Opini
Spirit Ibadah dan Perubahan Iklim
Beberapa hari lalu masyarakat dunia kembali menghadapi musibah alam dengan terjadinya erupsi gunung Semeru dan banjir besar
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un.
Di tengah iklim yang tidak menentu, justru ibadah harus dilakukan semakin giat dengan memperhatikan kaidah-kaidah hukum.
Ada keringanan yang Allah berikan sebagai bagian rahmatnya, tetapi dengan tidak mengurangi esensi dari perintah Allah itu sendiri.
Islam memiliki aturan tersendiri tentang bagimaana ibadah dalam keadaan darurat.
Dari sisi agama, perubahan iklim harus disikapi secara arif, bagaimanapun muslimin tidak boleh meremehkan ibadahnya, baik ibadah kepada Allah mapun ibadah dalam hal menjaga hubungan sesama manusia, keluarga istri, dan masyarakat.
Perubahan iklim telah memantik rasa kemanusiaan antar negara, misalnya apa yang telah diberikan kaum muslim sedunia ketika menghadapi pandemi Covid-19 yang melanda, melalui sedekah antar sesama.
Ada saudara seiman yang sangat membutuhkan bantuan, tanpa peduli akan sekat-sekat dan status sosial.
Di Aceh sendiri peringatan Tsunami yang dilakukan setiap tahunnya mengindikasikan betapa responsifnya masyarakat dunia terhadap musibah ini.
Tsunami di Aceh telah menjadi contoh terbaik untuk dunia, betapa nilai kemanusiaan begitu muncul di sini.
Tidak hanya muslim, namun non muslim merasa bertanggung jawab untuk membantu, menegaskan nilai-nilai kemanusiaan.
Memberi dan peduli terhadap sesama di tengah perubahan iklim juga merupakan spirit ibadah terpenting.
Hal ini merupakan wujud implementasi dari kandungan ayat-ayat Alquran.
Manusia harus membantu satu sama lainnya sebagai makhluk sosial (zoon politicon).
Memberi adalah wujud syukur kita kepada Allah, terhadap betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia.