Jurnalisme Warga
Disambut Sultan dan Sajian Kopi Dabe di Kadaton Kie Tidore
Apalagi nama Tidore telah tertabal lekat dalam ingatan saya sejak belajar sejarah tanah air di bangku sekolah
Sultan Tidore ke-36, Sultan Djafar Sjah, membangun kembali kedaton menyerupai bentuk aslinya di atas tanah seluas 1,7 hektare pada tahun 1997.
Bangunan dua lantai itu memiliki pekarangan yang luas.
Atapnya berbentuk kerucut warna cokelat.
Dindingnya didominasi warna putih, dengan kombinasi warna hijau dan kuning pada jendela dan pintu.
Baca juga: Peneliti Australia Ungkap Kehidupan Pelaut Kuno di Maluku Utara
Baca juga: Pagi Ini Maluku Utara dan Sumbawa Diguncang Gempa
Bendera Merah Putih dan bendera kuning Kesultanan Tidore yang bergambar dua pedang bersilang, berkibar berdampingan di depan kedaton.
Ada dua tangga di kanan dan kiri untuk naik menuju teras di lantai atas.
Konon bentuk kedaton ini menyerupai kalajengking, simbol yang tergambar dalam panji kesultanan.
Di serambi teras, beberapa orang berpakaian adat duduk di atas kursi, ramah menjawab salam kami.
Seorang abdi kedaton mempersilakan kami masuk.
Dari teras lantai atas itu terhampar pemandangan indah lautan dan Pulau Halmahera di kejauhan.
Dua bendera yang bersanding di halaman menambah syahdu pemandangan.
Melangkah ke dalam kedaton, kami disambut ruangan luas yang didominasi warna putih.
Beberapa perangkat sofa berjejer di sepanjang sisi dinding ruangan.
Baca juga: Kronologi Wakil Gubernur Maluku Utara Al Yasin Ali Mengamuk, Tunjuk dan Teriaki Gubernur Abdul Gani
Kursi yang berhadapan langsung dengan singgasana, merupakan tempat sultan menerima tamu.
Singgasana sultan berlatar hijau dengan lambang kesultanan dan simbol-simbol lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/elly-wani-aparatur-sipil-negara-pada-dinas-syariat-islam-aceh.jpg)