa, lumayan juga dipromosi penulis sebagai wartawan SI, walaupun nyatanya bukan karena salah anggap.

Mungkin karena Karyono sangat ingin pihak SI hadir.

Memang, ia menanti senior SI, Yarmen Dinamika.

Baca juga: Tangkap Kapal Asing di Pulau Bintan, Otoritas Maritim Liberia Dukung TNI AL

Mungkin ada program penting yang ingin ia diskusikan.

Seusai mewawancarai semua peserta, pria asal Jawa Tengah ini langsung menuju panggung.

Ruangan terlihat penuh, pra tamu kehormatan telah tiba, acara pun dimulai.

Diawali bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan selawat, yang merupakan kearifan lokal pada kegiatan resmi di Aceh.

Setelah itu, Zulfahmirda, perempuan cantik asal Sumatera Utara (Sumut) berdiri di atas mimbar, menjelaskan perjuangannya menelusuri Aceh, meliputi Aceh Timur, Kota Lhokseumawe, dan Aceh Barat demi mengumpulkan kosakata bahasa Aceh terkait kemaritiman, baik ikan, kepiting, bahkan ikan asin.

Intinya, segala yang ada kaitan dengan kemaritimanlah.

Proses penelusuran kosakata sejak Maret 2021.

Per wilayah, dikirim satu tim terdiri atas tiga orang, yang diketuai oleh pemangku Jabatan Analis Kata.

Kebetulan, Zulfahmirda mengemban jabatan ini.

Itu sebab, banyak hal dan pengalaman yang ia temukan di lapangan.

Tiap wilayah ada lima responden yang terdiri atas ahli olah kuliner, nelayan, pawang laut, penjual ikan, dan orang yang terlibat dengan hal kelautan.

Tim tak hanya mengandalkan data di lapangan, juga menelisik bahan perpustakaan, agar lebih akurat, ilmiah, dan sempurna.

Saat perempuan itu berorasi dengan sejuta kisah, peserta terkesan kagum atas perjuangan tim.

Ikhtiar mereka kini berbuah hasil, menjaga khazanah Aceh dengan langkah kecil.

Rasanya, sangat pantas disebut pejuang bahasa Aceh, jempol layak untuk mereka.

Zulfahmirda mengakui, memang ada tantangan saat mengumpulkan data.

Ini pengalaman pertama yang membutuhkan konsep konkret.

Bahkan, tak semua tim inventaris kosakata mampu berbahasa Aceh.

Karenanya, mereka mendalami bahasa Aceh demi menghindari kesalahan makna, penulisan, dan pengucapan.

Intinya, misi mereka mengahdirkan kamus sebagai langkah strategis memperkaya bahasa Indonesia, dengan mengadopsi bahasa daerah seperti bahasa Aceh.

Alasannya lain menerbitkan kamus ini sebab Aceh termasuk daerah maritim, yang dikelilingi Selat Malaka dan Samudra Hindia, sehingga sangat banyak bahasa kemaritiman yang patut dikumpulkan yang kini mulai tercecer tanpa penutur.

Mereka jumpai nelayan, yang memang menggunakan kosakata Aceh dalam kehidupan sehari-hari, terutama bahasa kemaritiman.

Namun, mereka akui bahwa hal itu tidak mudah, terlebih beberapa tim tidak mampu berkomunikasi maksimal dengan bahasa Aceh, sehingga sulit memahami, bahkan sulit menulis kata dalam bahasa Aceh.

Seusai Zulfahmirda menyampaikan sambutan, kesemptan diberikan pada Kepala Bidang Pembinaan SMA dan Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan Aceh, Hamdani.

Kehadirannya sebagai tokoh pembuka acara sekaligus peluncuran kamus.

Meski terlihat lemas, karena usia, tampaknya ia amat bahagia dengan kehadiran kamus perbendaharaan bahasa Aceh ini.

Apresiasi luar biasa ia sampaikan pada berbagai pihak yang mengorbankan tenaga, pikiran, dan finansial untuk melestarikan kearifan lokal Aceh, lewat kamus ini.

Selain mendukung program tersebut, perwakilan dinas pendidikan itu metitip pesan, supaya mendorong seluruh siswa dan guru di Aceh agar aktif menulis, apa pun jenis tulisan, termasuk menulis buku dan kamus.

Ia mendambakan pemangku pendidikan di Aceh mengalakkan program menulis di sekolah.

Di hadapan audiens, ia mengaku punya mimpi besar agar bahasa Aceh tidak hilang ditelan zaman, apalagi kini pengaruh asing sangat kental yang dikhawatirkan mampu mendobrak kearifan lokal ke tepi kehancuran dan pergeseran bahasa.

Menurutnya, meskipun dialek bahasa Aceh berbeda-beda, kamus ini bisa menyamakan persepsi nantinya bagi generasi, terkait bahasa Aceh.

Setelah sambutan Hamdani, giliran Karyono naik panggung, menyampaikan informasi yang menurutnya layak dipahami publik.

Penulis mendengar, Karyono juga ikut mengomentari program ini.

Menurutnya, entri kosakata kemaritiman ini berpeluang untuk ditambah, bahkan ia memberikan ruang kepada masyarakat untuk berkontribusi, melalui pengusulan kosakata bahasa Aceh ke Kamus Kemaritiman Aceh-Indonesia versi daring.

Setelah berhasil pembumian kamus kemaritiman, ia bersama tim sudah mencanangkan kamus Aceh bidang budaya.

Poin yang akan diabadikan dalam kamus di antaranya prosesi kelahiran hingga kematian, pranata sosial, kuliner, perangkat alat masak, struktur bangunan dan sebagainya, yang intinya budaya dan adat Aceh.

Di hadapan peserta yang terdiri atas akademisi dan pegiat literasi, Karyono mengisahkan perjuangan tim, demi rampung kamus ini, baik cetak maupun daring.

Tahap yang dilalui, seperti inventarisasi kosakata, kemudian mengadakan lokakarya demi menjaring saran dan argumentasi berkelas dari segenap elemen.

Selanjutnya, masuk tahap sidang komisi bahasa daerah dan penyuntingan.

Proses ini sangat menyita waktu dan tenaga, tapi terbayarkan setelah pelucuran kamus.

Ia mengingatkan, kamus ini akan selalu diperbarui melalui versi daring.

Masyarakat juga diberi kesempatan berpartisipasi dengan cara mengusulkan kosakata terkait kemaritiman ke dalam kamus tersebut.

Semoga, doanya, dengan adanya kamus ini BBPA mampu memberi manfaat kepada masyarakat.

Intinya, berkontribusi terhadap pelestarian bahasa daerah dan pemerkayaan kosakata bahasa Indonesia.

Baca juga: Ratusan Taruna Maritim Divaksin

Baca juga: Gubernur Aceh Sambut Menko Maritim dan Investasi di Bandara SIM

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved