Khanduri Laot, Tradisi Adat yang Masih Terjaga di Leupung
Menurut warga, kegiatan Khanduri Laot dilaksanakan satu kali dalam dua tahun, yang merupakan tradisi turun temurun yang masih terjaga hingga saat ini.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
Kuah beulangong menjadi menu andalan, di samping tumis ikan asin dan udang sabu serta acar timun yang mewarnai sajian makan siang.
“Kita di sini identik dengan daerah ikan asin, makanya kita buat (sajian) ikan asin selain daripada kuah beulangong,” ujar Ngoh Hassan.
Selain itu, sebutnya, yang membedakan Khanduri Laot dengan acara syukuran lainnya, yakni harus menyembelih kerbau.
Ditanya mengapa harus kerbau, Ngoh Hassan mengatakan karena hal tersebut sudah dilakukan oleh orang tua mereka sebelumnya.
“Kerbau pun harus yang berbulu hitam,” ucapnya.
Baca juga: Bebas dari Hukuman di Thailand, Empat Nelayan Anak Bawah Umur KM Rizky Laot Dipulangkan ke Aceh
Biaya yang dikeluarkan untuk Khanduri Laot ini bersumber dari bantuan luar dan kutipan para nelayan.
“Semua pihak terlibat, termasuk dengan muge-muge (tengkulak) dan mobil-mobil yang terkait dengan ikan dan laut juga terlibat,” kata Ngoh Hassan.
Sebab, ini merupakan hajatan bersama bagi penduduk kecamatan Leupung yang mayoritas pekerjaanya adalah nelayan.
Menurut Panglima Laok Leupung, selain makan bersama, Khanduri Laot juga diisi dengan rangkaian doa bersama dan santunan kepada anak yatim.
Baca juga: Panglima Laot Minta Perusahaan Serius Tangani Limbah Batubara di Perairan Aceh Barat
Mempererat Silaturahmi
Panglima Laot Lhok Leupung, M Hassan Is mengatakan selain bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, Khanduri Laot juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi.
“Kehadiran keluarga dan tamu undangan untuk mempereratkan silaturahmi satu sama lain,” ungkapnya.
Ngoh Hassan berharap kepada generasi muda untuk menyadari dan menjaga tradisi Khanduri Laot ini.
Khanduri Laot ini juga sekaligus memperkenalkan tradisi kepada generasi muda Kecamatan Leupung untuk menjaga dan merawat tradisi tersebut.
“Begitulah tujuan kita membuat Khanduri Laot ini, bahwa hal yang baik ini pernah dilakukan oleh orang tua kita dulu dan apa salahnya kita lakukan sekarang,” tutupnya. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)