Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Spirit Ibadah dan Perubahan Iklim

Beberapa hari lalu masyarakat dunia kembali menghadapi musibah alam dengan terjadinya erupsi gunung Semeru dan banjir besar

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Azmi Abubakar, Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, Guru Dayah Jeumala Amal, Luengputu

Beberapa hari lalu masyarakat dunia kembali menghadapi musibah alam dengan terjadinya erupsi gunung Semeru dan banjir besar yang melanda Kuala Lumpur dan sekitarnya.

Musibah Semeru dan banjir di Malaysia tersebut semakin menyadarkan kita bahwa dunia terus menghadapi perubahan iklim dari waktu ke waktu.

Tegasnya, perubahan iklim ini telah dirasakan hamper semua lini masyarakat dunia.

Berangkat dari realita ini, para pemimpin agama secara berterusan menyerukan keprihatinannya mengenai perubahan iklim dan berbagai dampaknya.

Grand Syekh Al Azhar, Syekh Ahmad Tayeb misalnya mengingatkan bahwa berbagai bencana banjir dan naiknya suhu bumi yang menyebabkan ribuan korban jiwa jelas disebabkan oleh krisis perubahan iklim.

Syekh Azhar menyerukan tindakan serius untuk melawan krisis perubahan iklim.

Kegelisahan ini cukup beralasan karena akibat perubahan iklim telah menjadi masalah hidup yang langsung dirasakan oleh masyarakat secara meluas.

Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus menyerukan hal yang sama.

Beragam bencana alam yang terjadi di Eropa dan belahan dunia lain menjadi perhatian serius.

Dalam kesempatan peringatan Hari Bumi 2021, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 dan krisis lingkungan menjadi pengingat bahwa tidak ada lagi waktu yang memadai untuk bersikap santai dalam menghadapi krisis perubahan iklim.

Seruan para pemuka agama ini menjadi pengingat penting bahwa krisis perubahan iklim bukan lagi masalah yang berputar di meja perundingan.

Musibah kekeringan, banjir, dan bencana alam lainnya diperkirakan bisa memperbesar risiko kemiskinan dan bencana kemanusiaan secara global.

Selanjutnya, sebagai respon serius masyarakat dunia terhadap perubahan iklim ini, baru- baru ini juga telah dilaksanakan konferensi perubahan iklim (Conference on Parties/COP) ke-26 i Glasgow, Skotlandia 31 Oktober – 12 November.

COP26 ini dihadiri 197 pihak, terdiri dari para pemimpin negara, Non Government Organisation (NGO), aktivis, dan korporasi terkemuka dunia.

Baca juga: Bupati Aceh Singkil Serahkan Bansos Dampak Konflik Rumah Ibadah

Baca juga: Perbanyak Ibadah dan Intropeksi, Warga Aceh Barat Dilarang Rayakan Tahun Baru

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved