Breaking News:

Kupi Beungoh

Kegiatan Terhadap Narapidana Bukan Sekedar Mengisi Waktu

Kegiatan asesmen dilakukan dengan mempergunakan instrumen Asesmen RRI (Resiko Residivis Indonesia) dan Asesmen Kebutuhan Kriminogenik

Editor: Amirullah
ist
Lisabetha Hardiarto 

Oleh : Lisabetha Hardiarto *)

Di dalam Sepuluh Prinsip Pemasyarakatan yang dicetuskan oleh Dr. Saharjo SH pada tanggal 27 April 1964 saat Koverensi Kepenjaraan di Lembang Bandung, salah satu di antaranya adalah bahwa pekerjaan yang diberikan kepada narapidana dan anak didik tidak boleh sekedar pengisi waktu.

Artinya pekerjaan yang diberikan harus memberikan manfaat bagi dirinya, bahkan keluarga dan lingkungannya atau dengan kata lain berguna untuk kepentingan hidup dan penghidupannya.

Oleh karenanya dengan Peraturan Menteri Hukum Hak Asasi Manusia RI nomor 35 tahun 2018 tentang Revitalisasi Penyelenggaraan Pemasyarakatan, ditegaskan bahwa Lembaga Pemasyarakatan ( Lapas) harus melakukan pembinaan kepada narapidana.

Agar setelah selesai menjalankan pidananya diharapkan tidak akan mengulangi perbuatan yang melanggar hukum dan juga mendidik agar mereka memiliki ketrampilan sosial dan kewirausahaan.

Baca juga: VIRAL Kisah Selebgram Asal AS Nikahi Ruragan Hotel, Kini Bahagia Punya 22 Anak Kandung

Untuk mewujudkan agar tujuan dapat tercapai dan kegiatan yang dilakukan bukan hanya sekedar pengisi waktu, maka dalam kurun waktu 7 (tujuh) hari sejak terdaftar sebagai narapidana/klien pemasyarakatan harus sudah  dilakukan assesmen.

Kegiatan asesmen dilakukan dengan mempergunakan instrumen Asesmen RRI (Resiko Residivis Indonesia) dan Asesmen Kebutuhan Kriminogenik, yang dillakukan oleh asesor.

Yaitu petugas Pembimbing Kemasyarakatan (PK), kemudian hasil dari asesmen ini akan direkomendasikan kepada pihak Lembaga Pemasyarakatan untuk dipergunakan di dalam menentukan pola pembinaan yang diberikan.

Artinya pekerjaan/pelatihan ketrampilan yang diberikan tidak hanya sekedar pengisi waktu tetapi berdasarkan kebutuhan dari narapidana atau klien pemasyarakatan itu sendiri.

Bentuk kegiatan pembinaan dan ketrampilan yang diprogramkan harus dapat dilaksanakan dengan baik dan terjadwal, sehingga tujuan dapat tercapai dan supaya tidak ada lagi anggapan bahwa lapas merupakan sekolah tinggi kejahatan (high school criminal)  tapi menjadikan Lembaga Pemasyarakatan sebagai Lembaga Pembinaan dan Produksi.

Baca juga: Rem Blong Truk Kontainer Tabrak Belasan Kendaraan, Empat Meninggal Dunia, 1 Kritis dan 12 Luka-luka

Sedangkan bentuk dari kegiatan yang dilaksanakan adalah berupa bimbingan kepribadian dan bimbingan kemandirian.

Bimbingan kepribadian adalah  kegiatan untuk pemenuhan kebutuhan rohani seperti menjalankan ibadah berupa sholat berjemaah, pengajian, dan lain-lain.

Sedangkan bimbingan kemandirian adalah kegiatan yang mendukung kewirausahaan seperti  latihan perbengkelan, pertukangan, pengelasan, penjahitan, pembuatan roti, dan lain-lain.

Seperti pada umumnya, setiap proses kegiatan pembinaan dan ketrampilan selalu timbul permasalahan yang dihadapi.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved