Jurnalisme Warga
Disambut Sultan dan Sajian Kopi Dabe di Kadaton Kie Tidore
Apalagi nama Tidore telah tertabal lekat dalam ingatan saya sejak belajar sejarah tanah air di bangku sekolah
Tirai putih melingkupi kursi singgasana yang beralaskan beludu merah.
Panji-panji kesultanan mengapit di kiri dan kanan singgasana.
Di sisi ujung ruangan terdapat seperangkat meja kerja yang memajang beberapa plakat simbol kesultanan.
Di dinding terdapat pigura foto sultan yang berdaulat sekarang, Sultan Kesultanan Tidore ke-37.
Gambar beberapa sultan Tidore juga dipajang di sisi lain dinding.
Di sana juga terdapat peta wilayah Kesultanan Tidore pada era keemasannya, dan foto-foto Tidore pada masa lalu.
Baca juga: Kafilah Aceh Mulai Tampil di STQHN di Maluku Utara
Di sisi kanan singgasana, tertutup tirai putih, terdapat ambang pintu menuju bagian dalam kedaton, tempat kediaman sultan.
Menurut abdi kedaton, di bagian ruangan itu merupakan tempat sultan menjamu tamu-tamunya.
Sayap kanan ruangan menampilkan lemari pajangan dan deretan foto-foto.
Di dalam lemari terdapat baju kerajaan yang dipakai para sultan terdahulu.
Yang paling menarik perhatian saya adalah deretan pigura foto yang memperlihatkan kebesaran Tidore berabad lampau.
Ada peta nusantara dengan wilayah Tidore di dalamnya, gambar Pulau Tidore dengan siluet pulau-pulau kecil dan perahu, suratsurat, serta fragmen.
Abdi kedaton memberikan beberapa penjelasan terkait surat-surat, fragmen, dan foto-foto yang dipajang.
Ada juga peta pelayaran Juan Sebastian De Elcano dan foto monumennya yang dibuat untuk memperingati pendaratan bangsa Spanyol pertama kali di Tidore pada tanggal 8 November 1521.
Elcano merupakan pemimpin kapal Victoria dan Trinidad asal Spanyol yang berhasil menyelesaikan ekspedisi menuju kepulauan rempah-rempah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/elly-wani-aparatur-sipil-negara-pada-dinas-syariat-islam-aceh.jpg)